Halaman

Senin, 16 Mei 2011

Cinta tak Mengenal Kompetensi

Aku mengakuinya, kalau aku mungkin memiliki penyakit minder yang kronis (viewer : “maaf mas, ini sama kayak artikel satunya”). Oh, sorry, oke aku ganti... Aku sering banget ngerasa punya penyakit minder yang laten. Tiap kali suka sama cewek, aku selalu mundur. Aku gak berani mendekati. Karena, aku takut dia nggak mau. Ya iyalah. Mana mau cewek sama cowok yang gak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, macam aku ini. Udah lemah, gak dewasa, masa depan gak prospek, perfect deh pokoknya. Apalagi kalau tuh cewek dah punya cowok yang jauh lebih baik dari aku dalam banyak hal. Atau, cewek itu sendiri yang lebih hebat dari aku. Dan pada akhirnya, jadilah aku kehilangan seorang wanita yang paling aku cintai (yang bagiku dan banyak orang, dia seorang wanita yang hebat). 

Tapi, terus aku jadi berpikir. Emang bener ya kalau aku berpikiran seperti itu? Bukannya itu nampak bodoh banget. Masa’ sih, gak bakal ada yang mau sama aku. Sekarang gini : gimana kalau ada yang mau sama aku, tapi orangnya gak sesuai kriteriaku? Yang jelas, aku nggak menerimanya.. Lho? Kalau emang aku ini ngerasa minder, kenapa aku nolak cewek itu? Kan aneh. Berarti, aku gak minder dong? Apa sih sebenarnya yang ada di pikiranku? 

Ada sebuah perumpamaan. Kalau ada cewek yang aku sukai, tapi aku ngerasa minder, aku akan bilang, “Bukanku menolakmu untuk mencintaiku, tetapi lihat dulu siapakah diriku. Kau orang hebat, aku orang yang payah..(alah, malah nyanyi),” Kalau ada cewek yang suka sama aku, tapi bukan tipeku, akan bilang, “Sorry, sorry, sorry, sorry, naega, naega, meonjeo, sorry, sorry, naega, michyeo, baby..(eh, salah lagu),” pokoknya intinya aku akan bilang kalau aku bukan yang terbaik baginya.. Lho? Koq pernyataannya berbeda? Nah! Di sinilah letak kesalahan cara berfikirku. 

Jadi, harusnya aku menjawab dengan jawaban yang sama : “Karena aku bukan yang terbaik bagimu dan kamu bukan yang terbaik bagiku,” Ya. Gak seharusnya kompetensi diri aku jadiin sebagai patokan buat nyari jodoh. Karena apa? Karena cinta sesungguhnya tidak mengenal kompetensi. Dah banyak buanget fakta orang biasa-biasa saja nikah dengan seorang bintang. Banyak orang, maaf, yang fisiknya gak sempurna, nikah dengan orang yang fisiknya begitu cantik atau ganteng. Banyak orang yang pendidikannya tinggi nikah dengan yang di bawahnya. Kalau cinta mengenal kompetensi, mengapa semua itu bisa terjadi. 

Cinta emang gak kenal sama yang namanya kecerdasan, kekayaan, IQ, ketangguhan, kedewasaan, atau apapun itu yang suka sekali dibanding-bandingkan sama manusia antar sesamanya. Cinta cuma kenal sama yang namanya ketulusan hati, kesetiaan, dan apa yang telah digariskan sama Yang Di Atas. So, ngapain aku masih ngerasa minder? Sebaliknya, ngapain juga aku harus ngerasa sombong? Cari aja yang sebaik mungkin bagimu, usaha sampai poll, minta sama Tuhan, dan selanjutnya serahkan aja sama Dia. Bakal dikasih yang terbaik koq. Dan baik atau enggak, gak tergantung sama kompetensi ;) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar