Halaman

Kamis, 10 November 2011

Pahlawan Harian


Saya sangat salut, bahkan amat sangat iri terhadap mereka yang terjun ke berbagai bencana alam yang terjadi entah di mana pun itu, apalagi di Indonesia. Saya begitu menaruh simpati yang tinggi kepada para relawan yang mengorbankan diri mereka, waktu, harta, bahkan nyawa mereka untuk menolong para korban. Sungguh, dalam hati kecil saya yang paling dalam, saya sangat ingin menjadi seperti mereka. Mereka adalah orang-orang yang saya yakini akan mendapat tempat yang layak kelak di surgaNya Allah, selama mereka ikhlas. Dan karena itu saya selalu ingin seperti mereka.

'Berbagi Senyum untuk Merapi' (senyum community)
Tapi apa daya, saya orang yang cenderung lemah fisik dan kadang penakut, jadi kurang dapat terjun terlalu banyak di lapangan. Pada saat gempa Bantul 2006 dan erupsi Merapi 2010 yang lalu, saya baru terjun di saat bencana usai, dan lebih banyak menangani trauma pasca bencana. Saya merasa itu masih kurang, amat sangat kurang. Teman-teman saya banyak yang terlibat sejak awal, apalagi pada bencana merapi kemarin, di mana  banyak yang menginap lama bersama dengan para pengungsi untuk membantu mereka. Hingga kini, saya selalu menyesal tiap kali mengingat bahwa saya tidak berbuat banyak untuk mereka para korban bencana alam.

Akan tetapi, saya kemudian tersadar. Saya tidak perlu terlalu menyesal juga. Oke, merasa bersalah karena tidak bisa menolong itu baik. Namun, menjadi tidak bagus juga apabila kemudian melupakan satu hal : Menolong tidak harus hanya pada saat terjadi bencana. Kita tengok bagaimana kondisi korban tsunami Aceh, gempa Bantul dan Padang, kemudian korban Merapi. Hingga saat ini masih banyak korban tsunami Aceh dan Bantul yang masih tinggal di barak-barak dan belum bisa dikatakan betul-betul pulih kehidupannya. Pada saat masa-masa awal hari H dan pasca bencana Merapi, bantuan terus mengalir bagai sungai abadi, bahkan hingga banyak yang mubadzir saking banyaknya. Tapi bagaimana setelah itu? 

Teman saya kemudian mengingatkan saya, bahwa yang terpenting dalam menolong korban bencana alam tidak hanya pada saat masa tanggap darurat hingga recovery. Kuantitas relawan dan bantuan logistik pada saat itu akan banyak sekali, dan para korban sendiri mungkin akan merasa ‘too much’. Menurut rekan-rekan saya, penanganan setelah itu menjadi penting lantaran sudah banyak relawan yang meninggalkan area pengungsi, karena memang tugasnya sudah selesai atau sebab lainnya. Dengan kata lain, yang lebih penting dalam mengatasi situasi pasca bencana terletak pada efektifitas manajemen penanganan bencana tersebut. 

Tidak perlu susah-susah, kita lihat saja bagaimana di sekitar kita masih banyak orang-orang yang bukan korban bencana alam, tapi sungguh mereka membutuhkan bantuan. Banyak orang miskin yang tidak mampu menyekolahkan anaknya dan tidak mampu berobat ketika mereka sakit keras. Banyak anak jalanan, di mana sebenarnya yang mereka butuhkan agar tidak ke jalanan hanyalah sebuah perhatian. Sekali lagi, sebuah perhatian. Banyak orang-orang jompo dan veteran di panti wredha, yang mereka seringkali berpikir bahwa mereka sudah tidak berdaya dan tidak lagi ‘dianggap’ oleh orang-orang sekelilingnya. Sekali lagi, mereka butuh perhatian. Dan tak terhitung jumlahnya anak-anak dhuafa, yatim, atau berkebutuhan khusus yang, lagi-lagi, hanya butuh perhatian dari kita. 

'Berbagi Senyum di Panti Asuhan' (senyum community)
Jadi, tidak perlu bersedih hati ketika kita tidak bisa atau tidak sempat menjadi ‘pahlawan insidental’ yang muncul di saat terjadi bencana alam. Jumlah pahlawan semacam itu otomatis akan melesat begitu terjadi bencana, dan tanpa perlu kita paksa-paksa, mereka akan bergerak dengan sendirinya ibarat ‘flash-mob dance’. Yang dibutuhkan Indonesia justru adalah ‘pahlawan-pahlawan harian’, pahlawan-pahlawan yang tidak hanya muncul di saat terjadi bencana thok, melainkan juga dalam kehidupan sosial sehari-hari. Bahkan, tidak harus memiliki uang yang melimpah ataupun nyali yang tak terbatas untuk dapat menjadi pahlawan jenis ini. Kita dapat memberikan bantuan dalam bentuk apapun, kapanpun, di manapun. Misalnya dengan memanfaatkan ilmu yang kita miliki, dengan mengadakan kegiatan rutin yang dapat memacu potensi yang dimiliki anak-anak dhuafa, anak jalanan, atau anak yatim, sehingga mereka dapat berkembang. Yes! Semoga saya bisa seperti itu. 
Bila anda juga ingin menjadi salah satu ‘pahlawan harian’ itu, maka saya sarankan anda untuk bergabung bersama kami di Senyum Community (hehehe, sekalian promosi boleh dong...).


Oh ya, satu lagi hal yang sangat penting : "Pahlawan bukanlah gelar, melainkan sikap," (@SenyumKita)

Selasa, 08 November 2011

5 Pelatih Muslim Sepakbola Eropa


Soal siapa-siapa saja pemain sepakbola Eropa yang beragama Islam, sudah banyak sekali yang membahas. Kita jadi sering lupa, barangkali ada juga pelatih atau manager tim sepakbola asal Eropa yang beragama Islam, dan memiliki reputasi yang tidak kalah mentereng dibanding para pemain tadi. Ini dia di antaranya :

1. Kurban Berdyev (Russia / Turkmenistan)

Sempat membuat heboh ketika berhasil membawa timnya, Rubin Kazan (klub Russia yang tidak terkenal), menang 2-1 atas Barcelona (yang disebut-sebut sebagai tim terbaik di dunia saat ini) di Camp Nou pada fase grup Liga Champions Eropa 2009/2010 yang lalu. Pelatih kelahiran Asghabat, 25 Agustus 1952 ini melatih Rubin Kazan sejak 2001 ketika tim itu masih di divisi 1. Berdyev kemudian membawa Rubin promosi ke Divisi Utama musim berikutnya dan memberi gelar liga pertama dalam sejarah klub tersebut pada 2008. Berdyev yang saat ini juga menjabat sebagai wakil presiden di klub tersebut, memiliki kebiasaan selalu membawa tasbih tiap kali melatih dan nampak berdzikir di pinggir lapangan. “Ini bukan semacam tradisi atau ritual, ini adalah kebutuhan. Saya pernah lupa tidak membawa tasbih, dan sepanjang pertandingan saya begitu gelisah, seperti kehilangan sesuatu. Jadi, ini adalah sebuah kebutuhan bagi saya, dan Muslim pasti akan mengerti itu,” ujar Berdyev suatu ketika.

2. Fatih Terim (Turki)


Satu-satunya pelatih beragama Islam yang pernah menangani klub serie A Italia. Terim melatih Fiorentina pada musim 2000/2001 dan AC Milan pada musim berikutnya. Meski berhasil membawa Fiorentina melaju ke final Coppa Italia, namun karirnya di tanah spaghetti hanya bertahan selama 1,5 musim, sebelum kembali ke Galatasaray. Galatasaray sendiri sebelumnya pernah dia bawa menjadi klub Turki pertama dan satu-satunya yang pernah menjuarai kejuaraan antar klub Eropa, tepatnya ketika mengalahkan Arsenal melalui adu penalti di final Piala UEFA 1999/2000. Pelatih yang sempat diisukan akan melatih timnas Indonesia ini juga sukses dua kali membawa Turki ke putaran final Piala Eropa 1996 dan 2008. Pada Euro 2008 itu, Turki dibuatnya menjadi tim bermental juara yang berkali-kali melakukan comeback (membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal), dalam perjalanan menuju semifinal. 

3. Philippe Troussier (Prancis)


Mantan pelatih timnas Qatar di Piala Asia 2004 ketika dikalahkan Indonesia 1-2 ini masuk Islam pada tahun 2006, di saat dia melatih timnas Maroko. Philippe bersyahadat bersama dengan istrinya, Dominique, dan kemudian pasangan ini mengadopsi dua anak dari Maroko, Selma dan Mariam. Troussier sendiri memberi nama ‘Omar’ di tengah namanya. Pria kelahiran Paris yang kini melatih Shenzen Ruby di League One China ini pernah membawa Afrika Selatan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya pada 1998. Dia dijuluki ‘White Whitch Doctor’ karena kesuksesannya ketika menangani sejumlah klub dan timnas di Afrika. Selain itu juga sempat membawa timnas Jepang menjuarai Piala Asia 2000. 

4. Bruno Metsu (Prancis)


Pelatih yang sukses membawa Senegal membuat kejutan dengan melaju ke perempat final Piala Dunia 2002 ini masuk Islam pada 24 Maret 2002, dan mengganti namanya menjadi Abdul Karim. Metsu tak pernah mempublikasikan alasannya masuk Islam, karena baginya itu adalah privasi. Mengawali karir di sejumlah klub di Liga Prancis, pelatih kelahiran tahun 1954 ini kemudian malang melintang di berbagai liga di Timur Tengah hingga sekarang. Prestasinya antara lain adalah membawa klub UEA, Al Ain, menjuarai Liga Champions Asia 2002/2003. 

5. Senol Gunes (Turki)

Namanya mulai dikenal ketika membawa timnas Turki menjadi juara 3 Piala Dunia 2002. Belum lama dia juga membawa klubnya, Trabzonspor, mempermalukan raksasa Italia, Inter Milan 2-1 di San Siro pada matchday 1 Liga Champions Eropa 2011/2012. Selain melatih di Turki, Gunes juga pernah menangani FC Seoul di liga Korea, dan sempat bersua Sriwijaya FC pada liga Champions Asia tahun 2009. Saat menjadi pemain, Gunes dikenal sebagai kiper andalan timnas Turki dan sempat meraih 6 kali juara Super Lig Turki. Sementara sebagai pelatih, dia pernah menjuarai Piala Turki dua kali bersama Trabzonspor pada 1995 dan 2010. 

Rabu, 02 November 2011

Ayu Ting Ting jadi Personil SNSD ?



Ini bukanlah sebuah tulisan kontradiktif. Memang, dalam tulisan sebelumnya, saya pernah membahas mengenai Girlband Korea impian, tapi ya memang yang saya sukai dari Korea hanya girlband-girlband nya. Itu pun saya menyukai mereka sebagai seorang cowok normal - yang tentu senang melihat wanita-wanita cantik menari dan menyanyi apalagi kalau lagunya enak – dan sama sekali bukan sebagai penggemar K-pop. Sekali lagi, saya bukan penggemar K-pop. Lihat saja di daftar 6 Boyband Terfavorit yang pernah saya tulis, tidak ada boyband Korea. Sementara satu-satunya serial drama Korea yang pernah saya tonton hanyalah ‘Heading to the Ground’, itupun karena temanya tentang sepakbola. 

Sekali lagi, saya InsyaAllah dan semoga bukan orang yang munafik. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengutarakan keheranan saya yang sangat terhadap bagaimana budaya K-pop bisa over popular di negara kita. Bagaimana bisa muncul boyband-boyband dan girlband-girlband baru yang semuanya berorientasi ke boyband-girlband Korea. Gaya-gaya fashion ala korea pun sangat digemari dan ditiru oleh anak-anak muda kita. Hmm...mungkin ini lah contoh latahnya orang Indonesia. Saya masih ingat, bagaimana dulu sekitar tahun 2004-2007 budaya J-pop, harajuku, dan cosplay dari Jepang sempat begitu mewabah, dan sekarang nyatanya sudah mulai berkurang. Mundur lagi ke belakang, popularitas F4 sempat membuat kaum ABG Indonesia di awal 2000-an keranjingan budaya mandarin. Kemudian waktu Kuch Kuch Hota Hai booming tahun 2000, semua jadi tergila-gila film dan tarian India. 

Saya hanya merasa bahwa bangsa kita ini seringkali minder dengan bangsa lain, sehingga malu dengan budaya sendiri dan menjadi mudah dikuasai budaya bangsa lain. Pertanyaannya : emang pantas kita minder? Hei, budaya dan potensi SDM Indonesia adalah yang terbaik di dunia!! Ini bukan omong kosong, sama sekali bukan.
Oke, karena saat ini yang akan saya bahas adalah wabah K-pop, maka coba kita bandingkan. Khususnya adalah soal boyband-girlband.

Pertama, soal wajah. Agnes Monica, Nindy, Audi Item, Aura Kasih, BCL, Rossa, dan masih banyak lagi. Mereka adalah penyanyi-penyanyi bersuara bagus dan sekaligus berwajah rupawan, dan kita semua tahu wajah cantik mereka itu murni ciptaan Tuhan. Sebagian mungkin sedikit tertolong make up, tapi sekalipun ketika tidak berias, saya lihat wajah mereka setidaknya tetaplah manis dan enak dilihat. Sedangkan para penyanyi Korea? Sudah menjadi rahasia umum, dari mana wajah cantik mereka berasal. Mungkin mereka kekurangan penduduk, sehingga sulit mencari yang bersuara indah dan cantik sekaligus. Makanya solusinya adalah dengan memberi sedikit (atau banyak?) sentuhan dokter bedah. Berbeda dengan kita, yang punya 100 juta lebih penduduk wanita berusia muda, hingga kita bisa sampai ke pelosok desa-desa untuk mencari yang berwajah manis dan bersuara bagus, dan itu tidaklah sulit. 


Kedua, soal suara / vokal. Mereka penyanyi bukan? Jadi, mana yang lebih penting : suara atau penampilan fisik? ABG-ABG cewek berteriak-teriak melihat kegantengan para personil SuJu atau Shinee. Ketika Smash muncul, banyak yang mencibir mereka ikut-ikutan, menjiplak, dan sebagainya. Oke, saya mau bertanya sama kalian, para boyband Indonesia. Ngapain sih kalian ikut-ikutan style dari Korea? Saya kasih tahu ya, kalian punya modal lebih baik dari mereka : suara kalian itu lebih bagus!! (Bisma misalnya, suaramu sekarang sudah lebih bagus dari Lee Teuk! Kalau Kyuhyun okelah mungkin lebih bagus dikit dari Rafael) Ya, orang Indonesia menurut banyak penelitian itu memang diberikan anugrah berupa suara dasar yang bagus, dan ini biasanya dikarenakan faktor fisiologis dan lingkungan. Contohnya orang-orang Batak, Manado, dan Ambon, yang dari sananya suaranya sudah indah. Korea? Udah training bertahun-tahun tetep aja suaranya pas-pasan. Okelah, ada beberapa yang suaranya memang bagus seperti 2NE1, Big Bang, 2PM, 2AM, Wonder Girls, atau Brown Eyed Girls. Tapi yang lainnya? 
Kalian yang fans-nya boyband-girlband lain boleh melempari saya pakai tomat. Tapi, cobalah kalian dengarkan baik-baik suara boyband-girlband Korea itu, terutama ketika mereka live performance. Cobalah dengarkan pakai headset, dengarkan versi mr.Removed-nya baik-baik. Tidak sekedar mendengarkan, tapi dipikir baik-baik. Atau coba bandingkan dengan boyband-girlband Indonesia masa lalu (AB Three, RSD, Trio Libel, dsb.) misalnya. Nanti akan terlihat nyata di mana letak kualitas vokal mereka. Tolong ya, masa’ sudah lypsinc saja masih tetap dibela, itu nggak realistis namanya. Kalau kalian memang suka dan sayang sama mereka, justru seharusnya kalian bisa kritis terhadap mereka. Suporter sepakbola yang dikenal anarkis itu saja masih lebih realistis. Buktinya, kalau tim kesayangannya kalah, mereka akan tetap loyal dan mendukung di satu sisi, tapi di sisi lain juga mengkritik dan memberi masukan. Saya tidak pernah mendengar suporter MU atau Barcelona, ketika timnya bermain buruk, tetap dibilang bermain bagus.


Ketiga, soal dance dan musik. Saya melihat musik Korea itu umumnya adalah remix dari R&B dan hip hop milik barat. Begitu pula dance-nya, yang memodifikasi street dance milik A.S. Sementara budaya asli mereka sendiri bersifat homogen alias cuma 1 karakter. Indonesia? Kita punya sekitar 19 macam corak musik tradisional dan tidak kurang dari 105 jenis tarian daerah. Masa’ segitu kayanya nggak dimanfaatkan?!! Terus, ngapain gunanya kita dulu ngucapin Sumpah Pemuda? Ya, Bung Karno, M.Yamin, atau Soegondo Joyopuspito pasti akan menangis prihatin melihat latahnya anak-anak muda sekarang ngikutin budaya luar. Maaf, tapi saya cuma mau mengingatkan kepada mereka yang membentuk boyband-girlband baru, bahwa kita punya gaya dan budaya sendiri yang jauh lebih kaya, indah, dan luhur. Contohnya, saya yakin, TaeYeon atau Hyorin Sistar sekalipun belum tentu bisa menyanyi dalam cengkok dangdut. Indonesia punya tembang Jawa atau musik Dayak yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari musik Rap. Jadi nggak perlulah ngikutin punya luar. Tuntutan pasar? Saya yakin, ketika kita tampil berbeda dari umum, justru itu akan menarik perhatian publik dan niscaya akan laku dijual! Apalagi kalau itu sudah membawa kebanggaan Nasional, maka pasar musik mancanegara akan tertarik. Nggak percaya? Coba aja!


Saya pernah menulis mengenai the Divers, sebuah girlband Indonesia impian saya. Kira-kira seperti itulah konsep girlband Indonesia yang seharusnya menurut saya. Cantiknya alamiah, suaranya bagus dan terlatih, serta membawa unsur-unsur budaya lokal Indonesia dalam setiap musik dan dance-nya. Ah, saya berharap ada produser yang mewujudkan khayalan itu. Atau setidaknya, biarkanlah terlebih dahulu Ayu Ting Ting masuk jadi personil SNSD. 
Ngomong-ngomong, bagi orang-orang Korea yang membaca ini, saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan negara anda. Justru sebaliknya, saya begitu mengagumi bagaimana negara anda bisa berkarya secara maksimal dengan sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, negara kami perlu banyak belajar pada negara anda terkait strategi promosi dan penguasaan pasar.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Top 40 Girlband Songs


There are 40 Greatest Girlbands’ Songs from all girl groups, from all countries in the world, from all times* ever...

40. Nu ABO (2010) – f(x) / South Korea
39. Love Me Just a Little Bit More (1984) – Dolly Dots / Netherland
38. Never Ever (1997) – All Saints / UK
37. Hot Issue (2009) – 4Minute / South Korea
36. Daylight in Your Eyes (2001) – No Angels / Germany
35. Bad Girl Good Girl (2010) – Miss A / South Korea
34. Call the Shots (2007) – Girls Aloud / UK
33. Kerinduanku (1996) – AB Three / Indonesia
32. Mergem La Mare (2006) – Candy / Romania
31. Zhi Wei Ai Shang Ni (2010) – S.H.E / Taiwan
30. Lupin (2010) – Kara / South Korea
29. Unpretty (1999) – TLC / USA 
28. Viva Forever (1998) – Spice Girls / UK
27. White Love (1997) – Speed / Japan
26. Venus (1986) – Bananarama / UK
25. Oh! (2010) – Girls’ Generation / South Korea
24. Famous (2010) – Play / Sweden
23. Push the Button (2005) – Sugababes / UK
22. Stickwitu (2005) – Pussycat Dolls / USA
21. 2 Become 1 (1996) – Spice Girls / UK 
20. Heavy Rotation (2010)AKB48 / Japan
19. Aduh Buyung (1993)Manis Manja / Indonesia
18. C’est La Vie (1998)B*Witched / Ireland
17. I Dont Care (2010)2NE1 / South Korea
16. Baby Love (1964)The Supremes / USA
15. Gee (2009)Girls’ Generation / South Korea
14. Lady Marmalade (1974)Labelle / USA
13. Survivor (2001)Destiny’s Child / USA
12. Pretty Boy (2000) M2M / Norway
11. Love Machine (1999)Morning Musume / Japan
10. All the Things She Said (2002)t.A.T.u / Russia 


9. Don’t Cha (2005)Pussycat Dolls / USA 


8. Nobody (2009)Wonder Girls / South Korea 


7. Don’t Say You Love Me (1999)M2M / Norway 


6. No Scrubs (1999)TLC / USA 


5. The Tide is High (2002)Atomic Kitten / UK 



4. Eternal Flame (1989)The Bangles / USA 



3. Wannabe (1996)Spice Girls / UK 


2. Asereje (2002)Las Ketchup / Spain 


1. Stand up For Love (2005) Destiny’s Child / USA 



*max 2010

Jumat, 28 Oktober 2011

Kabinet Indonesia Muda


Dulu, usai presiden SBY mengumumkan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II tahun 2009, saya merasakan banyak ketidak setujuan. Karena itu kemudian saya ‘membentuk’ kabinet khayalan sendiri, yang terdisi dari teman-teman saya, yang saya beri nama ‘Kabinet Indonesia Muda’.
Hari ini, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda dan selang seminggu setelah SBY mengumumkan reshuffle kabinetnya, saya hendak me-refresh kembali soal ini. Menurut saya, dibandingkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah punya banyak ‘keperluan’ itu, teman-teman saya yang masih muda-muda ini saya yakini bisa lebih ‘pure’ dalam bekerja. Ini bukan kesombongan ataupun ke-soktahu-an seorang pemuda. Tapi, sungguh sebuah kabinet yang disusun bukan berdasar kepentingan ataupun perhitungan politik tertentu, tidaklah lebih baik dibanding kabinet yang disusun berdasar visi-misi jelas, bukan sekedar bagi-bagi jabatan, dan meliputi menteri-menteri yang memang kompeten di bidangnya. 

Ket : yang saya gambarkan di sini bukanlah ‘siapa’ mereka, melainkan ‘bagaimana’ saya memilih teman-teman saya ini. Dengan kata lain, saya bermaksud menunjukkan bagaimana ‘seharusnya’ seorang menteri itu dipilih. 



Presiden : Topan Tantudo Umpu, S.S 
Topan adalah ketua OSIS saya semasa SMA dulu, selama 2 periode berturut-turut. Dia berhasil merubah kondisi SMA saya pada saat itu, 180 derajat menuju lebih positif. 
Seorang Presiden haruslah orang yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kharisma yang tinggi. Dia juga mesti mampu bertindak dan bersikap tegas, mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, dan setidaknya mengerti banyak aspek kehidupan masyarakat. Untuk konteks Indonesia, dia juga mesti merakyat dan tidak mau didekte oleh negara-negara lain yang punya kepentingan. 

Wakil Presiden : Rizqima Nur Aini Dewi, S.Psi
Rizqima adalah teman kampus saya, sangat aktif di berbagai organisasi dan pernah belajar di A.S.
Seorang Wakil Presiden harus dapat mengimbangi presidennya, setidaknya dia memiliki karakter yang berbeda dengan presidennya. Berhubung sang Presiden adalah orang yang sangat galak dan blak-blakan, maka wapresnya adalah seorang yang kalem, tenang, mengambil keputusan secara hati-hati, namun tetap dapat bersikap tegas apabila diperlukan. Dia juga mesti orang yang dapat memberi ‘bisikan-bisikan’ yang efektif kepada Presiden. 

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan :
Shofwan Al Banna Choiruzzad, S.IP, M.A
Shofwan adalah kenalan saya. Dia tengah menyelesaikan program doktor di Jepang, mengambil program Hubungan Internasional. 
Menkopolhukam adalah jabatan yang membutuhkan orang yang mampu membawahi menteri-menteri dalam bidang tersebut, dan dari itu dia harus memiliki jiwa kepemimpinan, tegas, dan memiliki ideologi sosial politik yang kuat (dan tidak bisa diganggu gugat). Butuh orang yang sangat cerdas, setidaknya dalam bidang politik, dan juga mengerti banyak tentang hukum. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian :
Ari Sugiarto, S.E
Mas Ari adalah kakak kelas saya ketika SMA dulu. Dia berjuang kuliah sambil menghidupi adik-adiknya, lantaran ayahnya telah tiada, dengan melakukan berbagai macam usaha. 
Tentu saja dia harus orang yang sangat paham dan berpengalaman dalam kegiatan perekonomian. Setidanya dia harus mengerti banyak aspeknya seperti perdagangan, perbankan, industri, usaha kecil dan menengah, serta masalah fiskal. Sekali lagi, karena dia adalah meteri koordinator, maka jiwa kepemimpinannya harus tinggi dan tegas. Satu lagi, akuntabilitas ekonomi rumah tangga orang ini harus jelas. Untuk menteri ini, juga menteri-menteri yang dibawahinya, yang terpenting adalah ‘menyingkirkan’ mereka, perusahaan-perusahaan asing yang mengeruk SDA kita, kemudian kekayaan kita kita kelola sendiri dengan mengandalkan SDM dari bangsa sendiri juga. 

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat :
Sarah Astri Ardiyanti, S.Psi., S.E.
Mbak Sarah adalah teman KKN saya, kuliah di dua jurusan (Ekonomi dan Psikologi) di 2 Universitas berbeda.
Satu syarat mutlak, dia haruslah orang yang tidak memikirkan kesejahteraannya sendiri, melainkan hanya memikirkan isi perut rakyat saja. Maka diperlukan orang yang memiliki jiwa keibuan (namun tetap seorang pemimpin yang tegas), ekonomi rumah tangganya tidak kekurangan (sehingga tidak lagi bingung memikirkan diri sendiri), dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Khusus untuk mbak Sarah ini, saya pilih karena dia memahami dua bidang sekaligus : Psikologi dan Ekonomi, yang memang sangat diperlukan untuk mengurangi deprivasi atau ‘perasaan miskin’ pada rakyat. 


Menteri Dalam Negeri :
Wulang Suhastoro, S.E
Wulang adalah teman SD saya dan tetangga dari pakdhe saya. Dia pernah menjadi ketua pemuda di daerahnya, dan juga menjadi wakil ketua RW dalam usia muda. 
Posisi mendagri membutuhkan orang yang mengerti seperti apa kondisi birokrasi di Indonesia (yang prosedurnya amat sangat berbelit-belit banget dan menghabiskan isi dompet rakyat ini), dan mampu membuatnya menjadi lebih praktis, efisien, dan, yang pasti, tidak korup! 

Menteri Luar Negeri :
Haidar Buldan Thontowi, S.Psi 
Buldan adalah sahabat saya. Dia sangat fasih berbahasa Inggris, pernah juara di berbagai lomba debat bahasa Inggris, bahkan beberapa kali dikirim ke luar negeri mengikuti debat contest antar negara. Saat ini tengah menyelesaikan kuliah Master Psikologi di A.S. 
Pertama, menlu haruslah orang yang lihai berdiplomasi. Menlu juga mestinya adalah orang yang tidak anti-barat, tapi di sisi lain juga sangat memahami bagaimana negara-negara barat itu punya kepentingan terselubung terhadap negara-negara timur. Maka dia sebaiknya adalah orang yang mampu memoderasi antara barat dan timur, serta memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap negara-negara tertindas (Palestina, Iran, Korut, Somalia, Libya, dsb.), dan yang paling paling penting, tidak mau diintervensi oleh perwakilan negara-negara barat tadi (khususnya A.S dan Israel). 

Menteri Pertahanan :
Yogi Sumarko, A.Md.
Yogi adalah teman SMA saya. Dulu dia kerap menjadi kepala seksi keamanan di berbagai acara sekolah, dan sangat diandalkan dalam hal ini. Saat ini bekerja sebagai radiografer di RSUP dr.Sardjito.
Menhan mesti diisi oleh orang yang terbilang pemberani, serta memiliki strategi yang apik dalam menjaga kondisi keamanan negara, termasuk menangkal (secara preventif maupun represif) berbagai situasi ricuh dan konflik yang sangat mungkin terjadi di Indonesia.

Menteri Hukum dan HAM :
Prima Agung Saputra, S.H
Prima adalah orang Lampung, rekan saya di FLP (Forum Lingkar Pena) Jogja. Dia pernah menjadi aktivis dan ketua divisi di berbagai organisasi mahasiswa di UGM. 
Jelas, yang dibutuhkan adalah seorang ahli hukum yang sangat jujur, memihak yang benar, dan matanya tidak hijau melihat duit. Saya pikir, hanya itulah yang paling penting untuk hukum di Indonesia saat ini. 

Menteri Keuangan :
Robby Pradana, S.E
Robby adalah teman SD saya. Saat ini tengah kuliah ekonomi di Australia, dan juga menjadi finance protofolio member di AEISEC (organisasi mahasiswa lintas negara). 
Sekali lagi, untuk posisi yang satu ini mesti ditempati seorang yang jujur. Karakter lainnya adalah tenang dan teliti. Selain itu, dia harus punya daya tahan dalam mengatasi tekanan ekonomi (seperti situasi pasar yang fluktuatif, krisis finansial, serta pengelolaan kas negara yang rawan ‘kebocoran’) yang biasa terjadi di Indonesia. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral :
M.Taufiq Ramadhan, S.T
Taufiq adalah teman SMA saya, saat ini bekerja di PT.Elnusa Tbk. dan pernah kuliah di jurusan Pertambangan UPN veteran Jogja.
Diperlukan seorang yang tangguh, dan mampu mengatasi persoalan pertamina yang menurut saya ‘aneh’ : kita ini negara kaya migas, tapi koq BBM sering langka dan mahal? Masa’ kalah sama kilangnya tetangga yang sebenarnya nggak kaya-kaya amat dan nggak pintar-pintar itu? 

Menteri Perindustrian dan Perdagangan :
Adi Purnomo, S.E, M.Si
Adi adalah teman SD saya, seorang yang sangat cerdas. Menyelesaikan studi S2 Akuntansi di STIE YKPN, dan saat ini bekerja di Dirjen Pajak.
Dalam dunia nyata, kementerian perindustrian dan perdagangan terpisah. Akan tetapi menurut hemat saya, sebenarnya lebih efisien kalau kedua kementerian ini digabung, mengingat kedua bidang ini memiliki alur kerja yang tak terpisahkan, serta seringkali harus selalu menyokong satu sama lain. Untuk orang yang menjadi menterinya, dia harus seseorang yang tahu bagaimana ‘menjual’ (dalam berbagai konteks kegiatan ekonomi).

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup :
M.Chairudin, S.Hut.
Udin adalah teman dekat saya, lulusan fakultas Kehutanan UGM.
Kementerian kehutanan dan kementerian lingkungan hidup juga terpisah dalam dunia nyata. Namun, sekali lagi, saya merasa hal itu kurang efisien bagi anggaran negara dan juga alur kerja keduanya. Toh orang kehutanan juga bisa mengurusi lingkungan hidup. Yang penting, untuk situasi terkini, dia haruslah orang yang terutama sekali sangat peduli terhadap Global Warming dan memahami secara mendalam cara mengantisipasinya. 

Menteri Pertanian :
M.Ridwan Nur Rahmadi
Ridwan adalah tetangga saya, anak seorang petani. Belum lama terpilih menjadi ketua karang taruna di desa saya.
Jabatan yang sangat vital di kabinet Indonesia. Sekali lagi, saya merasa ‘aneh’ : negara agraris, kaya pertanian dan perkebunan, tapi koq impor beras melulu? Maka dari itu, yang paling pokok dari menteri pertanian adalah yang penting dia bisa segera mengembalikan Indonesia jadi negara swasembada pangan. Untuk karakter menterinya, dia mesti lah orang yang memahami petani dan buruh tani, sehingga dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mengutamakan produk mereka dibandingkan barang impor. 


Menteri Perhubungan :
Abdul Majid Zulkarnaen, S.T
Ajid adalah teman SMA saya, lulusan Teknik Mesin UGM, saat ini bekerja di PT.Krakatau Steel.
Salah satu kementerian vital, mengingat seringnya terjadi kecelakaan transportasi di Indonesia. Maka, yang paling utama dari menhub adalah dia yang betul-betul mengerti masalah transportasi melingkupi mesin serta manusia (human error)-nya. Tugas utama dan pertamanya adalah terlebih dahulu mengurangi resiko-resiko kecelakaan, dibandingkan membuat apalagi membeli alat-alat transportasi yang canggih dan terlalu mahal. 

Menteri Kelautan dan Perikanan :
Abdul Basyit D.A
Beliau adalah seorang pemuda dari pulau Bawean yang sempat menjadi aktivis di Jogja. Saya pribadi tidak terlalu mengenalnya.
Menteri kelautan hendaknya memang dia yang adalah ‘anak pantai’. Paling penting, dia adalah orang yang bisa memanfaatkan betul potensi bahari kita yang terluas di dunia ini, dan menurut saya luar biasa kayanya (yang sekali lagi, ‘aneh’-nya, selama ini seperti nggak ada gunanya bagi bangsa sendiri). 

Menteri Tenaga Kerja :
Andina Satria Okta Fiawan, S.H, M.Hum
Dea adalah teman SMA saya, lulusan S2 hukum UII, dan sekarang bekerja di BPK.
Mengapa orang hukum? Ini salah satu kementerian yang kebagian mendapat kerjaan mengurusi kasus-kasus yang bikin miris, mengingat bagaimana nasib para tenaga kerja kita di luar negeri. Dan kebanyakan selalu urusannya adalah dengan persoalan hukum (terutama urusannya dengan majikan, BNP2TKI, hukum negara lain, hingga soal TKI ilegal). Perlu orang yang tegas, sehingga para TKI kita tidak lagi jadi bulan-bulanan di luar sana. 

Menteri Kesehatan :
dr.Riski Kawa Ramadani
Riski adalah teman SMP saya, lulusan fakultas Kedokteran UGM.
Ah, siapapun, yang penting pelayanan kesehatan meningkat dan dokter serta obatnya nggak mahal!! Tapi saya suka pemikiran Riski, yang ketika melihat ini dia berkomentar bahwa dia tidak mau diintervensi oleh lembaga kesehatan asing. 

Menteri Pendidikan Nasional :
M.Zulkifli Setiawan
Lucky, teman kampus saya di S1. Dia aktif sebagai trainer dan juga di berbagai lembaga pendidikan independen.
Satu hal, saya suka pemikiran Lucky yang ingin merombak sistem pendidikan kita, menjadi tidak konservatif seperti saat ini, melainkan banyak menggunakan pendekatan micro-teaching, sistem yang tidak birokratis, dan lebih melihat potensi individu anak. Mendiknas haruslah orang yang juga mengerti bahwa pendidikan itu penting dan makanya jangan mahal!!

Menteri Sosial :
Ajeng Pakerti, S.Sos
Ajeng adalah teman sekelas saya waktu SMA, lulusan Sosiologi UGM dan saat ini bekerja di Kementrian Pertanian.
Mensos hendaknya orang yang mengerti atau bahkan pernah mengalami latar belakang kehidupan masyarakat marjinal seperti apa (seperti anak jalanan, dhuafa, yatim, serta kaum veteran). Dengan demikian dia akan memahami apa sebenarnya kebutuhan mereka sehingga bisa memberikan bantuan dan dukungan yang tepat. 

Menteri Agama :
Fajar Dian Hernanda, S.Farm
Fajar adalah teman dekat saya di SMA,lulusan Farmasi UGM. Pernah menjadi ketua Rohis semasa SMA, kemudian ketua organisasi muslim alumni SMA saya, dan juga aktivis dakwah di berbagai organisasi agama. 
Tidak perlu panjang lebar, yang penting dia orang yang pengetahuan agamanya luas, spritiualitas-nya tinggi, namun tetap toleran. Ketika membaca ini, Fajar mengatakan bahwa yang pertama-tama dia akan lakukan adalah menghapus korupsi di tubuh Depag, khususnya soal haji. Bagus!

Menteri Budaya dan Pariwisata :
Anggi Septia Irawan, S.Ant
Saya sempat setahun kuliah bersama Anggi di Antropologi Budaya UGM. Saat ini dia menjadi peneliti di NIHRD.
Menbudpar tentunya adalah orang yang paham budaya dan kearifan lokal di Indonesia. Dia juga mesti suka jalan-jalan dan berpetualang, maksudnya, agar dia tahu potensi di berbagai daerah di Indonesia yang bisa dijadikan objek wisata yang menarik, serta mengetahui apa saja yang masih kurang dari tempat-tempat lokasi wisata Indonesia saat ini. Paling penting, harus pintar promosi kepada dunia mancanegara. 

Menteri Transmigrasi dan Kependudukan :
M.Rachmadian Narotama, S.T
Adi adalah teman SMA saya, lulusan Arsitektur UGM, dan sekarang menjadi konsultan di Gama Multi Usaha Mandiri.
Menggantikan menteri perumahan rakyat dalam kehidupan nyata. Menurut saya, urusan transmigrasi lebih baik digabung dengan masalah penduduk (termasuk soal perumahan), jadi cakupannya lebih luas dan efisien. Saya sendiri lupa kenapa dulu memilih Adi di posisi ini, hehe. 


Menteri Komunikasi dan Informasi :
Ika R.Wulandari, S.Psi
Iwul adalah teman saya di S1, juga di FLP Jogja di mana dia sempat menjabat sebagai ketuanya. Aktif sebagai penulis.
Menkominfo haruslah anti-pornografi dan pembajakan. Itu saja sih. 

Menteri Pekerjaan Umum :
Aditya Aji Wibowo, S.E
Adit teman saya SMA juga, kuliah di Ekonomi UGM.
Menteri PU sebaiknya adalah mereka yang punya mental ‘kuli’ dan otak ‘ekonom’ sekaligus. Jadi dia akan paham bagaimana melakukan pembangunan yang murah namun efektif dan cepat. Diharapkan terutama dia peka soal jalan berlubang.

Menteri Koperasi dan UKM :
Adinda Paramitha, S.E
Teman dekat saya sejak SMA. Pernah mendirikan kedai kopi dan juga rumah makan.
Menteri ini memang sebaiknya orang yang pernah merasakan pahit getirnya membangun usaha kecil-kecilan hingga dapat berkembang. Di samping itu juga mesti orang yang punya kreatifitas tinggi. Maka, dia akan dapat membantu mereka yang punya usaha kecil dan menengah, agar tidak digilas oleh perusahaan-perusahaan monopolis raksasa yang kadang tidak punya hati itu. 

Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak :
Ika Puji Widjayanti, S.Psi
Ika adalah sahabat saya di S1. Mungkin dia satu-satunya menteri di sini yang di kehidupan nyata saat ini memang bekerja di kementerian yang sama. 
Tidak perlu dijelaskan bahwa menteri yang memegang kementerian ini haruslah dia yang punya jiwa emansipasi yang tinggi, dan sangat peduli terhadap dunia anak-anak. Intinya adalah wanita karir yang punya sifat keibuan. 

Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal :
Rona Patricia Sibarani, S.H
Rona adalah teman saya saat ini di S2, orang asli Papua.
Menteri PDT memang sebaiknya adalah dia yang berasal dari daerah yang membutuhkan perhatian yang lebih, dan dia sangat peduli dengan daerahnya itu. Di sisi lain, dia juga mesti orang yang berwawasan dan berpandangan maju ke depan. Maka, dia akan dapat menghubungkan antara pusat dengan daerah tertinggal, sekaligus menarik daerah-daerah untuk membangun diri.

Menteri Riset dan Teknologi :
Arif Teguh Raharjo, S.T
Arif adalah teman SMA saya juga, dan ketika itu dia aktif di KIR (karya ilmiah remaja), yang berlanjut hingga ketika mahasiswa dia juga sering mengikuti penelitian dan berprestasi dalam bidang tersebut.
Menristek hendaknya orang yang memang cakap dalam urusan-urusan ilmiah dan akademis. Arif menjadi satu-satunya menteri di sini yang ketika membaca ini, dia langsung saja menyodorkan program-programnya, yang antara lain : Peneliti-peneliti asal Indonesia di luar negeri diminta pulang untuk mengembangkan teknologi Indonesia; Memberi penghargaan kepada hasil karya cipta anak bangsa, seberapapun kecilnya karya tersebut. 

Menteri BUMN :
Okie Indra Wijaya, S.E
Okie teman saya SMA, lulusan ekonomi UNS, dan saat ini bekerja di Ditjen Pajak kemenkeu. 
Menteri BUMN akan cocok untuk dia yang ahli ekonomi dan bisnis, namun tetap punya ‘style’ birokrat.

Menteri Pemuda dan Olahraga :
M.Fachreza Habibie
Habibie adalah saudara sepupu saya dan saat ini masih kuliah di jurusan Pertambangan UPN.
Menpora harusnya dia yang tahu banget dunia anak muda, dan hobi berat sama yang namanya olahraga (tulisanku jadi ikut gaul).