Halaman

Rabu, 27 Juli 2011

Top 10 Lagu Galau untuk Jomblo Labil




Kali ini gw bakal ngasih buat lo semua (buat gw sendiri jg sih..) - terutama yg merasa, lagu-lagu yg cocok utk jomblo labil yg lagi galau, berikut penggalan liriknya yang dalem banget. Ini dia top 15-nya :


1. Penyakit Cinta (Ridho Rhoma)
“....Pabila dilanda rindu, sepanjang malam tak dapat tidur. 
Suara krosak, dikira dia. 
Tahu-tahu tikus mencari mangsa....”


2. Cari Jodoh (Wali)
“...Ibu-ibu, bapak-bapak, siapa yang punya anak bilang aku.
Aku yang tengah malu sama teman-temanku.
Karena cuma diriku yang tak laku-laku...”


3. Haramkah (Melly)
“....Haram, haramkah aku, bila aku terus menantinya?
Hingga waktu berakhir, bumi dan langit berantakan.
Aku tetap ingin dirinya, tak mungkin hatiku berdusta.
Hanya Tuhan yang bisa jadikan yang tak mungkin menjadi mungkin.”


4. Kumenanti Seorang Kekasih (Iwan Fals)
“Kumenanti seorang kekasih. Yang tercantik yang datang di hari ini.
Adakah dia kan selalu setia.
Bersanding hidup, penuh pesona. Harapanku..”


5. Munajat Cinta (the Rock feat.Ahmad Dhani)
“Tuhan, kirimkanlah aku kekasih yang baik hati,
yang mencintai aku apa adanya..”


6. Pacar Dunia Akhirat (Rita Sugiarto)
“..ku tak butuh cinta gaya dunia. 
Yang kucari kasih dunia akhirat.
Kalau ada, cari satu untukku. Kalau bisa, kabarkan segera..”


7. Bujangan (Rhoma Irama)
“Tapi susahnya menjadi bujangan. (trereet-suara gitarnya soneta)
Kalau malam tidurnya sendirian. (trereet)
Hanya bantal guling sebagai teman. (trereet)
Mata melotot, pikiran melayang. O..bujangan...” (terlalu..)


8. Menunggu Keajaiban (Mayangsari)
“Yang kulakukan hanyalah menunggu. 
Mungkin dirimu berubah fikiran.
Aku menunggu keajaiban, saat kau serahkan hidupmu padaku..”


9. Pria Kesepian (Sheila on 7)
“Menikmati beningnya hati, pria kesepian.
Menikmati dinginnya cinta, pria kesepian..”


10. Terbalik (Delon)
“..Hatiku kini miliknya.
Tuhan tolong, jangan jodohkan dia dengan yang lain..”


11. Menjadi Diriku (edcoustic)
“Terimalah aku seperti apa adanya. 
Aku hanya insan biasa, tak mungkin sempurna..”


12. Jomblo (Gigi)
“Semua itu mimpi, o...o..
Hanyalah bualan, o...o...
Aku tetap saja, o...tetap sendiri..” (kebanyakan o.. nya nih lagu)


13. Jomblowati (S.H.E) 
“..Lama jadi jomblowati, ditinggalmu oh kasih. Sendiri.
Pusing, pusing..” 


14. Kapan ku Punya Pacar (Serieus)
“Kapan ku punya pacar, Kapan ku punya pacar.. (dst.)” 


15. Tak Ingin Sendiri (Pance / Rully)
“Malam ini tak ingin aku sendiri.
Kucari damai bersama bayanganmu..”

Sabtu, 23 Juli 2011

Kenapa Harus English ?


Baru-baru ini adik saya yang paling bungsu naik ke kelas 3 SD. Saya melihat-lihat jadwal pelajarannya yang baru. Semuanya ditulis dalam bahasa Inggris. Semuanya, bahkan ‘Pendidikan Kewarganegaraan’ ditulis ‘Citizenship’ – kesannya jadi seperti mata kuliah anak Hubungan Internasional. Bahasa Inggris memang telah menjadi salah satu mata pelajaran wajib utama di dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Bersama matematika dan bahasa Indonesia, mereka menjadi mata pelajaran yang di-UAN-kan, mulai dari SD hingga SMA.

Saya kemudian teringat, pernah menonton di situs youtube, bagaimana group girlband asal Jepang favorit saya, Morning Musume, tengah mengikuti sebuah reality show, di mana mereka belajar bahasa Inggris. Seusai menyaksikannya, langsung saja saya memberikan comment : “Pre-school children in Indonesia are more clever then them. But why Japan is more rich? That’s ironic..” Ya, memang ironis. Jepang, Korea Selatan, dan mungkin juga Rep.China, adalah negara-negara maju dan besar di kawasan Asia, bahkan dunia. Tapi bahasa Inggris mereka bahkan tidak lebih baik daripada kebanyakan anak-anak TK di Indonesia. Tapi kenapa negara kita jauh lebih miskin? Kalau memang kita pintar berbahasa Inggris, kenapa kita masih miskin? Kalau bisa maju tanpa bisa berbahasa Inggris, kenapa kita harus belajar bahasa Inggris? Lalu, apa gunanya kita belajar bahasa Inggris?

“...Biar bingung, asal British!” kira-kira seperti itulah penggalan lirik dari salah satu lagu group band Jamrud, ‘Asal British’. Kita, orang Indonesia mungkin memang banyak yang pintar berbahasa Inggris. Tapi seringkali kita sendiri bingung bagaimana ‘mempergunakannya’. Saya sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali mendengar dari guru-guru dan dosen-dosen saya, bahwa kita akan menghadapi perdagangan bebas, dan bahasa Inggris menjadi sangat penting untuk dapat bersaing dengan para pekerja asing di berbagai industri dan perdagangan kelak.

Oke, saya ‘nangkap’ maksud semua ini. Jadi, kita harus pintar bahasa Inggris, agar dapat diterima di perusahaan-perusahaan asing, dengan gaji besar, kemudian mengabdi kepada mereka yang notabene berinvestasi untuk mengeruk kekayaan alam kita sebesar-besarnya tanpa sedikit pun menguntungkan rakyat kita sendiri? Atau dengan kata lain, berarti tujuan kita belajar bahasa Inggris adalah untuk menjadi ‘pelayan yang baik’ bagi orang-orang asing, di tanah kita sendiri? Nah, ini dia point ke-ironis-annya!

Orang-orang Jepang, Korea, dan China, saudagar-saudagar kaya Timur Tengah, juga masyarakat negara-negara Eropa yang berbahasa non-Inggris (terutama Prancis), kesemuanya bukanlah orang-orang yang berintensi untuk dapat pintar berbahasa Inggris. Karena, mereka memang merasa tidak membutuhkan itu. Mereka sadar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mandiri dengan tetap mempertahankan identitas bangsanya, tanpa harus mengemis pada negara lain. Mereka memproduksi sendiri kebutuhan mereka secara aktif dan memiliki sendiri aset-aset negara yang penting. Meski tetap terbuka pada investasi asing dan juga kerjasama antar negara (bahkan menjadikannya penting), tapi mereka tidak lantas menggantungkan diri pada itu.

Itulah masalah negara kita. Lihatlah bagaimana kita begitu getol mengirimkan TKI dan TKW ke luar negeri, dengan harapan membawa devisa sebanyak-banyaknya pada negara, bahkan sampai rela disebut sebagai ‘bangsa budak’. Mereka yang dikirim itu, seringkali tidak memiliki ketrampilan yang memadai, kecuali ya bahasa asing itu tadi. Lihat sendiri, bagaimana hasilnya. Jangankan di tingkat lapisan masyarakat bawah hingga karyawan perusahaan swasta. Bahkan pemerintah kita pun punya banyak hutang pada negara-negara barat, yang konon belum bisa lunas sampai anak cucu kita. Cukup sudah simbol ketergantungan kita pada bangsa lain.

Saya menulis ini bukan karena anti-bahasa Inggris, atau malas mempelajarinya (alhamdulillah, kemampuan bahasa Inggris saya masih di atas rata-rata orang Indonesia), atau bahkan menganggapnya tidak penting. Bahasa Inggris itu penting, sangat penting bahkan. Tapi tidak kemudian lantas menjadi pelajaran utama dalam kurikulum pendidikan Nasional. Kita hendaknya menjadikan bahasa Inggris itu selevel dengan bahasa-bahasa lainnya, yaitu dengan memberikannya hanya jika dibutuhkan. Misalnya, bahasa Inggris dijadikan setingkat dengan pelajaran sosiologi atau kimia di SMA, atau dengan kata lain menjadi pelajaran pendamping. Bagi mereka yang merasa butuh bahasa Inggris lebih dalam – untuk bekerja atau mendapat beasiswa misalnya – dipersilahkan mengikuti kursus-kursus di luar sekolah.
Tapi, semua ini hanya dapat terlaksana kalau kita sudah dapat melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bangsa barat. Sayangnya, kita nampaknya belum sampai ke level itu. Atau belum mau? 

Kamis, 21 Juli 2011

Aku yang Rendah



Mungkin aku rendah
Aku ingin menggapai buah yang tinggi
Tapi aku rendah
Ataukah hanya merasa rendah ?

Aku bisa menggapai buah itu
Karena aku tinggi
Ataukah hanya merasa rendah ?

Mungkin aku rendah
Aku bisa memakai pijakan
Tapi pijakan itu rendah
Ataukah hanya dirasa rendah ?

Tuhan Menciptakan aku tinggi
Tapi aku butuh pijakan
Aku merasa rendah

Dan buah itu ?

Sesungguhnya buah itu tidaklah tinggi
Hanya aku yang merasa rendah

Senin, 18 Juli 2011

LPI Itu Ide Saya !


Judul di atas bukan berarti saya mengklaim bahwa LPI (Liga Primer Indonesia) yang digulirkan sejak awal tahun 2011 itu adalah hasil pemikiran saya. Saya sangat yakin bahwa kompetisi itu murni idenya berasal dari bapak Arifin Panigoro dan rekan-rekannya sendiri. Maksud dari judul itu adalah bahwa saya pernah memiliki ide serupa, sekitar 12 tahun yang lalu. 

Tepatnya ketika saya duduk di bangku SMP, saya mencoba merancang-rancang sendiri sebuah kompetisi yang profesional bagi Indonesia. Waktu itu konsepnya dari ide saya itu memang sebatas menyamakannya dengan kompetisi-kompetisi yang ada di liga-liga Eropa. Tiap klub mengandalkan dananya tidak dari APBD. Formatnya adalah format kompetisi penuh tanpa pembagian wilayah untuk divisi teratasnya. Saya tidak menyangka konsorsium LPI akan merealisasikan ide saya ini bertahun kemudian. Nama-nama klub yang saya buat waktu itu pun mirip-mirip dengan klub-klub LPI sekarang. Ada Bandung FC, Jakarta FC, Tangerang City, Kediri FC, Inter Semarang, Eastar (Jakarta Timur), Manado Celtic, Minang FC, Raja Aceh FC, Malang United, dsb. (berani sumpah, ini semua saya buat jauh sebelum ada LPI, atau sekitar tahun 2000-2005). 

Ketika saya mengetik tulisan ini, PSSI baru saja memilih ketua umumnya yang baru, Djohar Arifin Husain. Bapak yang satu ini sangat erat keterkaitannya dengan kelompok 78, yang merupakan pengawal LPI. Saat ini masih belum digodok, akan seperti apakah format kompetisi Liga Indonesia untuk musim 2011/2012. Terdapat wacana menggabungkan ISL (liga super Indonesia) dengan LPI, yang tentu saja digulirkan oleh sang ketum dan jajaran pengurus PSSI yang kini didominasi oleh K-78. Namun wacana ini mendapat pertentangan dari klub-klub perserikatan, baik dari ISL maupun divisi-divisi di bawahnya, yang beranggapan bahwa tidak fair bila klub-klub LPI yang baru dibentuk, langsung berada di divisi yang lebih atas daripada klub-klub yang telah berjuang sejak lama di belantara liga Indonesia. 

Pada dasarnya saya pribadi juga tak setuju bila LPI dilebur dengan ISL. Saya juga merasa itu tidak fair, karena kasihan klub-klub perserikatan yang berada di divisi-divisi bawah, yang telah lama melalui proses yang panjang dan berliku serta tentunya penuh perjuangan dalam berkompetisi di liga Indonesia. Saya lebih setuju dengan wacana lain yang menyebutkan bahwa klub-klub LPI akan ditempatkan divisi III atau paling bawah. Namun rasanya hal ini sulit terlaksana, mengingat para pengurus PSSI tentu akan membela LPI, dan men-spesialkan mereka. Pemecatan pelatih timnas Alfred Riedl yang diketahui enggan memanggil pemain-pemain dari LPI, dan menggantinya dengan Wim Rijsbergen yang merupakan pelatih PSM di LPI, sudah mengindikasikan kecenderungan itu. 

Kalau begini caranya, apa bedanya pengurus sekarang dengan era Nurdin Halid dulu. Keduanya sama-sama mementingkan kepentingan kelompok sendiri, hanya caranya saja yang berbeda. Lantas mau dibawa ke mana sepakbola kita? Hmm..kalau seperti ini, sepertinya ‘LPI’ bikinan saya jauh lebih baik. Ide saya itu sama sekali tidak bermaksud membuat klub-klub baru, lalu langsung promosi ke divisi teratas tanpa tedeng aling-aling. Ide saya waktu itu hanyalah memprofesionalkan klub-klub Indonesia yang sudah ada alias sekedar membuat mereka nampak lebih keren. 

Ada cerita, suatu ketika teman saya meminta klub bikinannya, yang dia namakan Shadow Boys, dimasukkan ke ‘LPI’ saya (maklum, waktu itu kami masih remaja labil, jadi bercandanya masih aneh-aneh seperti anak kecil). Lalu apa yang saya katakan pada teman saya itu? “Tapi Shadow Boys mulainya dari divisi paling bawah ya, soalnya mereka kan klub baru, gak fair dong kalau langsung aku taruh di Divisi Utama,”.. Kepada para petinggi PSSI, sekedar info, yang bicara barusan itu waktu itu adalah seorang anak ingusan yang masih kelas 2 SMP. Jadi, kalau anda-anda sekalian tetap memaksa klub-klub LPI dilebur dengan ISL, berarti anda kalah sama...

Jumat, 15 Juli 2011

6 Boyband Favorit Lintas Negara


Setelah kemarin nge-profilin 6 Girlband fave gw, sekarang gw giliran mau nge-profilin 6 boyband fave gw. Lintas negara juga so pasti. 

1. M.E (Indonesia)


Gw gak bisa untuk gak naruh ini group sebagai yang nomer satu bagi gw. Boyband yang berdiri tahun 1991 dan baru ngeluarin album perdananya 5 tahun kemudian ini gak cuma ngenalin boyband ke gw, tapi juga ngenalin musik untuk pertama kalinya ke gw yg waktu itu masih anak yg agak autis. Waktu itu tahun 1998, dan gw amat sangat suka sekali banget sama lagu ‘Inikah Cinta’ yang mereka bawain. Itulah lagu pertama yang bisa gw sukain, bahkan sampai niru-niru gerakan dance-nya. Latar belakang sejarah ini nih yg membuat gw menganggap M.E di mata gw udah lebih dari legenda. Oh ya, group ini dulunya anggotanya ada 5 orang, yaitu Dani Saba, Didan, Widi, Fery, dan Irvan, dan bubar tahun 2000 (alias masa eksisnya singkat banget). 

2. F4 (Taiwan)


Kalau yg satu ini kayaknya bakalan banyak yg setuju, khususnya kaum hawa, kalo gw masukin ke dalam 6 besar boyband terbaik sepanjang masa. Sejak tampil keren di serial Meteor Garden tahun 2001, group ini langsung aja jadi populer banget di seantero Asia, dan ngehapus begitu aja hegemoni boyband-boyband Barat. Jerry Yan, Vic Zhou, Vanness Wu, dan Ken Zhu kayaknya boleh disebut sebagai artis-artis yang paling diidolai yang gak ada saingannya pas masa itu. Lagu-lagunya yg ngetop yg sekaligus juga gw demen tuh ada ‘Liu Sing Yi’, ‘Seasons of Firework’, sama lagu daur ulang ‘Cant Help Falling in Love’. Pas masing-masing personilnya pada ngeluarin album solo masing-masing di waktu yg hampir barengan, ternyata semuanya juga sukses berat. Gila nih boyband. Sayang, seiring berlalunya waktu, akhirnya F4 lama-lama hilang juga dari peredaran, dan dua albumnya yg keluar tahun 2006 dan 2007 gak begitu sukses. Tahun 2007 juga, group ini ganti nama jadi JVKV. 

3. Blue (Inggris)


Boyband yang hampir 100 % single-nya enak dan gak ngebosenin. Itulah Blue di mata..eh..telinga gw. Makanya kalau disuruh nyebutin lagu-lagu Blue yg gw GAK suka, itu pekerjaan yg susah bagi gw. Selain itu, group ini juga punya karakter kuat dan khas. Group ini dibikin tahun 2001 dan anggota-anggotanya ada Lee Ryan, Simon Webbe, Duncan James, dan Antony Costa. Sempet bubar tahun 2005 dan membernya pada bikin album solonya sendiri-sendiri (yg ‘sial’nya juga bagus-bagus), rencananya group ini bakal ngeluarin album terbaru tahun 2011 ini. 

4. Westlife (Irlandia)


Salah satu yang dianggap boyband terbaik yang pernah ada. Dah ngeluarin setidaknya ada 10-an album, dan penghargaannya juga dah banyak banget. Dulu gw juga pernah jd ‘korban’ dari kepopuleran group dari Irlandia ini, sampai beli vcd profilnya segala (agak norak kali ya?). Walaupun suka nyanyiin ulang lagu-lagu yg dah pernah ngetop sebelumnya, tapi gimana boyband ini bisa eksis dari tahun 1999 sampai sekarang tanpa putus kayaknya bolehlah dikasih jempol. Anggotanya dulunya ada 5, yaitu Shane, Mark, Bryan, Kian, sama Nicky, tapi si Bryan cabut tahun 2004 buat karir solo. Lagu-lagu mereka yg jadi favorit gw, antara lain ‘Seasons in the Sun’, ‘Uptown Girl’, ‘Unbreakable’, ‘What Makes a Man’, ‘Mandy’, dan ‘You Make me Feel’. Lumayan banyak juga emang. 

5. Boys II Men (U.S.A)


Boyband dengan suara terbaik di dunia! Gak setuju? Terserah, tapi silahkan dengarkan sendiri suara mereka dan bandingkan dengan boyband-boyband lain yang pernah ada di seluruh dunia. Dan saya yakin, anda akan setuju! Tuh, saking kagumnya, bahasa gw berubah jadi formal gitu. Mungkin karena itu juga, group Afro-Amerika ini tetep eksis dari lahir tahun 1988 sampai sekarang. Sempet berlima, tapi kemudian mereka lama berempat dengan formasi : Nathan Morris, Shawn Stockman, Wanya Morris, dan Michael McCary. McCary akhirnya keluar tahun 2003 karena sakit punggung (doi sempet pingin balik tahun 2011, tapi gak jadi). Lagu yg gw favoritkan adalah ‘a Song for Mama’. 

6. UTN1 (Irak)


Penyanyi hasil didikan guru vokal, dengan yang hasil latihan paduan suara gereja, dengan yang hasil doyan tilawah Al Qur’an, bakalan punya ciri karakter vokal dan teknik menyanyi yang beda. Inilah yang gw dapet dari UTN1 alias Unknown to No One. Ha? Irak punya boyband? Mungkin emang agak aneh kelihatannya, secara group ini juga jarang kedengeran di Indonesia. Boyband yg didiriin tahun 1999 ini selain punya suara yang indah, juga kreatif abis. Hampir semua lagu di 4 albumnya adalah bikinan mereka sendiri, dan hebatnya bisa sukses nembus pasar Internasional, termasuk ke negara-negara Eropa. Banyak media yg bilang, ini karena UTN1 bisa nunjukkin wajah Arab dan Islam yang berbeda dari yang selama ini dikirain negatif sama orang-orang Barat. Tadinya group ini punya 5 member yaitu : Akhlad Raof, Shant Garabedian, Hassan Ali, Artin Haroutiounian, dan Nadeem Hamid. Tapi Hamid keluar tahun 2009. Sekarang target mereka adalah bisa masuk ke pasar negeri Paman Sam. 

Selain nama-nama di atas, gw juga lumayan suka sama C21 (Denmark), F4 (India) – namanya emang mirip gitu, sama 2 pm (Korea Selatan)