Halaman

Jumat, 09 Desember 2011

Winter Olympic Jayawijaya 2022



Jujur, saya meneteskan air mata ketika melihat foto-foto pegunungan Jayawijaya di Google (apalagi kalau ke sana ya?). Sungguh, kurang apa lagi anugerah yang diberikan Tuhan kepada Indonesia. Kita sudah memiliki 60 % dari total spesies tumbuhan di dunia, wilayah laut terluas di dunia, cadangan minyak 9,7 juta barel, 30 % mamalia dunia, 30.000 jenis tanaman obat, terumbu karang terkaya, cadangan gas alam terbesar ke-6 di dunia, bahkan hingga salju pun ada di Indonesia yang padahal adalah negara tropis. Akan tetapi, sungguh ironis karena kita tidak mampu memanfaatkannya untuk kemakmuran kita sendiri. Semuanya habis diambil perusahaan asing dan rakyat kita sendiri malah kelaparan. Itulah yang membuat saya sangat sedih.

Mungkin saking sedihnya, hingga otak saya konslet dan terbesitlah ide gila (kalau tidak bisa dibilang ekstrim) : menyelenggarakan Winter Olympic alias Olimpiade Musim Dingin di pegunungan Jayawijaya, khususnya Puncak Jaya. Mimpi? Nggak juga. Bukannya Indonesia lagi ‘hobi’ jadi tuan rumah event-event Internasional? Daripada nungguin niat nggak jelas ala PSSI untuk jadi tuan rumah Piala Dunia, mending KONI yang ‘sedikit’ lebih jelas organisasinya bisa mencoba merealisasikan ide ini.
Mustahil? Siapa bilang? Singapura dan UEA (Uni Emirat Arab) yang lahannya terbatas bisa jadi tuan rumah berbagai macam ajang internasional, dengan membangun pulau buatan dan sebagainya. Monako, salah satu negara terkecil di dunia, menyulap jalan rayanya jadi arena balap F1. Terkait olimpiade musim dingin ini sendiri, negara-negara tropis macam Jamaika, Madagaskar, sampai negara tetangga kita seperti Thailand dan Filipina nyatanya bisa turut berpartisipasi sebagai kontingen. Sementara ini, yang kemungkinan mengajukan diri (bidding) untuk jadi tuan rumah Winter Olympic 2022 baru negara-negara dingin klasik seperti Eropa dan A.S. Siapa tahu, ketika kita ikut bidding, panitia pemilihan malah jadi tertarik dan kagum, “Winter olympic in tropical country? Wow, that’s impressive! We’re gonna see the most unique olympic ever!”

Memang, akan ada sejumlah hambatan besar tentunya, seperti yang akan saya sebutkan berikut ini. Tapi, di sisi lain sebenarnya semuanya bisa diakali.
Pertama, soal venue. Okelah, untuk cabang-cabang outdoor kita bisa gunakan gunung Carstensz Pyramid dan sekitarnya itu. Tapi bagaimana dengan cabang-cabang indoor, seperti hoki es dan figure skating? Mungkin untuk yang satu ini kita bisa mengebut pembangunan gedungnya, sebagaimana kita mengebut pembangunan sejumlah venue SEA Games di Palembang kemarin. Tapi jangan lupakan juga, untuk yang outdoor pun banyak yang mesti ditata ulang dari lokasi yang ada. Selama ini Pegunungan Jayawijaya jarang, bahkan tidak pernah digunakan untuk wisata dan olahraga es, seperti untuk ski, luge, skeleton, skating, dsb., kecuali untuk pendakian semata. Memang di sana ada Taman Nasional Lorentz, tapi lebih banyak terfokus pada ekosistem tropis yang ada di sekitar Jayawijaya dan Yahukimo.
Semua ini nantinya akan berkaitan juga dengan masalah akomodasi dan transportasi. Selama ini, setidaknya ada 2 jalur yang bisa dan biasa digunakan oleh pendaki wisata untuk menuju Carstensz. Satu adalah melalui jalur desa Ilaga, dan yang lain adalah via helikopter menuju bukit danau. Sebenarnya juga bisa lewat area Tembagapura tambang emasnya Freeport, tapi butuh perizinan ribet dan medannya juga lebih terjal dan berbahaya. Bahkan, di sana tidak dibangun kereta gantung, selain untuk keperluan pertambangan Freeport.

Kelihatan bukan, bahwa sebelum bicara soal biaya dan teknis tata ulang daerah, ada satu biang kerok yang menghambat pengatasan kedua masalah tersebut : Freeport. Panitia winter olympic Sochi (Russia) 2014 merasa paling kerepotan karena harus merelokasi warga-warga yang ada di sekitar pegunungan tersebut. Di Papua, masalahnya akan lebih rumit dari itu. Sudah sejak zaman bahula konflik rakyat Papua vs freeport terjadi, dan telah menyangkut persoalan ekonomi, keamanan, hingga politik. Maka, mau tak mau pemerintah harus menyelesaikan masalah ini jika betul-betul ingin maju ke arena host bidding. Kepada masyarakat setempat, mesti dilakukan pendekatan budaya dan ekonomi. Buang jauh pendekatan militer. Kepada pihak freeport, saya rasa dari dulu cuma satu solusinya : ambil alih! Nggak ada yang lain. Selama kita masih ‘manut’ dan membiarkan saja perusahaan asing itu mengeruk kekayaan alam tanpa memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi rakyat setempat, ini masalah nggak akan selesai. Rakyat Papua sebenarnya hanya butuh keadilan, dan demi mereka, kita tidak boleh takut pada A.S dan kawan-kawannya.

sumber gambar : wisatamelayu.com
Sepertinya pembicaraan saya mulai merembet. Tapi memang itulah masalah pokoknya. Kalau soal konflik sosial sudah selesai, maka dampak positifnya akan terasa bagi Indonesia dan rakyat Papua. Salah satunya ya soal persiapan winter olympic ini. Pendekatan budaya dan ekonomi seperti yang saya bilang, mutlak perlu diterapkan pada masyarakat setempat. Jadikan adanya event winter olympic ini sebagai lahan mencari keuntungan bagi mereka. Winter olympic adalah event kelas dunia dan akan ada ratusan tamu asing yang datang, mulai dari atlet dan ofisialnya, pejabat publik, artis, hingga turis. Inilah yang perlu ditekankan pada masyarakat, dan tentu mereka akan senang dengan peluang emas ini.
Setelah pemerintah dan warga bisa bekerjasama, tata ulang dan renovasi akan enak dilaksanakan. Soal keamanan juga menjadi lebih terjamin. Kita bisa mulai membuat akses baru menuju Carstensz Pyramid yang lebih aman dan mudah, tapi tetap menantang dan eksotik. Dalam hal ini sarana dan prasarana trasnportasi perlu ditambah. Di situ juga bisa turut dibangun penginapan-penginapan, apalagi kalau lokasinya di dekat desa tradisional, biasanya bule-bule suka yang seperti itu. Tema ‘Indigenous Tropical Winter’ sepertinya menarik untuk diangkat nih. Apalagi dengan turut memanfaatkan Taman Lorentz berikut pemandangan indahnya.
Kemudian paling pokok tentu saja pembangunan arena-arenanya. Apabila asumsinya kita terpilih pada bidding 2015 dan olimpiadenya baru akan dilaksanakan pada 2022, maka waktu 7 tahun sekiranya cukup untuk persiapan. Asumsi biaya sekitar 5,7 miliar U.S dollar juga bisa diatur jauh-jauh hari. Yang terpenting, semua lokasi ini bisa digunakan untuk jangka panjang pasca olimpiade, yaitu seterusnya menjadi tempat wisata Internasional yang menguntungkan. Menarik bukan?

Lorentz National Park
Kemudian, soal panitia lokal. Menurut saya, ini seharusnya sama sekali bukan masalah jika orang-orang kita ini kompeten, bertanggung jawab, dan cukup punya nurani. Tapi lihat yang terjadi selama SEA Games 2011 kemarin. Mana yang korupsi wisma atlet lah, isu pengaturan skor lah, panitia dibilang nggak profesional lah, penonton nggak tertib lah, aduh pusing.. Saya kira anda sendiri tahu apa sih masalahnya dan gimana cara penyelesaiannya. Sudah banyak yang membahas soal ini dan capek rasanya. Tapi, sungguh saya yakin sebenarnya dalam dada bangsa kita masih tersimpan rasa nasionalisme yang sangat tinggi. Sense itu itulah yang perlu ditembak, agar masyarakat serta panitia terpantik dan sadar, “ini adalah event dunia, nama Indonesia dipertaruhkan di sini. Jadi, saya harus bisa membuat event ini berjalan selancar dan sebersih mungkin,” Yakin! Toh, keuntungannya juga untuk kita sendiri. (kecuali kalau ada yang mau mencari keuntungan ekstra lewat ‘jalur’ lain, itu beda cerita - penyakit bangsa, ckckck)

Di samping itu, masih ada satu masalah krusial lagi. Yaitu soal salju di Jayawijaya dan Puncak Jaya itu sendiri. Diperkirakan kuantitas salju di beberapa pegunungan di dunia, seperti Himalaya, Andes, Patagonia, hingga Jayawijaya akan terus berkurang tiap tahunnya, menyusul terjadinya Global Warming. Bahkan, diprediksi akan menghilang dalam waktu beberapa tahun ke depan, sebagaimana yang sudah terjadi di Kilimanjaro. Oke, ini adalah faktor alam. Tapi, kita semua tentu sudah hafal, apa penyebab global warming itu dan siapa pelakunya. Tak lain adalah manusia sendiri. Nah, dengan demikian, si manusia itu tentu mampu untuk mengatasinya. Dalam kasus Jayawijaya ini, setidaknya bisa menekan angka penurunan lapisan es yang ada. Saya bukan ahli geologi, tapi saya yakin di Indonesia ini banyak scientist yang mampu mencari solusi atas hal ini. Bahkan di Papua sendiri sudah banyak bibit-bibit ilmuwannya, hasil didikan pak Yohanes Surya contohnya.

Jadi, kesimpulannya, selama Indonesia mampu secara mandiri dan otonom memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki, serta membentuk sumber daya manusia yang kompeten dan bermoral, sangat mudah bagi kita untuk melakukan sesuatu yang positif yang mampu membuka mata dunia Internasional. Lebih khusus, termasuk memperhatikan daerah-daerah yang sebenarnya potensial tapi selama ini kurang terakomodir atau malah terlupakan. Faktor alam yang aslinya sulit dikendalikan pun dapat kita kontrol dan optimalkan. Dan, ‘the most unique winter olympic ever’ yang dibilang si panitia bidding tadi bukan lagi sebuah impian. 

Selasa, 29 November 2011

Top 10 Lagu Daerah Kontemporer


catatan : angka 1-10 di sini TIDAK melambangkan urutan seperti deretan tangga lagu top 10 lain, melainkan hanya pelabelan semata. Karena, bagi saya, tidak ada lagu daerah yang satu lebih baik dari yang lain. All Indonesian folk songs are great! 
Hanya saja, 10 lagu ini saya anggap yang termasuk paling populer dari daerah(bahasa)-nya masing-masing :

1. Poco Poco (Manado)
sejumlah wanita dari Rep.Ceko menarikan tari Poco-poco
Balenggang pata pata
Ngana pegoyang pica pica
Ngana pebody poco poco
Cuma ngana yang kita cinta
Cuma ngana yang kita sayang
Cuma ngana suka bikin pusing

2. Do Do Daidi (Aceh)

Allah hai do do daida
Seulayang blang kaputoh talo
Beurinjang rayeuk muda seudang
Tajak bantu prang tabela nanggroe
Wahèe aneuk bek taduek lee
Beudoh saree tabela bangsa
Bek ta takot keudarah ilèe
Adak pih matee poma ka rela

3. Sajojo (Papua)
Sajojo, sajojo
Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke

Kuserai, kusaserai rai rai rai rai
Kuserai, kusaserai rai rai rai rai

Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye
Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye



4. Talak Tilu (Sunda)
Sule OVJ menyanyikan 'Talak Tilu'
Nyeri,nyeri,nyeri moal benang di ubaran
Kajen tutumpuran paeh ge teu panasaran
Najan ngora keneh
Najan urang kes batian
Duh aing serahkeun
Aing maneh kawin deui

5. Stasiun Balapan (Jawa)
Video Klip Didi Kempot 'Stasiun Balapan'
Ning stasiun balapan
Kuto solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu
Janji lungo mung sedelo
Jare sewulan ra ono
Pamitmu naliko semono
Ning stasiun balapan solo

6. Enggo Lari (Maluku)
Igo membawakan 'Enggo Lari' di ajang Indonesian Idol
Jaga jaga enggo polo rapat enggo
Jaga jangan sampai beta enggo
Awas kalo enggo beta dapat
Beta polo rapat rapat


7. Juru Pencar (Bali)

Juru pencar, ye juru pencar
Mai jalan mencar ngejuk be
Be gede gede
Di sowane ajake liu

8. Sai An Ju Ma Au (Batak)

Molo adong na salah 
Manang na hurang pambaenakki
Sai anju ma au
Sai anju ma au, ito hasian
Sai anju ma au
Sai anju ma au, ito nalagu

9. Jaso Mandeh (Minang)
Jaso mandeh indak ka tabaleh
Bia babungkah perak jo ameh
Jaso mandeh indak ka tabaleh
Bia babungkah perak jo ameh


10. Ma’inang (Dayak)

Kupas-kupas ma’ inang kelapa muda 
ma’ inang kelapa muda
Kelapa tua ma’ inang dalam perahu 
ma’ inang dalam perahu
Puas-puas ma’ inang badan gi’ muda’
ma’ inang badan gi’ muda
Badan dah tua ma’ inang siapa tau 
ma’ inang siapa tau



Senin, 28 November 2011

Pria Uberseksual, karena Aku bukan Mereka


“Nama saya Johan Satria Putra. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk melamar anak bapak. Saya alhamdulillah berasal dari keluarga baik-baik, orang tua saya juga bukan orang yang kekurangan. Saya sendiri saat ini telah bekerja di sebuah perusahaan swasta. InsyaAllah saya adalah tipe orang yang setia dan bisa menjaga serta melindungi anak bapak,”
Apakah itu cukup untuk melamar seorang gadis? Kalau ke calon mertua, mungkin iya. Tapi, bagaimana mau ke camer kalau si ceweknya sendiri aja udah gak mau?!
Kalimat di atas hanya fiktif belaka, karena saya sendiri belum pernah melamar siapapun. Namun, seperti yang saya bilang, karakter yang kita punya seperti yang disebutkan dalam kalimat tersebut, pada era ini sudah tidak begitu menarik lagi. Anda tidak berada di tahun 1990-an. Anda berada di era baru, eranya pria uberseksual. Dan anda harus menjadi mereka bila ingin ‘laku’. 
Bukan, ini bukan bualan. Lantas, apa itu uberseksual?

Istilah ‘uber’ berasal dari bahasa Jerman yang berarti ‘unggul’ atau ‘superior’. Macmillan English Dictionary mendefinisikan ‘uberseksual’ sebagai “a heterosexual man who is both confodent and compassionate and has a strong interest in good causes and principles.” Sementara Marian Salzman membatasi pria uberseksual pada mereka yang menggunakan aspek positif maskulinitas seperti kepedulian, kepemimpinan, serta terutama kepercayaan diri. Dengan kata lain, mereka peduli pada lingkungan, banyak memperkaya ilmu dan wawasan, memiliki prinsip, serta banyak mengikuti perkembangan sosial. 
Beberapa sumber menyebutkan ciri-ciri menonjol dari pria ini adalah memiliki rasa percaya diri yang kuat, cerdas, tanpa kompromi, dinamis, maskulin, atraktif, stylish, serta berkomitmen kuat untuk memiliki hal yang berkualitas dalam segala bidang kehidupan. Sementara sumber lain menyebutkan ciri-ciri uberseksual adalah sebagai berikut :
1. Mengikuti perkembangan dunia sosial politik terbaru.
2. Merawat wajah seperlunya, yang penting terlihat bersih.
3. Respek terhadap wanita, namun tetap memilih lelaki sebagai sahabat mereka.
4. Berolah raga untuk menjaga kesehatan. tubuh yang bagus dianggap sebagai bonus dari usahanya ini.
5. Peduli pada mereka yang membutuhkan.
6. Terlihat lebih sensual ketimbang seksi, tanpa perlu berusaha terlalu keras.
7. Mendapat pengetahuan seputar desain dan seni dari pengalaman traveling.
8. Memilih acara charity sebagai social event yang suka dihadirinya.
Sempurna? Tidak harus juga. Intinya, yang penting dia menarik dan berkualitas.
(Sumber : www.anakui.com, www.mediaindonesia.com, kampungtki.com)

Saya memiliki banyak teman, bahkan teman dekat yang seperti itu. Dari berbagai bidang pula. Ada yang dia adalah seorang peneliti yang walau agak kaku tapi jenius. Ada beberapa yang entrepreneur muda, yang smart dan inovatif. Ada juga beberapa yang sebenarnya biasa saja, tapi mereka adalah lelaki yang struggle, berjuang untuk keluarganya, dan tentu saja mandiri. Kemudian ada juga yang bermodalkan cara berkomunikasi yang sangat lihai dan memikat. Sementara yang lain adalah para ‘bad boy’, namun perhatian, jantan, dan berjiwa sosial tinggi. 
Seperit kata Raju dan Farhat dalam film ‘3 idiots’ tentang teman mereka, si jenius Rancho, bahwa memiliki sahabat yang jauh lebih hebat dari kita akan memberikan kita rasa bahagia dan sedih sekaligus. Bahagia, karena teman kita berhasil dalam apa yang diusahakannya. Sedih, karena kita jadi nampak sangat bodoh. Mungkin itulah yang saya rasakan selama ini. Dalam teori perbandingan sosial, apabila kita membandingkan diri kita dengan orang yang lebih superior, maka dapat menurunkan self esteem kita. Dengan kata lain, kita jadi memandang rendah diri kita sendiri, alias minder.

komunitas TDA (tangan di atas), calon-calon entrepreneur muda yg sukses
Apalagi, bila kasus ini kemudian dikaitkan juga dengan bagaimana menarik lawan jenis. Teman-teman yang saya sebutkan tadi, hampir semua di antara mereka telah memiliki pasangan, entah pacar ataupun istri. Banyak juga yang ‘nge-fans’ terhadap mereka. Sedangkan saya? Sebagaimana pernah saya curhat dalam artikel terdahulu, ‘Kegalauan Seperempat Abad’, saya belum pernah merasakan yang namanya disukai oleh seorang wanita. Inilah yang membuat saya galau sebagai seseorang yang bukan uberseksual.
Kepribadian saya sama sekali tidak semenarik mereka. Sangat jauh. Saya tidak memiliki bakat wirausaha. Bukan seorang akademisi yang jenius. Paling fatal, bukan pemuda yang mandiri. So, apa yang membuat saya bisa disebut sebagai uberseksual? Dan kalau sudah begitu, apa yang bisa membuat saya dapat menarik lawan jenis? Bukannya saya pesimis ataupun tidak bersyukur. Saya tahu, banyak pria yang juga bukan uberseksual, tapi nyatanya dapat menikah. Hingga sampailah saya kini pada satu pertanyaan : Apakah saya ingin menjadi uberseksual agar dapat menarik lawan jenis? Memang itukah fungsi dan tujuan bagi teman-teman saya tadi untuk menjadi uberseksual? Sepertinya, saya telah menyimpangkan makna dari uberseksual ini sendiri, hanya gara-gara rasa minder terhadap wanita. Lagi-lagi, saya telah salah kaprah. Menjadi apapun itu, mengerjakan apapun itu, jalani saja dan niatkan semata untuk Yang di atas. Setiap manusia telah ada jodohnya masing-masing, dan Tuhan tidak Mengkotak-kotakkan berdasar uberseksual atau tidak, dalam menentukannya. 

Minggu, 27 November 2011

6 Raja Media di Indonesia


Pada era pasca reformasi ini, kebebasan pers makin luas dan kekuatan media sebagai pengontrol opini masyarakat pun turut berkembang. Apalagi semakin didukung oleh pesatnya teknologi informasi, menjadikan masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan untuk mencari ataupun memperoleh informasi. Fenomena ini membuat siapapun yang mampu menguasai media informasi akan memiliki power yang besar untuk menguasai serta mengarahkan cara pandang masyarakat luas. Sehingga tak heran jika kekuasaan media kini bahkan boleh dibilang lebih kuat dari pemerintah ataupun hukum sekalipun. Berikut ini di antaranya tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan tersebut :

1. Hary Tanoesudibjo
Kepiawaian Hary dalam berbisnis telah terlihat sejak dia masih duduk di bangku kuliah di Toronto, Kanada. Di sana, dia kerap bermain di bursa saham dan berkenalan dengan banyak investor handal. Sepulang ke Indonesia, dengan meminjam modal dari sang ayah, Hary mendirikan PT Bhakti Investama di Surabaya. Pria kelahiran 26 September 1965 ini kemudian banyak terlibat dalam kegiatan investment banking, serta aksi merger dan akuisisi. Perusahaan-perusahaan yang bermasalah diambil alihnya, kemudian diperbaiki dan dijual kembali. Hary juga pintar dalam membaca peluang serta mencari sumber dana. Aksi akuisisinya tidak dilakukan dengan modal sendiri, melainkan dengan cara mencari dana dari publik melalui konsorsium ataupun penawaran saham. Tahun 2002, Hary bergabung dengan Bimantara Citra atau Global Mediacom dan kemudian menjadi presiden direkturnya (Group Executive Chairman) hingga sekarang. Global Mediacom sendiri kemudian menguasai saham dari PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC), yang membawahi 3 stasiun tv : RCTI, TPI (kini MNCtv), dan Global TV. Hary pun lantas menjadi Direktur Utama dan CEO PT tersebut sampai saat ini. Selain 3 stasiun tv itu, MNC juga memiliki PT Media Nusantara Informasi yang antara lain meliuputi Harian Seputar Indonesia, Tabloid Gennie, Mom & Kiddie, dan Realita. Kemudian dibangunnya pula rumah produksi SinemArt dan MD Entertainment, hingga situs online Okezone.com. Di samping itu, Hary juga menjabat sebagai komisaris Indovision. 

2. Jacob Oetama
Tidak seperti 5 tokoh lain yang saya profilkan di sini, Dr. (HC) Jacob Oetama tergolong low profile dan jarang diekspos. Padahal, dia adalah penguasa dari Kompas Gramedia Group yang membawahi sejumlah media massa terkemuka di Indonesia, seperti harian Kompas, tabloid BOLA, tabloid Nova, majalah Bobo, majalah National Geographic, hingga majalah Hai, Chip, HotGame, Otomotif, dan tentu saja toko buku Gramedia, berikut penerbitan Elex Media Komputindo. Jacob Oetama lahir di Magelang, 27 September 1931. Karir jurnalistiknya dimulai ketika menjadi redaktur mingguan Penabur pada tahun 1956. Lulusan jurusan Publisistik Fisipol UGM ini kemudian mendirikan majalah intisari tahun 1963 bersama P.K Ojong. Bersama P.K Ojong pula, pada tanggal 28 Juni 1965 Jacob mendirikan harian Kompas. Pada era 1980-an, Kompas Gramedia berkembang pesat, hingga akhirnya mampu mendirikan sejumlah anak perusahaan seperti yang telah saya sebutkan tadi. Selain menjadi presiden direktur KG Group, Jacob saat ini juga menjabat sebagai penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN. 

3. Dahlan Iskan
Pria kelahiran Magetan Jawa Timur tahun 1951 ini saat ini tengah naik daun, setelah berturut ditunjuk sebagai direktur PLN, dan kemudian kini menjabat sebagai menteri BUMN Kabinet Indonesia Bersatu II. Gaya khasnya yang suka memakai sepatu kets ke manapun, tampil apa adanya, dan doyan bicara blak-blakan membuat makin banyak orang yang mengidolainya. Sebelum menjadi dirut PLN, Dahlan adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network. Karir jurnalisnya dimulai ketika menjadi calon reporter di sebuah surat kabar kecil di Samarinda, pada tahun 1975. Tahun 1976 dia pindah bergabung menjadi wartawan di majalah Tempo. Tahun 1982, Dahlan Iskan mulai memimpin surat kabar Jawa Pos. Harian yang waktu itu hampir mati karena hanya beroplah 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun dibuatnya menjadi surat kabar beroplah 300.000 eksemplar. Lima tahun berselang, Jawa Pos News Network (JPNN) dibentuk dan menjadi salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di seluruh Indonesia. Tahun 2002, Dahlan mendirikan stasiun tv lokal JTV di Surabaya, diikuti Batam tv di Batam dan Riau tv di Pekanbaru. 

4. Surya Paloh
Surya Paloh telah terbiasa berbisnis sejak masih remaja di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Sembari bersekolah, dia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dan lain-lain. Menginjak SMA, dia bekerja menjadi manajer sebuah Travel Biro. Setamat SMA, sambil berkuliah di Fakultas Hukum USU (Universitas Sumatra Utara), Surya juga dipercaya mengelola sebuah wisma pariwisata. Pada saat yang bersamaan, Surya juga dipercaya menjadi direktur utama sebuah PT distributor mobil Ford dan Volkswagen di Medan. Kemudian pada 1975 ditunjuk pula menjadi kuasa usaha hotel Ika Darroy Aceh. Pria kelahiran Aceh 16 Juli 1951 ini kemudian merantau ke Jakarta pada 1977 untuk mulai berbisnis di sana, dan juga menjadi lone ranger pejuang kemerdekaan dan kebebasan pers. Sejak saat itu pula dia mulai terjun ke dunia publishing, antara lain dengan memimpin surat kabar Prioritas. Tahun 1987, Teuku Yousli Syah selaku pendiri surat kabar Media Indonesia menggandeng Surya untuk memimpin surat kabar tersebut dan membentuk manajemen baru di bawah PT Citra Media Nusa Permana. Surya Paloh semakin mengembangkan bisnis medianya itu dengan membentuk Media Group, termasuk di dalamnya mendirikan stasiun tv Metro TV pada 25 Oktober 1999, yang merupakan stasiun tv berita pertama di Indonesia. Selain bisnis, Surya juga aktif di dunia politik, termasuk mendirikan partai baru Nasional Demokrat. 

5. Chairul Tanjung
Berdasarkan berita terbaru, nama Chairul Tanjung melejit menjadi orang terkaya nomor 11 di Indonesia versi forbes tahun 2011 ini, mengalahkan Aburizal Bakrie dan Ciputra. Chairul Tanjung adalah bos PT Trans Corporation yang membawahi dua stasiun tv populer, Trans TV dan Trans 7. Chairul yang lahir di Jakarta, 16 Juni 1962 mulai berbisnis ketika kuliah di jurusan Kedokteran Gigi UI. Saat itu ia berbisnis kecil-kecilan dengan berdagang buku kuliah, kaos, serta membuka usaha fotokopi di kampusnya. Dia juga sempat membuka toko alat-alat kedokteran dan laboratorium di daerah Senen, tapi usaha itu bangkrut. Kegagalan itu memberinya pelajaran, hingga ketika lulus kuliah, Chairul sempat mendirikan PT Pariarti Sindhutama bersama 3 rekannya, yang usahanya memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Usaha ini terbilang sukses, hingga ia melebarkan bisnisnya ke industri genting, sandal, dan properti. Perbedaan visi kemudian membuat 2 rekan Chairul mengundurkan diri, dan dia harus menjalankan bisnisnya sendiri. Chairul kemudian mengakuisisi sebuah bank yang nyaris pailit, Bank Tugu. Chairul yang pernah belajar dari kegagalan, mampu mengubah bank tersebut kini menjadi Bank Mega yang memiliki omset di atas Rp 1 triliun. Bisnis Chairul makin meluas kebidang properti, keuangan, dan multimedia, hingga dia kemudian mendirikan Para Group. Melalui Para Group, Chairul mulai merambah bisnis hiburan dengan mendirikan Trans TV. Dia lalu membentuk anak perusahaan PT Trans Corp dengan tujuan mengambil alih TV7 yang menjadi milik Kompas Gramedia, untuk dihubungkan dengan Trans TV. 

6. Anindya Bakrie
Anindya Bakrie, atau biasa dipanggil Anin, adalah putra sulung dari pengusaha terkemuka sekaligus politikus, Aburizal Bakrie. Pria muda kelahiran 10 November 1974 ini adalah presiden direktur dari Bakrie Telecom dan Visi Media Asia, yang mengelola stasiun tv ANTV dan TV One serta media online Vivanews.com. Berada dalam keluarga pebisnis, membuat Anin telah terlatih sejak usia muda. Ketika masuk ke ANTV pada 2002, stasiun tv tersebut nyaris bangkrut karena lilitan hutang. Hanya dalam waktu 2 tahun, Anin mampu merestrukturisasinya dan menjadikan utangnya menjadi 0. Begitu pula saat mengambil alih Lativi yang juga hampir bangkrut pada 2007, Anin kemudian mengubahnya menjadi TV One yang akhirnya berkembang pesat menjadi salah satu stasiun tv berita terbaik di Indonesia. Kemudian pada 2008, Anin mendirikan bisnis news media online dengan nama Vivanews.com. 

Kamis, 10 November 2011

Pahlawan Harian


Saya sangat salut, bahkan amat sangat iri terhadap mereka yang terjun ke berbagai bencana alam yang terjadi entah di mana pun itu, apalagi di Indonesia. Saya begitu menaruh simpati yang tinggi kepada para relawan yang mengorbankan diri mereka, waktu, harta, bahkan nyawa mereka untuk menolong para korban. Sungguh, dalam hati kecil saya yang paling dalam, saya sangat ingin menjadi seperti mereka. Mereka adalah orang-orang yang saya yakini akan mendapat tempat yang layak kelak di surgaNya Allah, selama mereka ikhlas. Dan karena itu saya selalu ingin seperti mereka.

'Berbagi Senyum untuk Merapi' (senyum community)
Tapi apa daya, saya orang yang cenderung lemah fisik dan kadang penakut, jadi kurang dapat terjun terlalu banyak di lapangan. Pada saat gempa Bantul 2006 dan erupsi Merapi 2010 yang lalu, saya baru terjun di saat bencana usai, dan lebih banyak menangani trauma pasca bencana. Saya merasa itu masih kurang, amat sangat kurang. Teman-teman saya banyak yang terlibat sejak awal, apalagi pada bencana merapi kemarin, di mana  banyak yang menginap lama bersama dengan para pengungsi untuk membantu mereka. Hingga kini, saya selalu menyesal tiap kali mengingat bahwa saya tidak berbuat banyak untuk mereka para korban bencana alam.

Akan tetapi, saya kemudian tersadar. Saya tidak perlu terlalu menyesal juga. Oke, merasa bersalah karena tidak bisa menolong itu baik. Namun, menjadi tidak bagus juga apabila kemudian melupakan satu hal : Menolong tidak harus hanya pada saat terjadi bencana. Kita tengok bagaimana kondisi korban tsunami Aceh, gempa Bantul dan Padang, kemudian korban Merapi. Hingga saat ini masih banyak korban tsunami Aceh dan Bantul yang masih tinggal di barak-barak dan belum bisa dikatakan betul-betul pulih kehidupannya. Pada saat masa-masa awal hari H dan pasca bencana Merapi, bantuan terus mengalir bagai sungai abadi, bahkan hingga banyak yang mubadzir saking banyaknya. Tapi bagaimana setelah itu? 

Teman saya kemudian mengingatkan saya, bahwa yang terpenting dalam menolong korban bencana alam tidak hanya pada saat masa tanggap darurat hingga recovery. Kuantitas relawan dan bantuan logistik pada saat itu akan banyak sekali, dan para korban sendiri mungkin akan merasa ‘too much’. Menurut rekan-rekan saya, penanganan setelah itu menjadi penting lantaran sudah banyak relawan yang meninggalkan area pengungsi, karena memang tugasnya sudah selesai atau sebab lainnya. Dengan kata lain, yang lebih penting dalam mengatasi situasi pasca bencana terletak pada efektifitas manajemen penanganan bencana tersebut. 

Tidak perlu susah-susah, kita lihat saja bagaimana di sekitar kita masih banyak orang-orang yang bukan korban bencana alam, tapi sungguh mereka membutuhkan bantuan. Banyak orang miskin yang tidak mampu menyekolahkan anaknya dan tidak mampu berobat ketika mereka sakit keras. Banyak anak jalanan, di mana sebenarnya yang mereka butuhkan agar tidak ke jalanan hanyalah sebuah perhatian. Sekali lagi, sebuah perhatian. Banyak orang-orang jompo dan veteran di panti wredha, yang mereka seringkali berpikir bahwa mereka sudah tidak berdaya dan tidak lagi ‘dianggap’ oleh orang-orang sekelilingnya. Sekali lagi, mereka butuh perhatian. Dan tak terhitung jumlahnya anak-anak dhuafa, yatim, atau berkebutuhan khusus yang, lagi-lagi, hanya butuh perhatian dari kita. 

'Berbagi Senyum di Panti Asuhan' (senyum community)
Jadi, tidak perlu bersedih hati ketika kita tidak bisa atau tidak sempat menjadi ‘pahlawan insidental’ yang muncul di saat terjadi bencana alam. Jumlah pahlawan semacam itu otomatis akan melesat begitu terjadi bencana, dan tanpa perlu kita paksa-paksa, mereka akan bergerak dengan sendirinya ibarat ‘flash-mob dance’. Yang dibutuhkan Indonesia justru adalah ‘pahlawan-pahlawan harian’, pahlawan-pahlawan yang tidak hanya muncul di saat terjadi bencana thok, melainkan juga dalam kehidupan sosial sehari-hari. Bahkan, tidak harus memiliki uang yang melimpah ataupun nyali yang tak terbatas untuk dapat menjadi pahlawan jenis ini. Kita dapat memberikan bantuan dalam bentuk apapun, kapanpun, di manapun. Misalnya dengan memanfaatkan ilmu yang kita miliki, dengan mengadakan kegiatan rutin yang dapat memacu potensi yang dimiliki anak-anak dhuafa, anak jalanan, atau anak yatim, sehingga mereka dapat berkembang. Yes! Semoga saya bisa seperti itu. 
Bila anda juga ingin menjadi salah satu ‘pahlawan harian’ itu, maka saya sarankan anda untuk bergabung bersama kami di Senyum Community (hehehe, sekalian promosi boleh dong...).


Oh ya, satu lagi hal yang sangat penting : "Pahlawan bukanlah gelar, melainkan sikap," (@SenyumKita)