Laman

Selasa, 29 November 2011

Top 10 Lagu Daerah Kontemporer


catatan : angka 1-10 di sini TIDAK melambangkan urutan seperti deretan tangga lagu top 10 lain, melainkan hanya pelabelan semata. Karena, bagi saya, tidak ada lagu daerah yang satu lebih baik dari yang lain. All Indonesian folk songs are great! 
Hanya saja, 10 lagu ini saya anggap yang termasuk paling populer dari daerah(bahasa)-nya masing-masing :

1. Poco Poco (Manado)
sejumlah wanita dari Rep.Ceko menarikan tari Poco-poco
Balenggang pata pata
Ngana pegoyang pica pica
Ngana pebody poco poco
Cuma ngana yang kita cinta
Cuma ngana yang kita sayang
Cuma ngana suka bikin pusing

2. Do Do Daidi (Aceh)

Allah hai do do daida
Seulayang blang kaputoh talo
Beurinjang rayeuk muda seudang
Tajak bantu prang tabela nanggroe
Wahèe aneuk bek taduek lee
Beudoh saree tabela bangsa
Bek ta takot keudarah ilèe
Adak pih matee poma ka rela

3. Sajojo (Papua)
Sajojo, sajojo
Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke

Kuserai, kusaserai rai rai rai rai
Kuserai, kusaserai rai rai rai rai

Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye
Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye



4. Talak Tilu (Sunda)
Sule OVJ menyanyikan 'Talak Tilu'
Nyeri,nyeri,nyeri moal benang di ubaran
Kajen tutumpuran paeh ge teu panasaran
Najan ngora keneh
Najan urang kes batian
Duh aing serahkeun
Aing maneh kawin deui

5. Stasiun Balapan (Jawa)
Video Klip Didi Kempot 'Stasiun Balapan'
Ning stasiun balapan
Kuto solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu
Janji lungo mung sedelo
Jare sewulan ra ono
Pamitmu naliko semono
Ning stasiun balapan solo

6. Enggo Lari (Maluku)
Igo membawakan 'Enggo Lari' di ajang Indonesian Idol
Jaga jaga enggo polo rapat enggo
Jaga jangan sampai beta enggo
Awas kalo enggo beta dapat
Beta polo rapat rapat


7. Juru Pencar (Bali)

Juru pencar, ye juru pencar
Mai jalan mencar ngejuk be
Be gede gede
Di sowane ajake liu

8. Sai An Ju Ma Au (Batak)

Molo adong na salah 
Manang na hurang pambaenakki
Sai anju ma au
Sai anju ma au, ito hasian
Sai anju ma au
Sai anju ma au, ito nalagu

9. Jaso Mandeh (Minang)
Jaso mandeh indak ka tabaleh
Bia babungkah perak jo ameh
Jaso mandeh indak ka tabaleh
Bia babungkah perak jo ameh


10. Ma’inang (Dayak)

Kupas-kupas ma’ inang kelapa muda 
ma’ inang kelapa muda
Kelapa tua ma’ inang dalam perahu 
ma’ inang dalam perahu
Puas-puas ma’ inang badan gi’ muda’
ma’ inang badan gi’ muda
Badan dah tua ma’ inang siapa tau 
ma’ inang siapa tau



Senin, 28 November 2011

Pria Uberseksual, karena Aku bukan Mereka


“Nama saya Johan Satria Putra. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk melamar anak bapak. Saya alhamdulillah berasal dari keluarga baik-baik, orang tua saya juga bukan orang yang kekurangan. Saya sendiri saat ini telah bekerja di sebuah perusahaan swasta. InsyaAllah saya adalah tipe orang yang setia dan bisa menjaga serta melindungi anak bapak,”
Apakah itu cukup untuk melamar seorang gadis? Kalau ke calon mertua, mungkin iya. Tapi, bagaimana mau ke camer kalau si ceweknya sendiri aja udah gak mau?!
Kalimat di atas hanya fiktif belaka, karena saya sendiri belum pernah melamar siapapun. Namun, seperti yang saya bilang, karakter yang kita punya seperti yang disebutkan dalam kalimat tersebut, pada era ini sudah tidak begitu menarik lagi. Anda tidak berada di tahun 1990-an. Anda berada di era baru, eranya pria uberseksual. Dan anda harus menjadi mereka bila ingin ‘laku’. 
Bukan, ini bukan bualan. Lantas, apa itu uberseksual?

Istilah ‘uber’ berasal dari bahasa Jerman yang berarti ‘unggul’ atau ‘superior’. Macmillan English Dictionary mendefinisikan ‘uberseksual’ sebagai “a heterosexual man who is both confodent and compassionate and has a strong interest in good causes and principles.” Sementara Marian Salzman membatasi pria uberseksual pada mereka yang menggunakan aspek positif maskulinitas seperti kepedulian, kepemimpinan, serta terutama kepercayaan diri. Dengan kata lain, mereka peduli pada lingkungan, banyak memperkaya ilmu dan wawasan, memiliki prinsip, serta banyak mengikuti perkembangan sosial. 
Beberapa sumber menyebutkan ciri-ciri menonjol dari pria ini adalah memiliki rasa percaya diri yang kuat, cerdas, tanpa kompromi, dinamis, maskulin, atraktif, stylish, serta berkomitmen kuat untuk memiliki hal yang berkualitas dalam segala bidang kehidupan. Sementara sumber lain menyebutkan ciri-ciri uberseksual adalah sebagai berikut :
1. Mengikuti perkembangan dunia sosial politik terbaru.
2. Merawat wajah seperlunya, yang penting terlihat bersih.
3. Respek terhadap wanita, namun tetap memilih lelaki sebagai sahabat mereka.
4. Berolah raga untuk menjaga kesehatan. tubuh yang bagus dianggap sebagai bonus dari usahanya ini.
5. Peduli pada mereka yang membutuhkan.
6. Terlihat lebih sensual ketimbang seksi, tanpa perlu berusaha terlalu keras.
7. Mendapat pengetahuan seputar desain dan seni dari pengalaman traveling.
8. Memilih acara charity sebagai social event yang suka dihadirinya.
Sempurna? Tidak harus juga. Intinya, yang penting dia menarik dan berkualitas.
(Sumber : www.anakui.com, www.mediaindonesia.com, kampungtki.com)

Saya memiliki banyak teman, bahkan teman dekat yang seperti itu. Dari berbagai bidang pula. Ada yang dia adalah seorang peneliti yang walau agak kaku tapi jenius. Ada beberapa yang entrepreneur muda, yang smart dan inovatif. Ada juga beberapa yang sebenarnya biasa saja, tapi mereka adalah lelaki yang struggle, berjuang untuk keluarganya, dan tentu saja mandiri. Kemudian ada juga yang bermodalkan cara berkomunikasi yang sangat lihai dan memikat. Sementara yang lain adalah para ‘bad boy’, namun perhatian, jantan, dan berjiwa sosial tinggi. 
Seperit kata Raju dan Farhat dalam film ‘3 idiots’ tentang teman mereka, si jenius Rancho, bahwa memiliki sahabat yang jauh lebih hebat dari kita akan memberikan kita rasa bahagia dan sedih sekaligus. Bahagia, karena teman kita berhasil dalam apa yang diusahakannya. Sedih, karena kita jadi nampak sangat bodoh. Mungkin itulah yang saya rasakan selama ini. Dalam teori perbandingan sosial, apabila kita membandingkan diri kita dengan orang yang lebih superior, maka dapat menurunkan self esteem kita. Dengan kata lain, kita jadi memandang rendah diri kita sendiri, alias minder.

komunitas TDA (tangan di atas), calon-calon entrepreneur muda yg sukses
Apalagi, bila kasus ini kemudian dikaitkan juga dengan bagaimana menarik lawan jenis. Teman-teman yang saya sebutkan tadi, hampir semua di antara mereka telah memiliki pasangan, entah pacar ataupun istri. Banyak juga yang ‘nge-fans’ terhadap mereka. Sedangkan saya? Sebagaimana pernah saya curhat dalam artikel terdahulu, ‘Kegalauan Seperempat Abad’, saya belum pernah merasakan yang namanya disukai oleh seorang wanita. Inilah yang membuat saya galau sebagai seseorang yang bukan uberseksual.
Kepribadian saya sama sekali tidak semenarik mereka. Sangat jauh. Saya tidak memiliki bakat wirausaha. Bukan seorang akademisi yang jenius. Paling fatal, bukan pemuda yang mandiri. So, apa yang membuat saya bisa disebut sebagai uberseksual? Dan kalau sudah begitu, apa yang bisa membuat saya dapat menarik lawan jenis? Bukannya saya pesimis ataupun tidak bersyukur. Saya tahu, banyak pria yang juga bukan uberseksual, tapi nyatanya dapat menikah. Hingga sampailah saya kini pada satu pertanyaan : Apakah saya ingin menjadi uberseksual agar dapat menarik lawan jenis? Memang itukah fungsi dan tujuan bagi teman-teman saya tadi untuk menjadi uberseksual? Sepertinya, saya telah menyimpangkan makna dari uberseksual ini sendiri, hanya gara-gara rasa minder terhadap wanita. Lagi-lagi, saya telah salah kaprah. Menjadi apapun itu, mengerjakan apapun itu, jalani saja dan niatkan semata untuk Yang di atas. Setiap manusia telah ada jodohnya masing-masing, dan Tuhan tidak Mengkotak-kotakkan berdasar uberseksual atau tidak, dalam menentukannya. 

Minggu, 27 November 2011

6 Raja Media di Indonesia


Pada era pasca reformasi ini, kebebasan pers makin luas dan kekuatan media sebagai pengontrol opini masyarakat pun turut berkembang. Apalagi semakin didukung oleh pesatnya teknologi informasi, menjadikan masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan untuk mencari ataupun memperoleh informasi. Fenomena ini membuat siapapun yang mampu menguasai media informasi akan memiliki power yang besar untuk menguasai serta mengarahkan cara pandang masyarakat luas. Sehingga tak heran jika kekuasaan media kini bahkan boleh dibilang lebih kuat dari pemerintah ataupun hukum sekalipun. Berikut ini di antaranya tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan tersebut :

1. Hary Tanoesudibjo
Kepiawaian Hary dalam berbisnis telah terlihat sejak dia masih duduk di bangku kuliah di Toronto, Kanada. Di sana, dia kerap bermain di bursa saham dan berkenalan dengan banyak investor handal. Sepulang ke Indonesia, dengan meminjam modal dari sang ayah, Hary mendirikan PT Bhakti Investama di Surabaya. Pria kelahiran 26 September 1965 ini kemudian banyak terlibat dalam kegiatan investment banking, serta aksi merger dan akuisisi. Perusahaan-perusahaan yang bermasalah diambil alihnya, kemudian diperbaiki dan dijual kembali. Hary juga pintar dalam membaca peluang serta mencari sumber dana. Aksi akuisisinya tidak dilakukan dengan modal sendiri, melainkan dengan cara mencari dana dari publik melalui konsorsium ataupun penawaran saham. Tahun 2002, Hary bergabung dengan Bimantara Citra atau Global Mediacom dan kemudian menjadi presiden direkturnya (Group Executive Chairman) hingga sekarang. Global Mediacom sendiri kemudian menguasai saham dari PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC), yang membawahi 3 stasiun tv : RCTI, TPI (kini MNCtv), dan Global TV. Hary pun lantas menjadi Direktur Utama dan CEO PT tersebut sampai saat ini. Selain 3 stasiun tv itu, MNC juga memiliki PT Media Nusantara Informasi yang antara lain meliuputi Harian Seputar Indonesia, Tabloid Gennie, Mom & Kiddie, dan Realita. Kemudian dibangunnya pula rumah produksi SinemArt dan MD Entertainment, hingga situs online Okezone.com. Di samping itu, Hary juga menjabat sebagai komisaris Indovision. 

2. Jacob Oetama
Tidak seperti 5 tokoh lain yang saya profilkan di sini, Dr. (HC) Jacob Oetama tergolong low profile dan jarang diekspos. Padahal, dia adalah penguasa dari Kompas Gramedia Group yang membawahi sejumlah media massa terkemuka di Indonesia, seperti harian Kompas, tabloid BOLA, tabloid Nova, majalah Bobo, majalah National Geographic, hingga majalah Hai, Chip, HotGame, Otomotif, dan tentu saja toko buku Gramedia, berikut penerbitan Elex Media Komputindo. Jacob Oetama lahir di Magelang, 27 September 1931. Karir jurnalistiknya dimulai ketika menjadi redaktur mingguan Penabur pada tahun 1956. Lulusan jurusan Publisistik Fisipol UGM ini kemudian mendirikan majalah intisari tahun 1963 bersama P.K Ojong. Bersama P.K Ojong pula, pada tanggal 28 Juni 1965 Jacob mendirikan harian Kompas. Pada era 1980-an, Kompas Gramedia berkembang pesat, hingga akhirnya mampu mendirikan sejumlah anak perusahaan seperti yang telah saya sebutkan tadi. Selain menjadi presiden direktur KG Group, Jacob saat ini juga menjabat sebagai penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN. 

3. Dahlan Iskan
Pria kelahiran Magetan Jawa Timur tahun 1951 ini saat ini tengah naik daun, setelah berturut ditunjuk sebagai direktur PLN, dan kemudian kini menjabat sebagai menteri BUMN Kabinet Indonesia Bersatu II. Gaya khasnya yang suka memakai sepatu kets ke manapun, tampil apa adanya, dan doyan bicara blak-blakan membuat makin banyak orang yang mengidolainya. Sebelum menjadi dirut PLN, Dahlan adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network. Karir jurnalisnya dimulai ketika menjadi calon reporter di sebuah surat kabar kecil di Samarinda, pada tahun 1975. Tahun 1976 dia pindah bergabung menjadi wartawan di majalah Tempo. Tahun 1982, Dahlan Iskan mulai memimpin surat kabar Jawa Pos. Harian yang waktu itu hampir mati karena hanya beroplah 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun dibuatnya menjadi surat kabar beroplah 300.000 eksemplar. Lima tahun berselang, Jawa Pos News Network (JPNN) dibentuk dan menjadi salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di seluruh Indonesia. Tahun 2002, Dahlan mendirikan stasiun tv lokal JTV di Surabaya, diikuti Batam tv di Batam dan Riau tv di Pekanbaru. 

4. Surya Paloh
Surya Paloh telah terbiasa berbisnis sejak masih remaja di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Sembari bersekolah, dia berdagang teh, ikan asin, karung goni, dan lain-lain. Menginjak SMA, dia bekerja menjadi manajer sebuah Travel Biro. Setamat SMA, sambil berkuliah di Fakultas Hukum USU (Universitas Sumatra Utara), Surya juga dipercaya mengelola sebuah wisma pariwisata. Pada saat yang bersamaan, Surya juga dipercaya menjadi direktur utama sebuah PT distributor mobil Ford dan Volkswagen di Medan. Kemudian pada 1975 ditunjuk pula menjadi kuasa usaha hotel Ika Darroy Aceh. Pria kelahiran Aceh 16 Juli 1951 ini kemudian merantau ke Jakarta pada 1977 untuk mulai berbisnis di sana, dan juga menjadi lone ranger pejuang kemerdekaan dan kebebasan pers. Sejak saat itu pula dia mulai terjun ke dunia publishing, antara lain dengan memimpin surat kabar Prioritas. Tahun 1987, Teuku Yousli Syah selaku pendiri surat kabar Media Indonesia menggandeng Surya untuk memimpin surat kabar tersebut dan membentuk manajemen baru di bawah PT Citra Media Nusa Permana. Surya Paloh semakin mengembangkan bisnis medianya itu dengan membentuk Media Group, termasuk di dalamnya mendirikan stasiun tv Metro TV pada 25 Oktober 1999, yang merupakan stasiun tv berita pertama di Indonesia. Selain bisnis, Surya juga aktif di dunia politik, termasuk mendirikan partai baru Nasional Demokrat. 

5. Chairul Tanjung
Berdasarkan berita terbaru, nama Chairul Tanjung melejit menjadi orang terkaya nomor 11 di Indonesia versi forbes tahun 2011 ini, mengalahkan Aburizal Bakrie dan Ciputra. Chairul Tanjung adalah bos PT Trans Corporation yang membawahi dua stasiun tv populer, Trans TV dan Trans 7. Chairul yang lahir di Jakarta, 16 Juni 1962 mulai berbisnis ketika kuliah di jurusan Kedokteran Gigi UI. Saat itu ia berbisnis kecil-kecilan dengan berdagang buku kuliah, kaos, serta membuka usaha fotokopi di kampusnya. Dia juga sempat membuka toko alat-alat kedokteran dan laboratorium di daerah Senen, tapi usaha itu bangkrut. Kegagalan itu memberinya pelajaran, hingga ketika lulus kuliah, Chairul sempat mendirikan PT Pariarti Sindhutama bersama 3 rekannya, yang usahanya memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Usaha ini terbilang sukses, hingga ia melebarkan bisnisnya ke industri genting, sandal, dan properti. Perbedaan visi kemudian membuat 2 rekan Chairul mengundurkan diri, dan dia harus menjalankan bisnisnya sendiri. Chairul kemudian mengakuisisi sebuah bank yang nyaris pailit, Bank Tugu. Chairul yang pernah belajar dari kegagalan, mampu mengubah bank tersebut kini menjadi Bank Mega yang memiliki omset di atas Rp 1 triliun. Bisnis Chairul makin meluas kebidang properti, keuangan, dan multimedia, hingga dia kemudian mendirikan Para Group. Melalui Para Group, Chairul mulai merambah bisnis hiburan dengan mendirikan Trans TV. Dia lalu membentuk anak perusahaan PT Trans Corp dengan tujuan mengambil alih TV7 yang menjadi milik Kompas Gramedia, untuk dihubungkan dengan Trans TV. 

6. Anindya Bakrie
Anindya Bakrie, atau biasa dipanggil Anin, adalah putra sulung dari pengusaha terkemuka sekaligus politikus, Aburizal Bakrie. Pria muda kelahiran 10 November 1974 ini adalah presiden direktur dari Bakrie Telecom dan Visi Media Asia, yang mengelola stasiun tv ANTV dan TV One serta media online Vivanews.com. Berada dalam keluarga pebisnis, membuat Anin telah terlatih sejak usia muda. Ketika masuk ke ANTV pada 2002, stasiun tv tersebut nyaris bangkrut karena lilitan hutang. Hanya dalam waktu 2 tahun, Anin mampu merestrukturisasinya dan menjadikan utangnya menjadi 0. Begitu pula saat mengambil alih Lativi yang juga hampir bangkrut pada 2007, Anin kemudian mengubahnya menjadi TV One yang akhirnya berkembang pesat menjadi salah satu stasiun tv berita terbaik di Indonesia. Kemudian pada 2008, Anin mendirikan bisnis news media online dengan nama Vivanews.com. 

Kamis, 10 November 2011

Pahlawan Harian


Saya sangat salut, bahkan amat sangat iri terhadap mereka yang terjun ke berbagai bencana alam yang terjadi entah di mana pun itu, apalagi di Indonesia. Saya begitu menaruh simpati yang tinggi kepada para relawan yang mengorbankan diri mereka, waktu, harta, bahkan nyawa mereka untuk menolong para korban. Sungguh, dalam hati kecil saya yang paling dalam, saya sangat ingin menjadi seperti mereka. Mereka adalah orang-orang yang saya yakini akan mendapat tempat yang layak kelak di surgaNya Allah, selama mereka ikhlas. Dan karena itu saya selalu ingin seperti mereka.

'Berbagi Senyum untuk Merapi' (senyum community)
Tapi apa daya, saya orang yang cenderung lemah fisik dan kadang penakut, jadi kurang dapat terjun terlalu banyak di lapangan. Pada saat gempa Bantul 2006 dan erupsi Merapi 2010 yang lalu, saya baru terjun di saat bencana usai, dan lebih banyak menangani trauma pasca bencana. Saya merasa itu masih kurang, amat sangat kurang. Teman-teman saya banyak yang terlibat sejak awal, apalagi pada bencana merapi kemarin, di mana  banyak yang menginap lama bersama dengan para pengungsi untuk membantu mereka. Hingga kini, saya selalu menyesal tiap kali mengingat bahwa saya tidak berbuat banyak untuk mereka para korban bencana alam.

Akan tetapi, saya kemudian tersadar. Saya tidak perlu terlalu menyesal juga. Oke, merasa bersalah karena tidak bisa menolong itu baik. Namun, menjadi tidak bagus juga apabila kemudian melupakan satu hal : Menolong tidak harus hanya pada saat terjadi bencana. Kita tengok bagaimana kondisi korban tsunami Aceh, gempa Bantul dan Padang, kemudian korban Merapi. Hingga saat ini masih banyak korban tsunami Aceh dan Bantul yang masih tinggal di barak-barak dan belum bisa dikatakan betul-betul pulih kehidupannya. Pada saat masa-masa awal hari H dan pasca bencana Merapi, bantuan terus mengalir bagai sungai abadi, bahkan hingga banyak yang mubadzir saking banyaknya. Tapi bagaimana setelah itu? 

Teman saya kemudian mengingatkan saya, bahwa yang terpenting dalam menolong korban bencana alam tidak hanya pada saat masa tanggap darurat hingga recovery. Kuantitas relawan dan bantuan logistik pada saat itu akan banyak sekali, dan para korban sendiri mungkin akan merasa ‘too much’. Menurut rekan-rekan saya, penanganan setelah itu menjadi penting lantaran sudah banyak relawan yang meninggalkan area pengungsi, karena memang tugasnya sudah selesai atau sebab lainnya. Dengan kata lain, yang lebih penting dalam mengatasi situasi pasca bencana terletak pada efektifitas manajemen penanganan bencana tersebut. 

Tidak perlu susah-susah, kita lihat saja bagaimana di sekitar kita masih banyak orang-orang yang bukan korban bencana alam, tapi sungguh mereka membutuhkan bantuan. Banyak orang miskin yang tidak mampu menyekolahkan anaknya dan tidak mampu berobat ketika mereka sakit keras. Banyak anak jalanan, di mana sebenarnya yang mereka butuhkan agar tidak ke jalanan hanyalah sebuah perhatian. Sekali lagi, sebuah perhatian. Banyak orang-orang jompo dan veteran di panti wredha, yang mereka seringkali berpikir bahwa mereka sudah tidak berdaya dan tidak lagi ‘dianggap’ oleh orang-orang sekelilingnya. Sekali lagi, mereka butuh perhatian. Dan tak terhitung jumlahnya anak-anak dhuafa, yatim, atau berkebutuhan khusus yang, lagi-lagi, hanya butuh perhatian dari kita. 

'Berbagi Senyum di Panti Asuhan' (senyum community)
Jadi, tidak perlu bersedih hati ketika kita tidak bisa atau tidak sempat menjadi ‘pahlawan insidental’ yang muncul di saat terjadi bencana alam. Jumlah pahlawan semacam itu otomatis akan melesat begitu terjadi bencana, dan tanpa perlu kita paksa-paksa, mereka akan bergerak dengan sendirinya ibarat ‘flash-mob dance’. Yang dibutuhkan Indonesia justru adalah ‘pahlawan-pahlawan harian’, pahlawan-pahlawan yang tidak hanya muncul di saat terjadi bencana thok, melainkan juga dalam kehidupan sosial sehari-hari. Bahkan, tidak harus memiliki uang yang melimpah ataupun nyali yang tak terbatas untuk dapat menjadi pahlawan jenis ini. Kita dapat memberikan bantuan dalam bentuk apapun, kapanpun, di manapun. Misalnya dengan memanfaatkan ilmu yang kita miliki, dengan mengadakan kegiatan rutin yang dapat memacu potensi yang dimiliki anak-anak dhuafa, anak jalanan, atau anak yatim, sehingga mereka dapat berkembang. Yes! Semoga saya bisa seperti itu. 
Bila anda juga ingin menjadi salah satu ‘pahlawan harian’ itu, maka saya sarankan anda untuk bergabung bersama kami di Senyum Community (hehehe, sekalian promosi boleh dong...).


Oh ya, satu lagi hal yang sangat penting : "Pahlawan bukanlah gelar, melainkan sikap," (@SenyumKita)

Selasa, 08 November 2011

5 Pelatih Muslim Sepakbola Eropa


Soal siapa-siapa saja pemain sepakbola Eropa yang beragama Islam, sudah banyak sekali yang membahas. Kita jadi sering lupa, barangkali ada juga pelatih atau manager tim sepakbola asal Eropa yang beragama Islam, dan memiliki reputasi yang tidak kalah mentereng dibanding para pemain tadi. Ini dia di antaranya :

1. Kurban Berdyev (Russia / Turkmenistan)

Sempat membuat heboh ketika berhasil membawa timnya, Rubin Kazan (klub Russia yang tidak terkenal), menang 2-1 atas Barcelona (yang disebut-sebut sebagai tim terbaik di dunia saat ini) di Camp Nou pada fase grup Liga Champions Eropa 2009/2010 yang lalu. Pelatih kelahiran Asghabat, 25 Agustus 1952 ini melatih Rubin Kazan sejak 2001 ketika tim itu masih di divisi 1. Berdyev kemudian membawa Rubin promosi ke Divisi Utama musim berikutnya dan memberi gelar liga pertama dalam sejarah klub tersebut pada 2008. Berdyev yang saat ini juga menjabat sebagai wakil presiden di klub tersebut, memiliki kebiasaan selalu membawa tasbih tiap kali melatih dan nampak berdzikir di pinggir lapangan. “Ini bukan semacam tradisi atau ritual, ini adalah kebutuhan. Saya pernah lupa tidak membawa tasbih, dan sepanjang pertandingan saya begitu gelisah, seperti kehilangan sesuatu. Jadi, ini adalah sebuah kebutuhan bagi saya, dan Muslim pasti akan mengerti itu,” ujar Berdyev suatu ketika.

2. Fatih Terim (Turki)


Satu-satunya pelatih beragama Islam yang pernah menangani klub serie A Italia. Terim melatih Fiorentina pada musim 2000/2001 dan AC Milan pada musim berikutnya. Meski berhasil membawa Fiorentina melaju ke final Coppa Italia, namun karirnya di tanah spaghetti hanya bertahan selama 1,5 musim, sebelum kembali ke Galatasaray. Galatasaray sendiri sebelumnya pernah dia bawa menjadi klub Turki pertama dan satu-satunya yang pernah menjuarai kejuaraan antar klub Eropa, tepatnya ketika mengalahkan Arsenal melalui adu penalti di final Piala UEFA 1999/2000. Pelatih yang sempat diisukan akan melatih timnas Indonesia ini juga sukses dua kali membawa Turki ke putaran final Piala Eropa 1996 dan 2008. Pada Euro 2008 itu, Turki dibuatnya menjadi tim bermental juara yang berkali-kali melakukan comeback (membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal), dalam perjalanan menuju semifinal. 

3. Philippe Troussier (Prancis)


Mantan pelatih timnas Qatar di Piala Asia 2004 ketika dikalahkan Indonesia 1-2 ini masuk Islam pada tahun 2006, di saat dia melatih timnas Maroko. Philippe bersyahadat bersama dengan istrinya, Dominique, dan kemudian pasangan ini mengadopsi dua anak dari Maroko, Selma dan Mariam. Troussier sendiri memberi nama ‘Omar’ di tengah namanya. Pria kelahiran Paris yang kini melatih Shenzen Ruby di League One China ini pernah membawa Afrika Selatan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya pada 1998. Dia dijuluki ‘White Whitch Doctor’ karena kesuksesannya ketika menangani sejumlah klub dan timnas di Afrika. Selain itu juga sempat membawa timnas Jepang menjuarai Piala Asia 2000. 

4. Bruno Metsu (Prancis)


Pelatih yang sukses membawa Senegal membuat kejutan dengan melaju ke perempat final Piala Dunia 2002 ini masuk Islam pada 24 Maret 2002, dan mengganti namanya menjadi Abdul Karim. Metsu tak pernah mempublikasikan alasannya masuk Islam, karena baginya itu adalah privasi. Mengawali karir di sejumlah klub di Liga Prancis, pelatih kelahiran tahun 1954 ini kemudian malang melintang di berbagai liga di Timur Tengah hingga sekarang. Prestasinya antara lain adalah membawa klub UEA, Al Ain, menjuarai Liga Champions Asia 2002/2003. 

5. Senol Gunes (Turki)

Namanya mulai dikenal ketika membawa timnas Turki menjadi juara 3 Piala Dunia 2002. Belum lama dia juga membawa klubnya, Trabzonspor, mempermalukan raksasa Italia, Inter Milan 2-1 di San Siro pada matchday 1 Liga Champions Eropa 2011/2012. Selain melatih di Turki, Gunes juga pernah menangani FC Seoul di liga Korea, dan sempat bersua Sriwijaya FC pada liga Champions Asia tahun 2009. Saat menjadi pemain, Gunes dikenal sebagai kiper andalan timnas Turki dan sempat meraih 6 kali juara Super Lig Turki. Sementara sebagai pelatih, dia pernah menjuarai Piala Turki dua kali bersama Trabzonspor pada 1995 dan 2010. 

Rabu, 02 November 2011

Ayu Ting Ting jadi Personil SNSD ?



Ini bukanlah sebuah tulisan kontradiktif. Memang, dalam tulisan sebelumnya, saya pernah membahas mengenai Girlband Korea impian, tapi ya memang yang saya sukai dari Korea hanya girlband-girlband nya. Itu pun saya menyukai mereka sebagai seorang cowok normal - yang tentu senang melihat wanita-wanita cantik menari dan menyanyi apalagi kalau lagunya enak – dan sama sekali bukan sebagai penggemar K-pop. Sekali lagi, saya bukan penggemar K-pop. Lihat saja di daftar 6 Boyband Terfavorit yang pernah saya tulis, tidak ada boyband Korea. Sementara satu-satunya serial drama Korea yang pernah saya tonton hanyalah ‘Heading to the Ground’, itupun karena temanya tentang sepakbola. 

Sekali lagi, saya InsyaAllah dan semoga bukan orang yang munafik. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengutarakan keheranan saya yang sangat terhadap bagaimana budaya K-pop bisa over popular di negara kita. Bagaimana bisa muncul boyband-boyband dan girlband-girlband baru yang semuanya berorientasi ke boyband-girlband Korea. Gaya-gaya fashion ala korea pun sangat digemari dan ditiru oleh anak-anak muda kita. Hmm...mungkin ini lah contoh latahnya orang Indonesia. Saya masih ingat, bagaimana dulu sekitar tahun 2004-2007 budaya J-pop, harajuku, dan cosplay dari Jepang sempat begitu mewabah, dan sekarang nyatanya sudah mulai berkurang. Mundur lagi ke belakang, popularitas F4 sempat membuat kaum ABG Indonesia di awal 2000-an keranjingan budaya mandarin. Kemudian waktu Kuch Kuch Hota Hai booming tahun 2000, semua jadi tergila-gila film dan tarian India. 

Saya hanya merasa bahwa bangsa kita ini seringkali minder dengan bangsa lain, sehingga malu dengan budaya sendiri dan menjadi mudah dikuasai budaya bangsa lain. Pertanyaannya : emang pantas kita minder? Hei, budaya dan potensi SDM Indonesia adalah yang terbaik di dunia!! Ini bukan omong kosong, sama sekali bukan.
Oke, karena saat ini yang akan saya bahas adalah wabah K-pop, maka coba kita bandingkan. Khususnya adalah soal boyband-girlband.

Pertama, soal wajah. Agnes Monica, Nindy, Audi Item, Aura Kasih, BCL, Rossa, dan masih banyak lagi. Mereka adalah penyanyi-penyanyi bersuara bagus dan sekaligus berwajah rupawan, dan kita semua tahu wajah cantik mereka itu murni ciptaan Tuhan. Sebagian mungkin sedikit tertolong make up, tapi sekalipun ketika tidak berias, saya lihat wajah mereka setidaknya tetaplah manis dan enak dilihat. Sedangkan para penyanyi Korea? Sudah menjadi rahasia umum, dari mana wajah cantik mereka berasal. Mungkin mereka kekurangan penduduk, sehingga sulit mencari yang bersuara indah dan cantik sekaligus. Makanya solusinya adalah dengan memberi sedikit (atau banyak?) sentuhan dokter bedah. Berbeda dengan kita, yang punya 100 juta lebih penduduk wanita berusia muda, hingga kita bisa sampai ke pelosok desa-desa untuk mencari yang berwajah manis dan bersuara bagus, dan itu tidaklah sulit. 


Kedua, soal suara / vokal. Mereka penyanyi bukan? Jadi, mana yang lebih penting : suara atau penampilan fisik? ABG-ABG cewek berteriak-teriak melihat kegantengan para personil SuJu atau Shinee. Ketika Smash muncul, banyak yang mencibir mereka ikut-ikutan, menjiplak, dan sebagainya. Oke, saya mau bertanya sama kalian, para boyband Indonesia. Ngapain sih kalian ikut-ikutan style dari Korea? Saya kasih tahu ya, kalian punya modal lebih baik dari mereka : suara kalian itu lebih bagus!! (Bisma misalnya, suaramu sekarang sudah lebih bagus dari Lee Teuk! Kalau Kyuhyun okelah mungkin lebih bagus dikit dari Rafael) Ya, orang Indonesia menurut banyak penelitian itu memang diberikan anugrah berupa suara dasar yang bagus, dan ini biasanya dikarenakan faktor fisiologis dan lingkungan. Contohnya orang-orang Batak, Manado, dan Ambon, yang dari sananya suaranya sudah indah. Korea? Udah training bertahun-tahun tetep aja suaranya pas-pasan. Okelah, ada beberapa yang suaranya memang bagus seperti 2NE1, Big Bang, 2PM, 2AM, Wonder Girls, atau Brown Eyed Girls. Tapi yang lainnya? 
Kalian yang fans-nya boyband-girlband lain boleh melempari saya pakai tomat. Tapi, cobalah kalian dengarkan baik-baik suara boyband-girlband Korea itu, terutama ketika mereka live performance. Cobalah dengarkan pakai headset, dengarkan versi mr.Removed-nya baik-baik. Tidak sekedar mendengarkan, tapi dipikir baik-baik. Atau coba bandingkan dengan boyband-girlband Indonesia masa lalu (AB Three, RSD, Trio Libel, dsb.) misalnya. Nanti akan terlihat nyata di mana letak kualitas vokal mereka. Tolong ya, masa’ sudah lypsinc saja masih tetap dibela, itu nggak realistis namanya. Kalau kalian memang suka dan sayang sama mereka, justru seharusnya kalian bisa kritis terhadap mereka. Suporter sepakbola yang dikenal anarkis itu saja masih lebih realistis. Buktinya, kalau tim kesayangannya kalah, mereka akan tetap loyal dan mendukung di satu sisi, tapi di sisi lain juga mengkritik dan memberi masukan. Saya tidak pernah mendengar suporter MU atau Barcelona, ketika timnya bermain buruk, tetap dibilang bermain bagus.


Ketiga, soal dance dan musik. Saya melihat musik Korea itu umumnya adalah remix dari R&B dan hip hop milik barat. Begitu pula dance-nya, yang memodifikasi street dance milik A.S. Sementara budaya asli mereka sendiri bersifat homogen alias cuma 1 karakter. Indonesia? Kita punya sekitar 19 macam corak musik tradisional dan tidak kurang dari 105 jenis tarian daerah. Masa’ segitu kayanya nggak dimanfaatkan?!! Terus, ngapain gunanya kita dulu ngucapin Sumpah Pemuda? Ya, Bung Karno, M.Yamin, atau Soegondo Joyopuspito pasti akan menangis prihatin melihat latahnya anak-anak muda sekarang ngikutin budaya luar. Maaf, tapi saya cuma mau mengingatkan kepada mereka yang membentuk boyband-girlband baru, bahwa kita punya gaya dan budaya sendiri yang jauh lebih kaya, indah, dan luhur. Contohnya, saya yakin, TaeYeon atau Hyorin Sistar sekalipun belum tentu bisa menyanyi dalam cengkok dangdut. Indonesia punya tembang Jawa atau musik Dayak yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari musik Rap. Jadi nggak perlulah ngikutin punya luar. Tuntutan pasar? Saya yakin, ketika kita tampil berbeda dari umum, justru itu akan menarik perhatian publik dan niscaya akan laku dijual! Apalagi kalau itu sudah membawa kebanggaan Nasional, maka pasar musik mancanegara akan tertarik. Nggak percaya? Coba aja!


Saya pernah menulis mengenai the Divers, sebuah girlband Indonesia impian saya. Kira-kira seperti itulah konsep girlband Indonesia yang seharusnya menurut saya. Cantiknya alamiah, suaranya bagus dan terlatih, serta membawa unsur-unsur budaya lokal Indonesia dalam setiap musik dan dance-nya. Ah, saya berharap ada produser yang mewujudkan khayalan itu. Atau setidaknya, biarkanlah terlebih dahulu Ayu Ting Ting masuk jadi personil SNSD. 
Ngomong-ngomong, bagi orang-orang Korea yang membaca ini, saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan negara anda. Justru sebaliknya, saya begitu mengagumi bagaimana negara anda bisa berkarya secara maksimal dengan sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, negara kami perlu banyak belajar pada negara anda terkait strategi promosi dan penguasaan pasar.