Halaman

Rabu, 29 Agustus 2012

Memasuki Era PascaGalau



Saya pernah melihat sebuah blog pribadi milik seseorang yang menjelaskan bahwa masa hidup itu terdiri dari masa galau dan masa pra-galau. Hey, bukannya kalau ada ‘pra’ seharusnya juga ada ‘pasca’? Selalu begitulah siklus hidup manusia. Selalu demikian siklus yang mengaluri sebuah peradaban.

Alhamdulillah, masa galau yang sangat lama sebagaimana yang saya tulis dalam artikel saya terdahulu, ‘Kegalauan Seperempat Abad’, sebentar lagi akan berakhir. InsyaAllah dengan rahmat Allah SWT, saya akan memasuki masa Pasca-Galau. Sebagaimana saya tulis di artikel pada yang diunggah Oktober 2011 itu, saya sudah tidak memiliki kesanggupan lagi untuk menahan kegalauan yang telah berlangsung sangat lama itu, dan saya memiliki banyak harapan terkait kehadiran seorang pendaming hidup.

Namun satu hal, yang nyaris terlupakan oleh sebagian besar manusia adalah, bagaimana selanjutnya setelah memasuki masa Pasca-Galau tersebut? Ibarat sebuah negara yang baru merdeka, bagaimana selanjutnya setelah merdeka itu? Ibarat seorang mahasiswa yang diwisuda, bagaimana selanjutnya ke depannya? Manusia seringkali begitu mendambakan sesuatu selama bertahun lamanya, memperjuangkannya mati-matian. Namun begitu setelah mendapatkannya, yang bersangkutan bingung sendiri harus bagaimana selanjutnya. Tak salah jika dalam dunia kompetisi olahraga, dikenal istilah ‘mempertahankan lebih sulit daripada merebut’.

Sebenarnya, inti dari ‘what should I do after this?’ itu simpel saja, cukup diperlambangkan dengan satu kata : ‘Bersyukur’. Akan tetapi, apakah sesimpel itu? Gak juga. Cakupan kata ‘bersyukur’ itu terlalu luas. Bersyukur itu bukan hanya mengucap “Alhamdulillah”. Begitu banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bersyukur, dan tak akan cukup bila ditulis di sini. Bahkan mungkin tak cukup dituangkan dalam sebuah buku yang sangat tebal. Hanya Anda yang tahu, bagaimana cara mensyukuri nikmat yang telah anda miliki.

Yang jelas, begitu memasuki masa Pasca-Galau ini, maka segala pengalaman getir-pahit yang kita rasakan selama masa Galau dulu hendaknya tidak perlu kita ungkit-ungkit lagi, kecuali kita jadikan sebagai sebuah pelajaran yang berharga untuk ke depannya. Memasuki sebuah era yang baru, tentu akan muncul tantangan-tantangan baru yang tentunya membutuhkan perencanaan serta sikap yang baru pula.

Satu hal yang paling utama : Membuktikan diri bahwa saya pantas menerima nikmat ini. Ya, bersyukur dalam masa Pasca-Galau sebenarnya tak melulu mencakup pembuatan sistem baru. Terkadang, cukup dengan mewujudkan apa yang telah kita niatkan ketika masa galau dulu, apa yang telah kita rencanakan apabila kita telah memperoleh apa yang kita inginkan. Tentu juga menyesuaikan dengan kondisi dan perubahan yang ada.

Dengan demikian, sejatinya kita telah cukup siap untuk menghadapi sebuah era baru, masa Pasca-Galau. Tinggal bagaimana menjalankannya saja. Bismillahirrohmanirrohim...

Kamis, 12 Juli 2012

Piala Akhirat



Kita belum lama melewati sebuah gelaran pesta sepakbola yang cukup gegap gempita, yaitu Piala Eropa 2012. Sebagaimana sebuah turnamen sepakbola kelas dunia, hampir semua orang di dunia – bahkan yang biasanya kurang menggemari sepakbola sekalipun – begitu antusias menonton dan mengikuti perkembangan turnamen ini. Meski pagi harinya harus bekerja di kantor atau membuka usaha, orang-orang rela bergadang pada dini hari demi menonton turnamen ini, hingga akhirnya bekerja sambil mengantuk-ngantuk.

Begitu gelaran Euro 2012 itu usai, orang-orang kembali beraktivitas normal seperti sedia kala. Namun, tanpa sadar – atau sengaja tidak menyadari – kita sebenarnya akan menghadapi sebuah kompetisi yang jauh lebih besar, yang tidak ada bandingannya dibanding Euro atau bahkan Piala Dunia dan Olimpiade sekalipun. Turnamen itu bernama bulan Ramadhan, atau saya menyebutnya sebagai ‘Piala Akhirat’.

Piala Akhirat? Ya, memang seperti itulah bulan Ramadhan. Apabila Piala Dunia atau Piala Eropa hanya diikuti segelintir orang saja, maka kita semua yang beragama Islam tanpa terkecuali bakal terlibat dan turut berkompetisi dalam Piala Akhirat ini. Apabila dalam Piala Dunia atau Piala Eropa kita mungkin gak ‘kecipratan’ hadiah, honor, serta doorprize yang diterima oleh para peserta dan juga juaranya, maka dalam Piala Akhirat ini, kita bisa turut kebagian hadiahnya! Padahal hadiah yang ditawarkan dalam Piala Akhirat ini amat sangat jauh lebih besar daripada hadiah yang diperoleh oleh juara Piala Dunia. Apa nggak asyik tuh?!

Hadiah yang diterima oleh Spanyol ketika menjuarai Piala Dunia 2010 adalah sebesar total 30 juta U.S dollar (Rp 271 Miliar), sementara tiap pemainnya masing-masing mendapat bonus tambahan hampir sebesar Rp 7 Miliar. Bandingkan dengan hadiah yang bakal kita terima, dengan ‘hanya’ sekedar turut berkompetisi dalam Piala Akhirat ini. Misalnya, ketika kita makan sahur. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa di dalam sahur itu terdapat keberkahan, dan Allah serta para malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur. Kita diperhatikan sama Allah dan malaikat aja itu berarti kita bakalan dikasih apa aja yang kita minta, apalagi ini kita dishalawatin! Begitu pula ketika kita berbuka. Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda : Allah Azza wa Jalla berfirman, “Hamba-hambaKu yang paling Aku sukai adalah yang paling cepat kalau berbuka puasa” (HR. Tirmidzi).

Sejatinya, bulan Ramadhan memang sebuah kompetisi. Sebagaimana tugas manusia di dunia untuk fastabiqul khairat alias berlomba-lomba dalam kebaikan (QS.2:148), maka demikian pula dengan berpuasa dan beribadah dalam bulan Ramadhan ini. Kualitas antara satu orang dengan orang lainnya dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan akan berbeda, dan itu akan turut menentukan sejauh mana mereka melangkah di bulan suci ini dan sebesar apa ganjaran yang akan mereka dapatkan. Mereka yang ‘menang’ akan berbahagia di hari raya Idul Fitri yang juga sering disebut sebagai hari kemenangan. Ini mirip seperti Piala Dunia atau Piala Eropa yang kompetisinya bertahap mulai dari babak kualifikasi, fase grup, perempatfinal, semifinal, hingga grand final.

Bulan Rajab dan Sya’ban boleh dibilang sebagai ‘babak kualifikasi’. Mereka yang gembira menyambut datangnya Ramadhan, diharamkan oleh Allah jasadnya menyentuh api neraka (HR.Nasa’i). Mereka pula lah yang lebih berpeluang untuk dapat menempuh Ramadhan secara khusyu’ dan berhasil. Seseorang yang dalam puasanya tidak mampu menahan amarah dan nafsunya, maka tidak ada yang didapatkannya melainkan hanya lapar dan haus (HR.Ahmad). Namun bagi mereka yang berhasil menahan nafsu dan syahwatnya di bulan puasa, maka mereka akan digolongkan sebagai orang-orang bertakwa (QS.2:183). Mereka itulah ibaratnya orang-orang yang akan melaju ke fase knock out (perempatfinal dst).

Motivasi seseorang seringkali menurun pada hari-hari terakhir Ramadhan. Padahal, justru pada 10 hari terakhir itulah Allah SWT Menurunkan sebanyak-banyaknya pahala, rahmat, dan ampunan, bahkan lebih besar dari hari-hari lain sepanjang tahun. Di sinilah pula terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Maka dari itu kemudian kita dianjurkan untuk beriktikaf di masjid, memperbanyak shalat malam dan membaca Al Qur’an. Nah, orang-orang yang melakukan iktikaf dan berbagai ibadah di akhir-akhir Ramadhan inilah mereka yang lolos ke partai final. Sementara mereka yang 10 hari terakhir lebih rajin belanja dan ke mall, ya boleh dibilang cuma sampai perempatfinal aja deh.

Terus, tropi juaranya? Kalau Piala Dunia dan Eropa tropinya hanya ada satu, maka untuk Piala Akhirat ini tidak tanggung-tanggung, Allah Azza wa Jalla Menyediakan sebanyak-banyaknya tropi sampai tak terhingga jumlahnya! Dengan demikian, berarti sebenarnya kita semua, tanpa terkecuali, berpeluang untuk memboyong Piala Akhirat tersebut dan mendapat ‘hadiah-hadiah tambahan’ lain yang tak ternilai di hari akhir kelak. So, masih tidak tertarik untuk ikut berlaga?

Rabu, 04 Juli 2012

Puisi Sepasang Merpati



Kala merpati temukan pasangannya
Pemburu kan iba
Tupai kan malu menatap
Elang pun enggan menerkam

Kala merpati terbang berpasangan
Dahan kan mengiba
Angin kan malu bertiup kencang
Hujan pun enggan menetes

Merpati terbang berdua
Kepakkan sayap bersama

Tak satu pun kacaukan merpati
Tak jua semesta

Kala Tuhan berikan jalan
Maka sarang pun menahan
Dua merpati hinggap di peraduan
Memadu kasih di pohon harapan 

Jumat, 01 Juni 2012

Prediksi Euro 2012


Sebelum saya bercerita ngalor ngidul, yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa yang namanya ‘prediksi’ bagi saya itu beda dengan ‘menjagokan’. Kalau soal menjagokan, saya dari dulu terbiasa menjagokan tim-tim yang tidak banyak diunggulkan orang alias tim-tim gurem. Bagi saya, menjagokan tim-tim kecil itu enak : kalau kalah, ya wajar ; kalau menang, itu kepuasannya luar biasa. Tapi kalau prediksi, sifatnya cenderung lebih objektif dan realistis, dan tidak ada unsur emosional di dalamnya.

Sebelum menuju ke prediksi detail, setidaknya ada dua hal utama yang saya prediksikan bakal terjadi di Euro 2012 kali ini :
1. Spanyol gak bakal juara! Saya yakin 99% untuk itu, dan –kalau gak inget dosa- juga berani bertaruh. Karena, belum pernah ada ceritanya tim yang sehabis juara Dunia dan Eropa berturut, setelah itu juara lagi di piala Dunia atau piala Eropa edisi berikutnya.
2. Fenomena yang terjadi di liga-liga Eropa musim ini, yang tampil sebagai juara adalah mereka yang sudah lama sekali atau belum pernah juara, dan juga tim-tim yang melakukan revans.
Berdasarkan itu, maka ada empat tim yang paling berpeluang juara : Inggris, Portugal, Belanda, Jerman.
Peluang Inggris dan Portugal menjadi lebih besar, mengingat adanya fakta lain yang mendukung berupa siklus juara awal dasawarsa yang selalu memunculkan juara baru : 1964 (Spanyol), 1972 (Jerman Barat), 1984 (Prancis), 1992 (Denmark), 2004 (Yunani).



Oke, sekarang saatnya prediksi secara runtut.
NB : jika anda bakal sering menemui kata ‘biasanya’, ya begitulah cara saya memprediksi J

Grup A
Tim lolos : Polandia dan Rep.Ceska
Faktor tuan rumah akan membantu Polandia lolos dari grup, karena biasanya begitulah tuan rumah yang sebelumnya baru pernah sekali tampil di ajang yang bersangkutan. Contohnya adalah Jepang di PD 2002. Rep.Ceska adalah tim yang paling ‘nggak kelihatan’ (note : ‘gak kelihatan’ berbeda dengan ‘gak diunggulkan’) di grup ini, dan faktor itulah yang akan meloloskan mereka mendampingi Polandia. Rusia adalah tim kuat, tapi bentrok dengan sesama tim kuat Rep.Ceska di partai perdana dan kemudian bertemu tuan rumah Polandia serta Yunani di partai terakhir, bukanlah jadwal yang menguntungkan bagi mereka. Maaf untuk Yunani, keberuntungan tidak datang dua kali, ini bukan 2004.

Grup B
Tim lolos : Portugal dan Belanda
Ingat grup maut grup F di Piala Dunia 2002 ? Hal serupa akan terjadi di grup B ini. Portugal adalah tim yang diunggulkan ketiga di grup ini di bawah Jerman dan Belanda, tapi justru faktor itulah yang akan membuat Ronaldo cs. tampil mengejutkan sebagai juara grup. Hanya salah satu di antara Jerman dan Belanda yang akhirnya akan lolos, dan menurut saya itu adalah Belanda. Kenapa? 1. Jerman adalah tim kedua (setelah Spanyol) yang paling diunggulkan menjadi juara di turnamen ini, dan mereka juga paling diunggulkan di grup maut ini. Biasanya, tim yang memiliki salah satu (catet : salah satu) saja dari dua status itu akan gagal melaju dari fase grup, sedangkan tim Panser memiliki keduanya! Jadi, ya tamatlah sudah; 2. Pada faktanya, Jerman memang seringkali gagal bila dimasukkan ke dalam grup maut seperti ini (contohnya di Euro 2000 dan 2004). Sebaliknya, Belanda seringkali sukses melewati tantangan semacam itu (contohnya di PD 2006 dan Euro 2008); Denmark hanya akan menjadi bulan-bulanan, sebagaimana biasanya nasib tim paling lemah di sebuah grup maut.

Grup C
Tim lolos : Spanyol dan Italia
Untuk sementara, Spanyol masih terlalu tangguh bagi lawan-lawannya di grup C, dan gak perlu dibahas lagi kenapa. Italia yang tampil dengan wajah baru bakal mampu menahan imbang tim matador, tapi tidak cukup untuk menjadi juara grup. Kroasia rasanya sulit untuk mengulang sukses mereka di Euro 2008, karena masih banyak mengandalkan muka-muka lama yang sudah ‘habis’. Sementara Irlandia dengan Trappatoninya saya prediksi bakal berada di peringkat tiga, di antaranya dengan menyulitkan negara asal sang pelatih di pertandingan terakhir.

Grup D
Tim lolos : Inggris dan Prancis
Inggris tidak diunggulkan di Euro kali ini, tapi justru itulah yang akan membuat mereka tampil mengejutkan, diawali dengan menjadi juara grup D. Sementara Prancis dengan pelatih mudanya, Laurent Blanc, bakal meneruskan trend positif tim-tim berbekal pelatih belia dalam beberapa tahun terakhir. Tuan rumah Ukraina tidak seberuntung Polandia karena berada di grup yang relatif lebih berat. Swedia terlalu mengandalkan Ibrahimovic, jadi ucapkan selamat tinggal buat mereka.

Perempatfinal
Polandia vs Belanda
Yang namanya tuan rumah, kalau sudah ‘terlanjur’ lolos dari fase grup, umumnya bakal melangkah minimal satu fase lagi. Tim oranye pun harus melupakan impiannya untuk membalas dendam atas kegagalan di final PD 2010.

Portugal vs Rep.Ceska
Bukan timing-nya bagi Ceska untuk bikin kejutan, dan kedigdayaan Portugal pun masih berlanjut.

Spanyol vs Prancis
Oke, para pecinta sepakbola, siap-siap melihat kejutan besar terjadi di sini. Setelah Di Matteo, kini giliran Blanc yang bakal bikin permainan tiki-taka mati kutu. 2012 adalah anti-klimaks dari era kejayaan Barcelona dan Spanyol.

Inggris vs Italia
Duel klasik yang selalu menjanjikan pertandingan seru, sebagaimana pertemuan antar klub dari kedua negara di liga Champions. Kali ini keberuntungan bakal memihak Inggris, namun skuad muda Italia tetap akan dikenang dengan penampilan gagahnya yang akan lebih berbahaya di ajang selanjutnya.

Semifinal
Polandia vs Prancis
Faktor pengalaman, kualitas skill individu, dan - terutama sekali – kesiapan maju ke final, akan membuat langkah tuan rumah Polandia terhenti di sini. No more surprise.

Portugal vs Inggris
Lagi-lagi duel dua musuh bebuyutan. Dendam kekalahan adu pinalti di Euro 2004 dan PD 2006 akhirnya terbayar di stadion National Warsawa. Jarang sekali ada tim yang lolos dari grup maut akhirnya tampil sebagai juara turnamen. Pun begitu dengan nasib Seleccao kali ini.

Final
Prancis vs Inggris
Juara : Inggris

Kaget? Gak sesuai prediksi banyak orang? Ya, seperti yang saya katakan di awal, inilah yang bakal terjadi di Euro kali ini. Yang menjadi juara adalah mereka yang dalam sejarahnya belum pernah menggondol piala Henry Delaunay ini. Inggris yang tiap Piala Dunia ataupun Piala Eropa selalu dijagokan menjadi juara namun gagal, akhirnya mengakhiri penantian panjangnya justru di saat tidak lagi diunggulkan. Bukan sekali dua kali, tapi fenomena seperti ini sudah sering terjadi di sebuah kompetisi mayor Internasional sepakbola.  

Selasa, 29 Mei 2012

Pelajaran dari Korea


Akhir April lalu, saya mendapat kesempatan untuk berpergian ke luar negeri untuk pertama kalinya dalam hidup saya, tepatnya ke Korea Selatan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ar Razaq yang telah memberi saya keberuntungan tersebut. Terima kasih juga kepada pihak Zimmer Institute yang telah mengundang dan membiayai segala akomodasi saya untuk ke dan selama di sana. Uniknya, Korea Selatan sebenarnya tidak termasuk dalam daftar 10 Negara yang ingin saya kunjungi , yang pernah saya tulis di blog ini pada sekitar bulan April tahun 2011 lalu, tepat setahun lah. Tapi, itulah misteri Ilahi.
Dahulunya, terutama pada masa-masa awal pasca Perang Korea dengan Korea Utara di sekitar era 1950 hingga 1970-an, Korsel bukanlah sebuah negara yang maju, bahkan tergolong miskin. Di saat di negara kita Bung Karno mampu menantang negara-negara Barat dan membuat keder bangsa-bangsa Asia lainnya, Korsel masih bergulat untuk bangkit dari kepayahan ekonomi. Bahkan di saat terjadi krisis moneter Internasional tahun 1998, mereka jauh lebih terpuruk daripada Indonesia. Tapi, kenapa dalam waktu yang relatif singkat mereka mampu berubah wujud menjadi negara maju, bahkan mulai dapat melebihi negara-negara tetangganya seperti Jepang dan China?
Berikut ini beberapa hal yang saya cermati dan rasakan selama di sana, dan ternyata banyak sekali yang berbeda dibandingkan dengan yang saya jumpai di Indonesia, terutama dari segi perilaku manusianya :

1.      Bersih
kalau di taman monas, kira-kira mau gak ya bule-bule itu tiduran kayak begini?

Jujur, saya shock ketika berjalan-jalan di ‘alun-alun’ kota Seoul di hari terakhir saya di Korea. Alun-alun tersebut berada di pusat sebuah kota megapolitan. Anda tentu akan membayangkan lalu-lintas padat, dan membuat taman kota itu menjadi bising, kotor, dan kurang nyaman. Anda salah besar! Ya, lalu lintas di sekitarnya memang sangat padat dan kadang macet. Tapi alun-alun itu sendiri sangat amat bersih. Bahkan, udara di sekitar rumah saya di sebuah dusun (catet : dusun) di Sleman Utara tidak pernah sebersih itu! Ini sungguh sesuatu yang ironis bagi saya.

Tempat sampah di kota Seoul sangat jarang, barangkali tiap 50-100 meter barulah kita ketemu dengan tong sampah. Tapi, jalanannya bersih luar biasa, nyaris tidak ada sampah plastik atau kertas yang berserakan. Saya tidak berlebihan. Saya ke sana bersama dengan dua orang dokter yang sebelumnya sudah pernah ke Jerman dan Amerika, dan mereka sepakat mengatakan bahwa kedua negara tersebut tidak sebersih Seoul.

Sekarang, coba bandingkan itu semua dengan Jakarta. Ah, rasanya gak usah dibandingkan deh, sangat kentara sekali perbedaannya. Kebersihan adalah salah satu perlambang kerapian dan ketertiban berpikir seorang individu. Jika itu mewujud dalam sebuah sistem tatanan sosial yang lebih besar seperti kota, maka itulah lambang ketertiban warga setempat. Lingkungan yang bersih juga mampu membuat kita merasa nyaman dan sehat dalam beraktivitas, yang dampaknya akan mampu meningkatkan kinerja. Jadi, sebelum bicara masalah apapun terkait poleksosbud, lebih baik diawali dulu dengan membuat Indonesia bersih. Kalau Indonesia bersih, itu adalah langkah pertama membuat kinerja bangsa menjadi lebih baik.

2. Menghargai dan mencintai milik bangsa sendiri

foto pertama begitu menjejakkan kaki di Korea,
langsung nampak bagaimana mereka begitu membanggakan 'milik sendiri'

Saat ini demam K-Pop dan Hallyu (budaya Korea) sedang gencar-gencarnya menginvasi dan menguasai pasar Indonesia. Sebelum berangkat ke Korea, saya sempat bertanya-tanya, seperti apa kalau di negara asalnya sendiri? Ternyata, memang lebih ‘parah’. Di manapun toko, pasar, restoran, kantor, supermarket, bahkan di jalanan, semuanya senantiasa memutar lagu-lagu K-Pop. Di baliho-baliho, banner-banner, semua tempat pemasangan iklan, yang ditonjolkan adalah artis-artis Drama Korea. Saya nyaris tidak menemukan adanya lagu-lagu barat yang diputar di area umum, begitu pula dengan artis-artis Hollywood yang  sangat jarang ada di berbagai baliho.

Rupanya begitulah cara bangsa Korea begitu menghargai dan mencintai kepunyaannya sendiri. Penghargaan seperti itulah yang membuat mereka bangga dan termotivasi untuk mempromosikan budayanya ke negara-negara lain, hingga bisa mewabah seperti sekarang ini. Sementara di tempat kita? Lagu dangdut dan campursari dianggap kampungan, norak, gak pantas diputar di tempat-tempat elite, dan berbagai bentuk ‘under-estimating’ lain. Hei, bagaimana budaya kita mau terkenal dan diakui dunia, kalau bangsanya sendiri aja menganggap remeh seperti itu! Kita malah asyik dan bangga dengan punya orang lain.

Nggak cuma soal seni. Hampir semua mobil di sana menggunakan Hyundai dan KIA, produk domestik mereka sendiri. Hampir semua barang elektronik menggunakan Samsung dan LG. Okelah, mungkin kualitas produk teknologi kita nggak secanggih mereka. Tapi, kita harus ingat bahwa kita sebenarnya masih punya banyak ilmuwan dan ahli I.T yang cerdas-cerdas..eh...jenius. Namun sayang, seringkali penemuan mereka nggak dipedulikan (apalagi oleh pemerintah), hingga akhirnya mereka memilih berkarir di luar negeri saja. Jadilah kita nggak kebagian pinternya mereka.
Padahal kalau kita mau berdikari dan tidak banyak mengimpor seperti sekarang, saya haqqul yakin kita bisa lebih maju dari bangsa Asia manapun. Bukannya kita semua tahu kalau negara kita kaya SDA dan budaya? Tapi, lari ke man...ah, basa-basi seperti ini sudah sering saya dengar dan baca, tapi tetap nggak perah ada tindak lanjut yang nyata. Kalau emang pemerintahnya nggak bisa diharapin, ya udah deh, mulai aja dari lingkup kecil dulu.

3. Kerja keras lebih dari yang lain


Jam berapa para karyawan di Jogjakarta pulang kantor? Jam berapa para pengusaha di Jakarta pulang kerja? Saya mungkin ada 2-3 hari di Seoul di mana saya masih berada di jalanan hingga pukul 23.30 malam waktu setempat. Jam segitu, jalanan di Seoul masih sangat padat dan ramai dengan kendaraan. Di Indonesia, saya termasuk orang yang berjalan lebih cepat daripada orang lain. Tapi begitu di sana, ternyata semua orang berjalan lebih cepat daripada saya!

Saya bukan termasuk tipe orang yang bekerja dan berpikir secara cepat, mungkin karena terlalu hati-hati. Kecepatan berjalan saya sama sekali tidak berbanding lurus dengan kecekatan kerja saya. Tapi nampaknya tidak demikian dengan orang Korea. Kecepatan berjalan mereka ternyata memang sesuai dengan bagaimana mereka bekerja. Saya sangat jarang melihat ada orang yang berleha-leha, nongkrong di jalan sambil bersendau gurau, kecuali mungkin di rumah makan atau kafe yang memang tempatnya istirahat. Konon, orang Korea punya pepatah seperti ini : “Saat orang lain tidur, kita harus bangun. Saat orang lain bangun, kita harus berdiri. Saat orang lain berdiri, kita harus berjalan. Saat orang lain berjalan, kita harus berlari. Saat orang berlari, kita harus terbang.”

Pada medio 1990-an hingga awal 2000-an, Korea Selatan menyadari bahwa mereka telah tertinggal jauh dari para negara tetangganya seperti Jepang dan China. Maka, tak ada cara lain kecuali mereka harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras dan lebih produktif daripada kedua negara itu. Inilah cikal bakal akhirnya Korsel kini bisa mewujudkan impiannya.

Kita? Bisanya cuma marah-marah melihat tingkah Malaysia. Atau hanya bengong saja melihat kemajuan Singapura. Tidak ada, sama sekali tidak ada hal positif yang kita lakukan. Para pekerja - khususnya kerah putih – di negara kita tetap saja lebih malas dari negara lain. Lihat saja yang terjadi di kantor-kantor pemda atau dinas pemerintah sepanjang hari. Lebih banyak mana baca koran dan main catur daripada kerjanya? Karyawan swasta juga begitu-gitu saja kerjanya : yang penting sesuai prosedur dan perintah bos, itu sudah cukup. Akhirnya yang kaya ya bos-bosnya saja. Sementara, mereka yang betul-betul bekerja keras seperti tukang becak, pemulung, pedagang keliling, ya hanya gitu-gitu saja hidupnya. Untuk yang satu ini, salah siapa? Ah, saya gak mau nyari-nyari kesalahan. Mungkin salah saya juga, tidak bertindak dan beraksi. Saya saja, atau ada yang lain nih?

4.  Disiplin
kapan ya ngantri busway bisa kayak gini? -gak pake umpek-umpekan dan rapi

Saya termasuk orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Saya juga terbiasa dengan budaya molor di berbagai organisasi yang saya ikuti selama ini. Begitu saya mengikuti workshop di luar negeri untuk pertama kalinya (catet : betul-betul pertama kali), langsung saja saya mendapat tamparan keras. Gara-gara, maaf, pub dan mandi teralu lama, saya terlambat naik ke bus yang akan membawa kami dari penginapan menuju Yonsei University. Kontan rekan saya memarahi saya habis-habisan karena teman-teman dari negara lain dan profesor yang akan mengisi seminar sudah menunggu. Jadwal berangkat pukul 08.00, pukul 07.50 para panitia sudah betul-betul siap. Hal ini sama sekali tidak pernah saya temui seumur hidup saya beraktivitas sosial di Indonesia. Yang ada, jadwal acara misalnya harusnya mulai jam 8, jam 10 baru mulai deh tuh. Jadilah saya terkaget-kaget begitu menghadapi kenyataan yang sangat berbeda, di belahan dunia yang lain.

Berdasar pengalaman itu, barulah saya paham kenapa seorang teman saya di Senyum Community yang dulu pernah sekolah di Korea, dia selalu datang tepat waktu tiap kali rapat. Hmm...rasanya untuk yang satu ini saya tidak perlu banyak basa-basi. Anda bayangkan saja bagaimana seandainya semua orang Indonesia bisa disiplin waktu seperti teman saya ini.

Bukan cuma disiplin waktu, tapi juga dalam menaati peraturan. Paling mudah adalah soal lampu merah. Jangankan kendaraan, di Korea orang jalan kaki saja sangat patuh pada traffic light. Pernah suatu kali, jalanan sepi. Di kedua sisi trotoar, pejalan kaki sudah padat dan siap untuk menyeberang, termasuk saya. Tapi karena lampu traffic masih menyala merah untuk pejalan kaki, mereka tidak maju selangkah pun! Saya hanya bisa membatin waktu itu , “coba kalau ini di Indonesia, pasti dah pada nyeberang tuh”. Jangankan jalanan sepi, jalanan ramai saja gak peduli : lampu kuning = ngebut, coy! Inilah masalahnya : di Indonesia, peraturan dibuat untuk dilanggar. Jangankan warga, yang bikin peraturan sendiri saja juga melanggar koq!

Apapun yang saya tulis ini sama sekali bukan berarti saya begitu mengagumi Korsel dan ‘menyesal’ jadi orang Indonesia. Justru sebaliknya, karena saya begitu percaya bahwa kita memiliki potensi yang jauh lebih banyak daripada mereka, hingga seharusnya dan tentunya kita bisa lebih maju daripada mereka. Kalau sekarang kenyataannya tidak, yaaa...semua berpulang pada manusianya. Karena Yang Di Atas telah menitipkan, dan gimana jadinya titipan itu ya pinter-pinternya + bener-kagaknya yang ngelola.