Halaman

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juli 2012

Puisi Sepasang Merpati



Kala merpati temukan pasangannya
Pemburu kan iba
Tupai kan malu menatap
Elang pun enggan menerkam

Kala merpati terbang berpasangan
Dahan kan mengiba
Angin kan malu bertiup kencang
Hujan pun enggan menetes

Merpati terbang berdua
Kepakkan sayap bersama

Tak satu pun kacaukan merpati
Tak jua semesta

Kala Tuhan berikan jalan
Maka sarang pun menahan
Dua merpati hinggap di peraduan
Memadu kasih di pohon harapan 

Senin, 12 Maret 2012

Titik Akhir



Di kala pencarian telah mencapai titik akhirnya
Akankah sebuah garis yang panjang memotongnya
Di kala penantian telah menjejak batasnya
Akankah tembok yang tinggi menantangnya

Terkadang, akhir sebuah pencarian adalah sebuah misteri
Terkadang, akhir sebuah penantian adalah sebuah pilihan

Kita butuh pengorbanan untuk mencapainya
Kita perlu keikhlasan untuk melepasnya

Titik akhir takkan ada tanpa petunjukNya
Batas akhir takkan sirna tanpa kehendakNya

Dia Yang tentukan
Kita yang temukan

Kini, pencarian telah sampai di titik akhir
Kini, penantian telah hinggap di batas akhir
Adakah misteri, adakah pilihan
Dia Yang tentukan, kita yang temukan

Senin, 13 Februari 2012

Jakarta is Dead



Jakarta is Dead

I don’t know about my dream
Didn’t in the past time
Won’t in the future

Not because of mysterious
But actually depend on a fiction
And my life is a fiction
Written by Him

I am here
But not be
Try to escape to another world
But not there

My dream isn’t abstract
Nor is obvious
Actually that’s not real
Maybe a fiction

Fiction about Jakarta
Fiction about popularity
Fiction about wealthy

Tried to escape to another world
I didn’t find a fiction there
There was just a fantasy

Written there
Written here
Jakarta is Dead

Minggu, 23 Oktober 2011

Tweet About Love Story and Love Plan


Kicauan tentang Kisah Cinta dan Rencana Cinta
(by : @iyak_joe)

Cinta dan citaku tak pernah bisa berjalan beriringan
Maka aku harus mengorbankan salah satunya

Ketika aku tidak jatuh cinta, aku dapat memperoleh segalanya
Ketika aku sedang jatuh cinta, aku bisa kehilangan segalanya

Aku ingin bahagia di dunia, maka kulepaskan cinta
Aku ingin selamat di akhirat, maka kuenyahkan cinta

Jatuh cinta tidak serupa dengan bertemu jodoh
Bila tiba waktunya, dia akan datang dengan sendirinya

Aku tidak membenci cinta
Aku tidak melenyapkan cinta

Hanya Cinta-Nya dan cinta ibuku
Penuntun kepada kemurnian komitmen dua insan yang menyatu

Dan jatuh cinta,
Akan tumbuh dalam persemaian sebuah komitmen

#lovestory&plan

Kamis, 21 Juli 2011

Aku yang Rendah



Mungkin aku rendah
Aku ingin menggapai buah yang tinggi
Tapi aku rendah
Ataukah hanya merasa rendah ?

Aku bisa menggapai buah itu
Karena aku tinggi
Ataukah hanya merasa rendah ?

Mungkin aku rendah
Aku bisa memakai pijakan
Tapi pijakan itu rendah
Ataukah hanya dirasa rendah ?

Tuhan Menciptakan aku tinggi
Tapi aku butuh pijakan
Aku merasa rendah

Dan buah itu ?

Sesungguhnya buah itu tidaklah tinggi
Hanya aku yang merasa rendah

Rabu, 11 Mei 2011

Dia Masih Juara

Aku bukan pemilih
Keangkuhan bukan bagian hatiku
Aku hanya seorang pengelana
Mencari bagian hatiku

Ini bukanlah ketinggian hati
Ini adalah penghargaan
Pemuliaan bakal terkasih
Penyematan gelar bagi yang terbaik
Bagi juara dari para juara

Dan gelar itu
Jatuh kepadanya
Masih jatuh kepadanya

Gelar itu belum tercabutkan
Tak dapat tercabut
Tanpa belaian hukum

Hukummu
Hukumku
HukumNya

Dan dia
Masih juaranya

Jumat, 22 April 2011

Asaku yang Tertinggal di Jakarta

Jakarta adalah sebuah kota besar, menjadi impian bagi siapa saja orang Indonesia yang ingin mendulang uang banyak, ingin jadi orang terkenal, ingin menikmati surga dunia deh pokoknya. Itu adalah sebuah paradigma, sebuah pola pikir yang ada di benak setiap orang di berbagai daerah di Indonesia dari sejak jaman Bung Karno dulu. Menurut pandangan orang-orang di provinsi-provinsi lain di luar DKI, pergi ke ibukota sama saja sebuah harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, daripada terus-menerus hidup di tempat asal. Tapi, apakah paradigma itu masih berlaku ?

Ketika tulisan ini saya ketik, saya belum lama merasakan menjadi sarjana. Dalam rentang waktu yang sama sejak saya wisuda hingga menulis ini, sudah banyak sekali teman-teman saya, dari teman SMP, SMA, sampai kuliah, yang kemudian mengadu nasib, bekerja di Jakarta. Sementara saya sendiri ? Sempat (dan mungkin masih) terpikir untuk bekerja di sana. Saya adalah seorang pemuda, masih memiliki masa depan (InsyaAllah), dan masih punya harapan untuk dapat meraih mimpi-mimpi saya. Sebagian mimpi-mimpi itu ada di Jakarta. Begitupun dengan sebagian cinta saya, ada yang masih tertinggal di Jakarta.

Akan tetapi, Jakarta tetaplah sebuah kota di dunia, bukan sebuah tempat di surga. Karena itu Jakarta masih memiliki banyak kelemahan yang membuat sebenarnya dia tidak cocok untuk sebagian orang dengan tipe dan karakter tertentu. (Hmm..barangkali dari tadi orang Jakarta yang membaca tulisan ini sudah membatinnya). Jakarta adalah kota yang keras (betul kan?), sangat ‘time is money’ oriented. Siapa cepat, dia dapat. Tidak akan cocok bagi orang-orang yang sebenarnya tidak begitu ambisius, orang-orang yang mengutamakan keamanan daripada mengambil resiko, orang-orang yang bekerja dengan impulsif atau ‘yang penting kerja’. 

Barangkali orang-orang Jakarta yang saat ini membaca tulisan ini, bisa memberitahukan kepada saya, jikalau saya ada kesalahan. Jikalaupun saya benar, maka wahai orang-orang Jakarta yang membaca tulisan ini, beritahukanlah kepada saya : “apakah saya cocok dengan Jakarta ? dan bagaimana dengan cinta saya yang ada di sana ?” Ah, saya mungkin lebih baik mengharapkannya pulang, mari menghabiskan waktu dengan saya di sini (Jogja) saja, atau di kota lain. Ataukah mungkin suatu saat nanti saya akan membaca kembali tulisan ini dari sebuah rumah saya di Jakarta ?