Halaman

Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Ganteng Cantik Everywhere

Lurah cantik, camat ganteng, satpol pp cantik, penjaga krl ganteng, penjual gethuk cantik, penjaga warteg cantik, sampai tukang tambal ban cantik. Fenomena ‘orang biasa’ yang mendadak tenar lantaran penampilan fisiknya yang rupawan, sering sekali kita saksikan dewasa ini. Awalnya beredar di berbagai sosial media, kemudian banyak dibicarakan dari mulut ke mulut, sampai akhirnya diundang ke acara reality show di tv.
Menurut Anda, bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Kebanyakan pendapat orang tentu adalah karena wajah mereka yang memang menjual, dan layak diangkat ke ranah publik. Tidak ada salahnya juga pendapat ini. Namun di sini saya lebih ingin menjelaskan sedikit analisis saya mengenai bagaimana secara sosio-psikologis orang-orang ini bisa menjadi populer.
Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih peka terhadap hal-hal yang berbeda dari apa yang ‘umum’ baginya. Contohnya begini : Misalnya Anda disuruh memilih satu bola di antara 5 buah bola. Empat buah bola semuanya berwarna merah, tapi ada satu yang berwarna biru sendirian. Hati Anda akan cenderung ingin memilih yang biru. Kenapa? Karena dia berbeda dari yang lain. Atau contoh lainnya : misalkan selama ini yang ada di dalam pemikiran Anda, yang namanya es dan sambal itu tidak mungkin jadi satu. Namun tiba-tiba ketika lewat di sebuah jalan, Anda menemukan rumah makan menawarkan menu yang ditulis besar-besar “Es Sambal”. Tentu Anda jadi penasaran bukan?


Jadi, sebetulnya ini memang bukan hanya soal cantik, ganteng, manis, atau tampan. Ini soal pola pikir atau mindset -yang boleh saya bilang agak keliru- dari sebagian besar orang Indonesia. Kita berpikir bahwa orang-orang dengan profesi tertentu pada umumnya tidak memiliki wajah yang cantik atau ganteng. Seolah-olah, yang namanya penampilan fisik itu ada hubungannya dengan pekerjaan. Akibatnya, ketika ada yang cantik/ganteng tapi pekerjaannya bukan yang ‘seharusnya’ (artis/model/semacamnya), kita jadi kepo.
Padahal, bukankah siapa saja boleh memilih apa saja pekerjaannya? Seseorang yang berwajah cantik tidak harus menjadi model atau pemain film/sinetron. Sah-sah aja kan kalau mereka memilih profesi lain. Mengapa di banyak negara lain, fenomena seperti ini tidak terjadi? Itu karena mereka menghargai kompetensi lebih dari penampilan fisik.
Sebenarnya ada juga faktor lain yang sangat mempengaruhi munculnya fenomena ini, yaitu “the Power of Upload”, tapi itu akan saya bahas di tulisan selanjutnya ya, hehee.


Selasa, 30 September 2014

Matinya Politik Pencitraan


Pemilihan kepala daerah atau pilkada akhirnya resmi dikembalikan ke DPRD alias tidak lagi dipilih secara langsung. Banyak orang yang menyebut, baik melalui media maupun melalui berbagai aksi, bahwa keputusan yang diperoleh melalui hasil sidang paripurna DPR RI kamis (25/9) lalu ini adalah kematian bagi demokrasi. ‘RIP Demokrasi’. Begitu kira-kira judulnya. Benarkah demikian? Itu terserah pada Anda.
Yang jelas, saya juga melihat ada hal lain yang ikut ‘mati’ sebagai akibat dari RUU pilkada ini. Dia adalah ‘politik pencitraan’. Ya, politik pencitraan boleh dikatakan habis. ‘Mati’, dalam arti sebenarnya. Dan ini berlaku untuk kedua kubu, baik yang mendukung pilkada langsung (kubu koalisi PDIP), maupun pengusung pilkada lewat DPRD (Koalisi Merah Putih).
Saya betul-betul heran dan tak habis pikir dengan langkah-langkah yang diambil oleh KMP pasca kalah di pilpres. Bukannya menerima dengan legowo dan besar hati, mereka malah melakukan hal-hal yang justru bisa memperburuk citra mereka sendiri. Pertama-tama, mereka menggugat melalui MK. Sebenarnya ini mungkin sudah melalui mekanisme hukum yang benar, tapi tetap saja kesan yang ditangkap masyarakat, Prabowo dan partai-partai pengusungnya tidak mau menerima kekalahan.
Setelah gugatannya ditolak MK, mereka coba mencari cara lain untuk tetap punya kuasa. Yaitu dengan mencoba menggolkan pilkada via DPRD. Seharusnya mereka sudah tahu dan mampu memprediksi bahwa sikap ini akan membuat mereka dicap telah mencabut hak berpolitik rakyat dan justru akan banyak menimbulkan kongkalikong. Lagi-lagi, ini bisa berakibat fatal bagi suara KMP di 2019, karena amat sangat mungkin rakyat menjadi sudah tidak percaya lagi pada partai-partai di koalisi tersebut (dan gejala itu sudah nampak sedemikian rupa). Namun, toh mereka tetap bergeming. Ini, menunjukkan bahwa Prabowo dan para pendukungnya tidak lagi menganggap politik pencitraan sebagai sesuatu yang penting.
Ketika mengajukan ide pilkada via DPRD, kubu KMP sendiri beralasan bahwa pilkada secara langsung rawan dengan politik uang dan juga kental dengan politik pencitraan. Pernyataan ini sedikit banyak ada benarnya. Ketika hak memilih itu ada di tangan rakyat, maka strategi yang bisa diambil oleh calon kepala daerah untuk memenangkan pilkada, salah satu yang paing jitu adalah politik pencitraan. Dan ini sudah terbukti sukses. Khususnya dilakoni oleh para partai koalisi pendukung Jokowi. Taktik yang mereka mainkan sangat rapi untuk bisa mengambil hati masyarakat, untuk bisa menampilkan diri bahwa mereka memang berpihak pada rakyat (entah itu betul atau tidak). Dengan dihapuskannya pilkada secara langsung ini, maka praktis membuat partai-partai koalisi kotak-kotak tersebut tidak bisa lagi menggunakan strategi politik pencitraan ini.
Itulah yang saya katakan, ‘politik pencitraan’ telah mati, bagi kedua belah pihak. Lantas, sebenarnya manakah yang lebih tepat, pilkada langsung atau melalui DPRD? Sebenarnya untuk situasi saat ini, memang yang lebih pas adalah pilkada langsung. Saya pribadi pun termasuk pendukung pilkada langsung, walaupun pada pilpres lalu saya mendukung koalisi merah putih (saya terbuka saja ya). Namun, sebenarnya, semua berpulang pada kondisi mental bangsa Indonesia sendiri. Selama rakyat Indonesia masih banyak yang belum cerdas dalam berpolitik dan - inilah masalahnya - belum makmur, maka pilkada langsung memang akan rawan politik pencitraan dan masih dapat menimbulkan sejumlah masalah yang pada akhirnya melahirkan pemimpin berjiwa ‘idol’. Demikian pula, selama masih banyak orang pintar yang haus jabatan dan materi, serta orang kaya yang haus kekuasaan, serta politikus-politikus yang…..ya begitulah, maka pemilihan melalui DPRD tetap akan mengesampingkan kepentingan rakyat. Jadi, sebenarnya tak begitu masalah sistem pemilihan seperti apa yang diterapkan, semuanya berpulang pada mental rakyat Indonesia dan para elit politik sendiri. Selama mental rakyat dan elit baik, maka sistem apapun yang diterapkan bisa berlangsung secara ideal. Namun selama mental rakyat dan elit tetap seperti sekarang ini, maka sistem apapun yang diterapkan niscaya belum bisa menghasilkan the real good governance.

Wallahu a’lam bisshowab.

Rabu, 28 Agustus 2013

Empati Antar Kelompok

Ada 274 orang diusir dari desanya, kemudian terpaksa mengungsi dengan makanan dan air seadanya, hingga kemudian nasibnya terkatung-katung dan bahkan kemudian hendak diusir lagi ke tempat yang lebih jauh. SIAPAPUN mereka, merasa kasihan kah anda?

Orang-orang sedang shalat shubuh berjamaah, kemudian tiba-tiba diserang dengan brutal hingga menewaskan tak kurang dari 120 orang dan lebih dari seribu orang lainnya menderita luka-luka. SIAPAPUN mereka, merasa miris kah anda?

Oke, sekarang saya beritahukan pada anda. Cerita yang pertama adalah mengenai kasus Syiah di Sampang, Madura, yang terusir dari kampung halamannya pasca kerusuhan sekterian lantaran mereka dianggap sesat oleh penduduk sekitarnya (sumber : nasional.kompas.com, 23-11-2012). Sedangkan cerita yang kedua adalah mengenai demonstran pendukung presiden Morsi dari Ikhwanul Muslimin yang dikudeta oleh pihak militer (sumber : www.republika.co.id, 20 Agustus 2013).
Kenapa dua cerita yang saya angkat di awal artikel ini? Karena kedua kelompok yang saya ketengahkan tersebut masing-masing memiliki pihak pro dan kontra yang saling berlawanan.

Umumnya kelompok-kelompok dan pergerakan yang membela Ikhwanul Muslimin di Mesir, juga kerap menunjukkan kepeduliannya terhadap kaum muslim yang terzalimi di Palestina, Irak, Afghanistan, Rohingya di Myanmar, hingga di Suriah. Selain itu mereka juga sering membela orang-orang yang mendapat perlakuan diskriminatif lantaran berusaha mempertahankan keyakinannya, semisal wanita yang dipecat oleh perusahaannya karena enggan melepas jilbab. Empati yang ditunjukkan kelompok-kelompok ini sangat bagus dan saya mendukung sepenuhnya. Namun, di sisi lain, seringkali kelompok-kelompok atau pergerakan ini kurang menunjukkan kepekaan terhadap kaum-kaum termarjinalkan dan minoritas di Indonesia seperti komunitas Syiah, Ahmadiyah, hingga kaum LGBT dan orang berpenampilan preman, bahkan kebanyakan memandang negatif terhadap mereka.
Sementara itu, kelompok-kelompok yang membela Syiah Sampang, umumnya juga membela orang-orang Ahmadiyah, kaum minoritas non-Muslim, hingga kelompok sosial termarjinalkan yang lain. Namun, di sisi lain, mereka seringkali diam atau bahkan cenderung membenarkan perlakuan zolim, diskriminatif dan tidak adil yang ditimpakan kepada orang-orang dari kelompok-kelompok yang dianggap ‘Islamis’. Kalau yang menerapkan ‘empati standar ganda’ semacam ini adalah orang-orang eksklusif-fundamentalis saya mungkin masih maklum, tapi agak aneh juga kalau yang menerapkannya adalah orang-orang yang mengaku pluralis atau liberalis. Lalu ke mana propaganda ‘toleransi untuk semua’ yang didengung-dengungkan selama ini?

Intergroup Empathy (empati antar kelompok)

Alasan utama saya menulis ini adalah karena keprihatinan. Seharusnya yang namanya berempati itu tidak milih-milih, tidak melihat siapa yang terdzolimi dan siapa yang didzolimi.


Empati dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk merespon pikiran dan perasaan orang lain, baik secara emosional maupun dengan menggunakan pikiran (Taufik, 2012). Salah satu faktor yang sangat menentukan tingkat akurasi empati seseorang adalah faktor hubungan antara orang tersebut dengan target empati. Empati akan sulit dilakukan apabila terdapat jarak sosial antara orang yang berempati dengan target empati-nya. Manusia umumnya cenderung kurang peka atau perhatian terhadap emosi negatif (seperti kesedihan atau kemarahan) yang dialami oleh orang yang memiliki jarak ruang dan waktu dengannya, ataupun berbeda dalam hal ras, golongan, ataupun kelompok sosial (Batson & Ahmad, dalam Cikara, dkk., 2011).
Namun, empati memiliki konsep yang dinamakan perspective taking, yaitu menempatkan diri sendiri ke dalam posisi orang lain serta betul-betul mengerti dan memahami apa yang terjadi pada orang lain tersebut (Taufik, 2012). Perspective taking yang menitikberatkan pada emosi disebut dengan emotional responses. Nah, melalui proses perspective taking inilah empati dapat membantu seseorang untuk lebih memahami perasaan dan emosi orang dari kelompok atau golongan yang berbeda, sekaligus meningkatkan interaksi yang positif, dan memperbaiki hubungan interpersonal maupun antar kelompok yang semula saling tidak menyukai satu sama lain (Yabar & Hess, 2007).
Perspective taking maupun emotional responses membentuk empat kondisi psikologis di dalam hubungan antar kelompok (Batson & Ahmad, dalam Taufik, 2012) yaitu :
  1. Imagine-self perspective : yaitu membayangkan bagaimana kita berpikir dan merasakan apabila kita berada pada kondisi atau posisi seseorang.
  2. Imagine-other perspective : yaitu membayangkan apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh orang lain pada sebuah situasi.
  3. Emotion matching : yaitu merasakan emosi yang sama sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain.
  4. Empathic concern : yaitu kemampuan merasakan apa yang sedang dibutuhkan oleh orang lain.

Memahami dan merasakan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain. Pada tataran inilah kita seharusnya mampu menggunakan empati kita dalam melihat orang-orang yang ‘berbeda’ dengan kita. Dengan adanya empati ini, kita tidak akan dengan mudahnya memberikan prasangka, penilaian, ataupun sikap yang buruk terhadap orang lain. Misal terhadap kaum Syiah dan Ahmadiyah. Sekalipun menurut kita Syiah dan Ahmadiyah itu sesat, apakah kemudian itu menghalangi kita untuk merasa kasihan dan bertindak simpati terhadap para korban yang terusir dari kampungnya ataupun yang masjidnya dibakar? Begitupun sebaliknya, terhadap Ikhwanul Muslimin, Hamas, dan kawan-kawannya. Anda boleh saja mengatakan Ikhwanul Muslimin dan Hamas itu salah. Tapi, jika kemudian membunuhi mereka (bahkan termasuk anak-anak dan wanitanya), merampas hak milik mereka, mengganggu hak mereka untuk beribadah dan menerapkan apa yang menurut mereka diajarkan oleh agama mereka, apakah itu semua dibenarkan? Hmm.....

Oke, coba saya kasih satu contoh orang yang gak bisa berempati antar kelompok. Sebut saja namanya Pak Kencot, sedang jalan kaki. Tiba-tiba di dekatnya ada seorang pemuda naik motor, brakk! jatuh dia/kecelakaan tunggal. Di sekitar mereka gak ada orang lain. Pak Kencot langsung mendekati pemuda tersebut, yang ternyata sudah sekarat dan harus segera diambil tindakan. Sebelum menolongnya, Pak Kencot malah tanya dulu "kamu orang Jawa atau luar Jawa?". Terus pemuda itu menjawab sambil kesakitan "aduuuh....Jawa, aduuh..." Terus Pak Kencot tanya lagi "suku Jawa, Sunda, atau Betawi?" terus pemuda itu jawab lagi sambil terus memegangi kepalanya "Jawa pak! aduuuh...sakit sekali ini pak!! tolong..." Pak Kencot masih bertanya lagi "Jawa Timur, Tengah, atau Jogja?!" orang itu jawab lagi sambil meronta-ronta "Jawa Tengah!! aduuh! tolong pak, aduuuh!" Sudah begitu kondisinya, eh Pak Kencot masih tanya lagi "Jawa tengahnya Solo, Ngapak, residenan Kudus, atau Magelang?" "Ngapaaaak!!!!!" pemuda itupun berteriak. Sudah klimaks, dan Pak Kencot masih juga bertanya "Ngapak Banyumasan atau Tegal?" Akhirnya, pemuda itu pun........(isi sendiri)
Apakah kita mau seperti Pak Kencot?

Satu hal lagi. Bukankah dengan berempati, sebenarnya itu justru memudahkan kita untuk berdakwah? Misalnya terhadap kaum homoseksual. Dengan berempati, kita dapat memahami dan mengerti kenapa mereka seperti ini dan itu. Setelah faham, kita akan mudah untuk meluruskan mereka dan mengarahkan mereka kepada hal yang lebih benar. Melalui empati, kita tidak akan mudah men-cap jelek atau mengucilkan mereka di satu sisi, dan di sisi lain tanpa harus melebur menjadi homoseksual juga. Begitu juga dapat diterapkan dalam dakwah terhadap kelompok-kelompok yang lain.

Mungkin demikian yang bisa saya gambarkan. Saya sendiri masih perlu belajar banyak untuk dapat berempati, karena menurut sebagian orang kadang saya masih suka berpikiran picik, hehe. Sebelum tulisan ini diakhiri, inti dari artikel ini mungkin dapat terwakili oleh Al Qur’an Surat Al Maa’idah ayat 5 berikut ini :

“.....Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa...”

Wallahu’alam bisshowab.



Daftar Pustaka :
Cikara, M., Bruneau, E.G., & Saxe, R.R. (2011). Us and them : intergroup failures of empathy. Current Directions in Psychological Science, 20 (3), 149-153.
Taufik (2012). Empati, pendekatan psikologi sosial. Jakarta: Rajawali Press.
Yabar, Y. & Hess, U. (2007). Display of empathy and perception of outgroup members. New Zealand Journal of Psyhology, 36 (1), 42-49.


Kamis, 30 Mei 2013

Matematika Relasi Sosial

Anda tentu tahu rumus matematika ini :

(+) x (+) = (+)
(+) x (-) = (-)
(-) x (+) = (-)
(-) x (-) = (+)

Ternyata, dalam kehidupan sosial sehari-hari, rumus ini juga dapat diterapkan, dalam hal memprediksi bagaimana potensi hubungan kita dengan seseorang, berdasarkan hubungan orang tersebut dengan orang lain yang telah memiliki hubungan terlebih dahulu dengan kita. 
Dalam hal ini, nominal positif (+) kita substitusikan sebagai orang yang memiliki hubungan dengan kita sebagai seorang teman, sahabat, kerabat, atau sejenisnya. Sementara nominal negatif (-) kita substitusikan sebagai orang yang memiliki hubungan kurang baik dengan kita, semisal musuh, saingan, ancaman, atau sejenisnya.
Maka, akan kita dapatkan rumus sebagai berikut :

Teman (+) dari Temanku (+) adalah (=) Temanku (+)
Teman (+) dari Musuhku (-) adalah (=) Musuhku (-)
Musuh (-) dari Temanku (-) adalah (=) Musuhku (-)
Musuh (-) dari Musuhku (-) adalah (=) Temanku (+)

Memang, suatu dinamika sosial tidak akan se-kaku rumus matematika. Akan tetapi, pada kenyataannya, relasi sosial serupa rumus di atas lah yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Kita biasanya akan menganggap teman dari teman kita juga bisa menjadi teman bagi kita. Kita akan nyaman bergaul dengan mereka. Sementara apabila kita memusuhi seseorang, kita akan mengganggap teman dari orang tersebut sebagai musuh kita juga. Begitu juga dengan orang yang memusuhi teman kita, biasanya kita akan balas memusuhi mereka. Uniknya, apabila kita mungkin punya musuh, kemudian ada orang lain yang memusuhi musuh kita itu, kita biasanya akan ‘berkoalisi’ dengan orang lain tersebut. 

Rumus ini memang tidak selalu dapat digeneralisir secara sempurna. Tapi setidaknya, rumus ini bisa kita gunakan untuk memahami berbagai interaksi dan relasi sosial yang ada di sekitar kita, khususnya dalam ranah politik, kompetisi, dan tak jarang juga di dunia kerja. Sehingga, kita dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang mungkin dapat mengenai diri kita sendiri. Namun, apapun itu, yang jelas saya pribadi dan juga anda, tentu tidak pernah berharap punya musuh, dan hanya menginginkan rumus yang pertama ( + x + = +) yang terjadi pada diri kita.

Senin, 19 Desember 2011

6 Tokoh Terkenal yang Mengidap Autisme


Kalimat pembuka saya hanya satu : Semoga saya bisa menyusul mereka, Amiin.

1.    Temple Grandin

Namanya sempat masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time pada tahun 2010, untuk kategori ‘Heroes’. Grandin adalah seorang Doktor di bidang ilmu hewan dan juga profesor di Colorado State University, merangkap sebagai seorang konsultan perilaku hewan di sebuah perusahaan livestock. Di samping itu, dia juga dikenal sebagai penulis yang cukup sukses. Salah satu bukunya yang terkenal adalah ‘Thinking in Pictures’, yang menjelaskan bagaimana memahami cara pandang orang autis serta teknik untuk menolong anak autis. Grandin juga menemukan ‘squeeze machine’, yaitu mesin yang dapat menenangkan orang yang hipersensitif.
Grandin didiagnosa autis pada tahun 1950, atau beberapa tahun sebelum pelayanan dan intervensi dini dapat diterapkan pada keluarga. Semula, dia sulit untuk berbicara, meski setelah empat tahun akhirnya mengalami perkembangan berarti. Grandin mengaku masa SMP-SMA sebagai masa terburuk baginya, karena sebagai anak yang dianggap aneh, dia sering diganggu oleh teman-temannya. Orang-orang suka memanggilnya dengan ‘tape recorder’, karena suka mengulang-ulang secara terus-menerus kata yang didengarnya. Meski demikian, Grandin sukses besar dalam dunia akademisnya, sebagaimana dijelaskan di atas. Semua kesuksesan itu didedikasikannya untuk ibunya, yang telah memberinya pengasuhan dalam bentuk aktivitas yang terstruktur semenjak dia kecil, di mana itu sangat membantunya melewati masa-masa autisnya.

2.    Axel Brauns

Brauns adalah seorang penulis dan produser film kelahiran Hamburg, Jerman. Brauns berhenti dari sekolah hukumnya pada tahun 1984, untuk berkonsentrasi pada karir menulisnya. Brauns telah menulis sejumlah novel, antara lain dengan menciptakan karakter literal yang populer di Jerman, Adina Adelung, yang kemudian mengantarnya masuk nominasi German Book Prize. Pada 1992, dia merilis buku autobiografinya, ‘Shadows and Coloured Bat – Living in Another World’, yang menggambarkan kehidupannya sebagai seorang autis, yang disebutnya dirasakannya sejak berumur 1 tahun.
Sebagaimana kebanyakan spektrum autis, yaitu larut dalam mempelajari sebuah hal yang sangat spesifik, Braun memiliki ketertarikan terhadap sebuah buku statistik dan genetika kuda berjudul ‘German Harness Racing Studs’. Keasyikannya terhadap buku inilah yang salah satunya menginspirasi buku-buku yang Brauns tulis sendiri. Brauns memiliki kesulitan bicara pada masa kecilnya. Brauns secara susah payah belajar sendiri bagaimana ekspresi wajah dan pola bicara, antara lain dengan banyak membaca komik dan menonton film. Brauns mengaku masih sering merasa tidak nyaman dengan orang-orang di sekitarnya yang tidak dia kenal, dan juga kurang nyaman menghabiskan waktu di depan umum.

3.    James Hobley

Seluruh penonton audisi Britain’s Got Talent 2011 memberikan standing applause begitu anak itu usai membawakan dance-nya. Begitu pula salah satu juri, David Husselhoff. Sekilas, dance yang dibawakan oleh anak berambut pirang itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang ditampilkan para peserta lain. Tapi, ada satu hal yang membuat sang anak berbeda : dia anak dengan autisme. Hobley kemudian terus melaju hingga putaran final, sebelum terhenti di babak 8 besar. Namun, satu hal, dia telah menginspirasi banyak anak berkebutuhan khusus di Inggris untuk elbih berprestasi. Kisah suksesnya ini juga sempat dibuatkan film dokumenternya oleh BBC, dengan judul ‘Autism, Disco, and Me’.
Hobley merupakan satu dari dua saudara kembar di keluarganya, yang sama-sama didiagnosa autis. Awalnya dia tak dapat membaca dan menulis. Namun, segalanya berubah setelah dia berkenalan dengan dunia menari (dancing) pada usia 8 tahun, yang memberinya passion yang luar biasa. Melalui musik dalam dance itu, dia bisa mengekspresikan dirinya, dan mulai memiliki banyak teman. Cita-citanya kini adalah menjadi penari balet di sebuah perusahaan entertainment yang besar.

4.    Jason McElwain

“But our country was captivated by your amazing story on the basketball court. I think it’s a story of coach Johnson’s willingness to give a person a chance. It’s a story of Dave and Debbie’s deep love for their son, and it’s a story of young man who found his touch on the basketball court, which in turn, touched the hearts of all citizen all across the country.”
Itu adalah sebuah komentar yang diberikan oleh mantan presiden A.S, George W.Bush mengenai rekor 20 point dalam waktu 4 menit dalam sebuah pertandingan basket tingkat SMA di Amerika. McElwain, yang bersekolah di Greece Athena High School, dibawa oleh pelatih tim basket SMA-nya sebagai pemain cadangan melawan Spencerport High School, sebagai pemain cadangan. Ketika waktu bersisa 4 menit dan Greece unggul, sang pelatih memasukkan McElwain. Dia kemudian secara luar biasa mencetak 6 kali three-point dan sekali two-point sebelum pertandingan berakhir. Semenjak pertandingan itu, nama McElwain langsung melambung bak selebritis dadakan di Amerika Serikat. Sebuah lagu dan sebuah buku ditulis untuknya. Bahkan rencananya, kisahnya juga akan difilmkan oleh Walt Disney dan Warner Bros company, meski belum terealisasi hingga sekarang. McElwain didiagnosa autis kala masih kecil. Dia mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Namun, seiring berkembangnya usia, dia mulai belajar untuk bersosialisasi. Meski di SMA-nya dimasukkan dalam kelas khusus, namun McElwain sangat menyenangi olahraga basket. Salah satu kesibukannya saat ini adalah berkeliling Amerika untuk menggalang dana bagi anak-anak autisme.

5.    Matt Savage

Usianya baru 19 tahun, tapi dia sudah menjadi salah satu musisi jazz kenamaan Amerika. Hingga kini, dia telah merilis sekurangnya 4 album musik instrumental. Savage juga telah menerima banyak penghargaan. Dia juga merupakan satu-satunya anak-anak yang pernah diterima oleh tim Bosendofer Pianos dalam sejarah 175 tahun company tersebut. Pada usia 14 tahun, dia telah melakukan konser berkolaborasi dengan Chaka Khan dan berbagai penyanyi terkenal lain. Matt didiagnosa memiliki gangguan perkembangan pervasif, salah satu pola autisme, pada usai 3 tahun. Pada mulanya dia tidak suka dengan musik yang berisik, sebelum akhirnya dia mulai tertarik pada piano, dan akhirnya mulai mendalami musik jazz dan klasik. Karena kecerdasannya yang luar biasa, meski tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal dan juga pendidikan musik secara khusus, namun Matt mampu belajar sendiri mengenai musik hingga menjadi komposer yang handal. Di samping bermusik di panggung, Matt juga sering tampil di berbagai program televisi dan radio sebagai bintang tamu.

6.    Satoshi Tajiri

Mungkin anda pernah mendengar nama ‘Pokemon’? Ya, kartun animasi anak-anak yang sangat populer di era akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sang kreator, pria Jepang bernama Satoshi Tajiri, adalah pengidap autisme, lebih tepatnya sindrom Asperger (meski dalam DSM-IV sebenarnya asperger tidak diklasifikasikan dalam autisme, namun seringkali keduanya disamakan, karena banyaknya kemiripan simtom). Sejak kecil hingga remaja, Tajiri sangat tergila-gila dengan arcade games. Begitu candunya terhadap video game, pria kelahiran 1965 ini mulai memproduksi majalah mengenai game bernama ‘Game Freak’ pada 1978. Pokemon sendiri mulai dibuatnya pada 1996. Idenya berasal dari keinginan Tajiri membuat game di mana anak-anak bisa menangkap dan mengkoleksi sesuatu, sebagaimana keasyikannya pada serangga di masa kecil. Selain video games dan film kartun, Pokemon juga diproduksi dalam bentuk manga (komik), film, bahkan dalam wujud grafiti di berbagai alat transportasi. Di Indonesia, juga biasa dijumpai dalam festival-festival Cosplay. 

Minggu, 15 Mei 2011

Daya Tarik Interpersonal Lalita Gandaputri

Kali ini saya akan membahas mengenai orang-orang yang paling menjadi inspirasi dalam hidup saya. Salah satunya, yang akan pertama kali saya profilkan di blog ini adalah reporter metro tv biro Jogja, Lalita Gandaputri. Saya tidak menjadikannya idola dikarenakan dia adalah reporter stasiun tv terkenal. Saya kurang cocok dengan paradigma yang dimiliki oleh stasiun tv tempatnya bekerja itu, apalagi mereka belakangan sangat cenderung mempolitisasi segala sesuatu dengan tujuan mengangkat sang pemimpin mereka (untuk jadi capres mungkin). Bahkan saya tidak peduli Lalita bekerja di stasiun tv mana. Saya mengidolainya murni karena dirinya seorang, dengan segala karakter dan perilakunya. 

Lalita Gandaputri saya rasa memang tepat dijadikan sebagai jurnalis yang diidolai, meskipun namanya mungkin tidak terlalu populer di kancah pertelevisian Nasional. Dia adalah reporter lapangan yang luar biasa tangguh. Saya telah mengetahuinya sejak sekitar awal tahun 2009, dan langsung menjadikannya sebagai idola saya saat itu juga. Pada tanggal 8 Agustus 2009, dia dengan beraninya terjun langsung dalam arena tembak-tembakan antara densus 88 dengan seseorang yang diduga buronan kasus terorisme saat itu, Noordin M.Top, di dusun Beji, Temanggung. Pada saat itu, dialah satu-satunya jurnalis wanita yang begitu dekat dengan titik pusat arena penyergapan tersebut. Kemudian pada HUT kemerdekaan RI tahun yang sama, dia dengan berani menuruni jurang yang curam di gua Grubug, Gunung Kidul, untuk meliput upacara pengibaran bendera di dalam gua tersebut. 

Kisah heroik Lalita tak berhenti sampai di situ. Lalita berulang kali kemudian meliput berbagai kejadian penangkapan teroris lain, dan itu membuatnya sering disebut sebagai ‘reporter spesialis teroris’. Pada saat Merapi menggeliat pada periode Oktober-November 2010 yang lalu, Lalita (lagi-lagi) dengan beraninya berkali-kali mencoba mendekati daerah zona berbahaya di sekitar puncak gunung berapi teraktif di dunia tersebut. Dia juga pontang-panting meliput evakuasi para pengungsi Merapi saat itu, mulai dari saat para penduduk masih di kampungnya di sekitar Merapi sampai di pengungsian. Pada masa inilah nama Lalita makin melambung di dunia jurnalisme Indonesia, dan jumlah fans-nya semakin berlipat. Soal fans inilah yang akan saya bahas lebih lanjut. 

Saat ini jumlah friends Lalita di facebook adalah sekitar kurang lebih 4100 orang teman. Kemudian jumlah fans di page-nya di situs jejaring sosial yang sama, berjumlah sekitar 3000 fans. Jumlah ini bahkan mengalahkan para seniornya di metro tv seperti Fessy Alwi yang memiliki jumlah fans sebanyak 1900-an orang, kemudian Zelda Savitri (1400-an fans), hingga Fifi Aleyda Yahya dengan 640-an fans. Lalita juga telah mengalahkan sejumlah reporter atau presenter berita tv lain yang telah lebih dahulu terkenal seperti Rosiana Silalahi (2100-an fans), Indy Rahmawati (7000-an fans+friends, sama dengan Lalita), sampai Nova Rini (jumlah hampir sama). Bahkan jumlah fans Lalita mendekati reporter senior metrotv yang kini menjadi anggota DPR, Meutya Hafid, dan wartawan internasional, Desi Anwar. Belum lagi ditambah follower twitter-nya yang dalam kurun waktu kurang dari enam bulan telah memperoleh 1109 followers. Padahal, kalau mau dinilai secara objektif, mungkin presenter-presenter berita tadi wajahnya boleh dibilang lebih rupawan. Kecerdasannya juga lebih nampak. Sementara kalau dasarnya adalah jilbab, banyak reporter lain yang juga berjilbab. Lalu, kenapa Lalita bisa mendapat begitu banyak penggemar? Daya tarik interpersonal (interpersonal attraction) adalah salah satu jawabannya. 

Secara teoritis, interpersonal attraction dapat diartikan sebagai seseorang atau kelompok yang cenderung untuk dievaluasi secara positif, cenderung didekati, dan didekati dengan perilaku positif juga (Brigham, 1991). Daya tarik tak melulu bicara soal fisik. Donn Byrne menyatakan sebuah law of attraction (hukum daya tarik) yang isinya menyatakan bahwa daya tarik seseorang terhadap orang lain salah satunya bergantung pada proporsi reinforcement positif yang dia berikan. Reinforcement artinya adalah penguatan. Penguatan positif bisa berupa kesamaan antara ‘dia’ dengan ‘saya’, ataupun bagaimana kemungkinan ‘saya’ akan mendapatkan peningkatan konsep diri atau reward emosional serupa lainnya ketika berinteraksi dengan ‘dia’. 

Dalam kasus Lalita Gandaputri ini, salah satu hal yang membuat wanita asal Trenggalek (Jawa Timur) ini menjadi menarik karena dia dipandang sebagai representasi masyarakat umum. Bagaimana dia seringkali terjun ke lapangan secara langsung dan sporadis, berhubungan secara supel dengan masyarakat, kemudian ditunjang penampilannya yang sederhana namun tetap smart, membuat masyarakat awam kebanyakan akan melihat Lalita sebagai bagian dari mereka. Berbeda bila mereka melihat presenter-presenter studio, yang nampak lebih unreachable dalam banyak hal. Kesederhanaan, keceriaan, dan keberanian Lalita justru membuatnya menjadi lebih menarik dan charming. 

Bagaimana Lalita seringkali begitu ekspresif dalam membawakan berita, juga dapat memberikan harapan pada penontonnya, bayangan bahwa Lalita akan menanggapi mereka secara positif dan antusias seandainya bertemu atau berkomunikasi. Reward yang ini berhubungan juga dengan faktor lain penyebab seseorang memiliki daya tarik interpersonal, yaitu ‘mood’. Dengan kata lain adalah pembawaan. Lalita memiliki kemampuan membawakan dirinya nampak begitu menyenangkan bagi orang lain dan membuat orang merasa nyaman bila di dekatnya. Berbeda dengan kebanyakan presenter berita yang bagi orang awam seringkali dianggap terlalu serius.  

Sekilas, kajian ini nampak hanya bermaksud memuji-muji seorang Lalita Gandaputri. Sebenarnya tidak juga. Analisa di atas dapat diterapkan juga pada banyak tokoh lain, atau bisa juga digunakan sendiri oleh kita untuk dapat menjadi orang yang memiliki daya tarik bagi orang lain. Terlepas dari semua itu, untuk mbak Lalita Gandaputri, saya mau menyampaikan sesuatu dalam bahasa gaul : “Sumpah, gua nge-fans banget sama lo!” 

sumber pustaka :
Brigham, J.C.(1991).Social Psychology.NY:Harper Collins